Jam biologis tubuh atau biasa disebut irama sirkadiak otak--yang mengatur segala macam reaksi kimiawi tubuh, sekresi hormon, jam tidur, hingga mengatur kapan kebelet BAB rutin harian-- ya, semua itu, punya saya, sedang kacau sekali. 

Belakangan ini sering sekali insomnia, susah sekali tidur malam karena paginya hampir selalu setelah subuh atau setelah sarapan, atau setelah mandi pagi lalu duha, pasti langsung tidur. Jika tidak, pada intinya lama waktu tidur siang saya semakin panjang. Buntutnya ada pada jam tidur malam yang semakin malam.

Belakangan banyak tugas administrasi guru yang harus saya garap hingga larut malam, administrasi semester 1 yang lewat dan semester 2 yang akan datang juga harus selesai. 

Belakangan juga karena susah tidur, jadi semakin banyak waktu berpikir di malam hari, diskusi mandiri dengan diri sendiri tentang apapun; aleppo, akhir dunia, konstelasi politik sekitar turki, nikah, kondisi negara, motif Tntuk LPDP, nikah, uang cetakan baru, Les IeLTS saya, nikah lagi, bahkan hingga fenomena TeLoLet. Intinya saya jadi semakin susah tidur memikirkan itu semua. 

Jadi saya harus memang segera nikah pada akhirnya. Pikiran itu justru yang semakin ternyata membuat saya susah tidur. Baru setelah murajaah hafalan, bisa memejamkan mata dan mengosongkan pikiran lalu tidur. 

Kemarin saya menulis tulisan untuk website anak panah institute, kemarin saya sempat beli lalu sepeeti biasa belajar otodidak tentang panahan dan jemparingan, mengajarkannya ke santri yang masih tinggal di asrama saat libur. Bahkan liburan ini saya alhamdulillah sempat mengirimkan aplikasi MEP ke 4 saya (kalau tidak salah) setelah beberapa kali ditolak/tidak lolos. 

Saya bodoh sekali baru tahu info event tahunan itu di bulan desember dekat sekali dengan deadline, harus muter kesana kemari menyiapkan hal-hal yang perlu dicantumkan, scan dan meminta rekomendasi tokoh yang paling susah. 

Cita - cita saya bisa dapat rekomendasi Buya Syafi'i Maarfi ternyata harus gagal untuk MEP ini karena ternyata seminggu sebelum deadline Buya ke Jakarta. Beberapa kali saya ke kediaman beliau, ke masjid belakang rumah beliau ternyata isya dan magjrib Buya tidak ada. Baru kemudian saya tahu Buya masih di Jakarta. Sayang sekali.

Tapi namanya perjuangan, lelah juga tidak masalah. Walaupun tidak ada remondasi dari buya, ya saya pakai yang ada saja. Saya usahakan ke ketua masjid kampus Unila dulu dan dari Madrasah, sama dari Aikuna. Saya berdoa agar usaha saya dimudahkan Allah. 

Kadang kalau sudah capek seharian beraktifitas padahal musim libur, tidak bisa liburan juga karena jadwal les IELTS sampai akhir tahun setiap sore sampai gelap, lelah, yang mengingatkan untuk semangat tinggal tulis-tulisan itu di tembok kamar. "Amat Victoria Curam-Victory loves preperation- Al Ghalabu Yuhibbul Isti'daada" atau yang saya baca belakangan "Trough pain we suffer, we become stronger" .

Yuk lah semangat. Demi cari ridho Allah, demi nikah cepet. Hahahaha. 
Dubes Inggris, Moazzam Malik Saat Berkunjung dan Menginap di Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta

Di Milad Muallimin yang hampir satu abad ini gaung yang akan diteruskan pada setiap orang yang datang adalah tentu tentang 'Muallimin Quantum Change to be Better'. Kita semua tentu telah akrab, siapapun yang milad (anniversary), pasti akan diberi selamat, kemudian diminta make a wish tentang apa yang akan dicapai di masa depan. Diberi hadiah. Baru kemudian kalau yang bersangkutan sempat ingat, merefleksi diri adalah pilihan yang bijak untuk memanfaatkan momen itu.

Namun direksi 'Muda' Muallimin tidak perlu diingatkan dulu untuk merefleksi apa yang telah dicapai sekolah ini selama 98 tahun, khususnya beberapa bulan ke belakang. Kalau ada kesempatan untuk Show off, menjadikan refleksi itu sekaligus mempertegas pencapaian, kenapa tidak. Baik, mari membahasnya perlahan-lahan.     

Belum lama ini Muallimin mulai menjajaki pelaksanaan Mubaligh Hijrah di negara-negara ASEAN lain setelah Ramadhan kemarin telah mengirimkan santri-santrinya ke negeri Jiran, Malaysia untuk berdakwah 20 hari di sana. Tidak lama berselang, kesempatan yang sama ke negara Australia juga mulai dirintis untuk kemungkinan adanya Student atau Teacher Exchange ke sekolah partner di sana.

Yang cukup hangat adalah kunjungan kenegaraan, coutessy call di bulan September lalu, 4 Anggota Parlemen dari partai oposisi terbesar di Malaysia yaitu Democratic Actioner Party (DAP) termasuk Mr. Liem Kit Siang, Dewan Eksekutif Partai DAP dan Kedatangan Dubes Inggris untuk Indonesia Moazzam Malik dan staff beserta British Council ke pesantren kita November kemarin, Sampai bahkan menginap dan membicarakan rencana kerjasama akademik antara Madrasah dengan brother/sister school di Inggris.  
Kunjungan-kunjungan tersebut punya latar belakang masing-masing, Lim Kit Siang dan staffnya datang untuk mendapatkan prespektif berbeda tentang islam di Indonesia, khususnya islam di ponpesnya Muhammadiyah. Sedangkan Dubes Inggris datang karena terkeesan dengan kegiatan Adam Aslan, Mahasiswa exchange dari Inggris yang tinggal sebulan di Muallimin, Jadi Pak Moazzam yang kebetulan juga muslim, ingin merasakan suasana pesantren juga. 

Tentunya dengan datangnya orang-orang penting ke Madrasah kita, ada buah baik yang kita harapkan, ada kesempatan 'membawa bola' perubahan (quantum change) tadi yang seharusnya direspon semua elemen di madrasah termasuk santri dan alumninya untuk sama sama meng-goal-kannya menjadi perbaikan positif untuk Muallimin (to be better).

Saya katakan, ibarat fatamorgana atau apalah, impian lompatan besar Muallimin beberapa tahun mendatang termasuk kampus Sedayu boleh dikatakan sebagai sesuatu yang hanya akan diketahui kenyataannya jika kita menyongsongnya. Ya, hanya ibarat fatamorgana yang baru akan kita tahu bukan hujan/oase penuh air jika kita benar-benar mendatanginya. Mendekat. Karena siapa tahu memang ada oasenya, toh kita tidak ada pilihan lain selain mencoba mendekati kemungkinan itu sebelum kita akhirnya kehausan, atau kehabisan tenaga menggali sumur dibawah kaki kita, lalu kalah dengan menjamurnya pesantren Muhammadiyah lainnya yang juga kompeten dalam berbagai bidang. 

Maksudnya, Muallimin sudah seharusnya semakin maju termasuk dalam hubungan internasional. Alhamdulillah belakangan saya dengar ada santri Muallimin dan beberapa Muallimat yang bisa AFS (Pertukaran Pelajar) ke Italia dan luar negeri lainnya. Zaman saya MA, siswa-siswi SMA 1 Kasihan Bantul itu sudah AFS kemana-mana termasuk Australia yang paling dekat. Artinya kita telat 7 tahun dalam menyambut hal-hal itu.

Kenapa hal ini menjadi penting? Bayangkan. Muallimin berinvestasi lalu bertekad untuk menjadikan lulusannya menjadi anak panah, dai-dai, pemimpin-pemimpin, pendidik, orang besar, yang kalibernya nasional, tapi kekeringan grassroot understanding dan wawasan internasional. Apa iya kita masih percaya impian Kyai Dahlan akan termanifestasikan kalau usaha-usahanya tidak dicapai?

Saya ambil contoh kedatangan Dubes Inggris kemarin, karena kebetulan saya ketua panitianya saya paham betul perasaan semua santri yang dilibatkan dalam penyambutan, HW, TS, fotografi bahkan santri biasa asrama 1. Setelah saya wawancarai, beberapa bahkan ada yang 'merinding-merinding' campur semburat bungah-bangga diwajahnya karena sekolahnya di kunjungi, dan mereka tampil memberi hormat, persembahan seni, yel-yel dengan tulus hati. Jarang sekali saya temui situasi semacam ini. 

Pagi hari berikutnya, karena ada ambassadorial lecture wawasan mereka terbuka tentang masyarakat internasional, persaingan global, mereka sempat bertanya tentang menangani islamophobia, kasus Ahok, bagaimana menjadi ambassador (duta) islam yang berkemajuan, bahkan tentang hal sepele meminta cerita beliau tentang bagaimana caranya menjadi dubes. 

Artinya santri-santri mendapat value, dan itu cukup penting, termasuk kesadaran akan posisi strategis sekolahnya yang diperhitungkan oleh tokoh-tokoh internasional. 

Dalam dunia pendidikan, value selalu menjadi hal yang penting ditanamkan pada peserta didik. Sikap ilmiah misalnya, keterbukaan, integritas, semangat berkerja sama, sangat di butuhkan untuk masa depan mereka, juga bagi negara, karena merekalah tulang punggung negara di masa yang akan datang. 

Mari mengambil contoh global issues; bencana alam, perubahan iklim, penyakit menular, terorisme. Semuanya tidak mengenal batas negara. Kenyataannya hingga sekarang, tidak ada satu negara pun yang bisa menyelesaikan masalahnya sendiri, masalah diatas, apalagi masalah negara lain. Bahkan Amerika sekalipun tidak mampu. Oleh sebab itulah diperlukan kerjasama antar negara. 

Untuk itu, untuk mempersiapkan diri dan menjadi warga internasional (MEA udah kecium baunya) yang baik, adik-adik kita perlu punya international mindset. Bagaimana caranya? ya pertama harus bisa komunikasi dengan bahasa internasional, Arab dan Inggris. Nah ini kita sudah usahakan. 

Kedua, mencari kesempatan untuk belajar (dalam arti luas) ke luar negeri supaya mengerti dan mencoba memahami perbedaan dan masalah yang masing-masing negara hadapi. Harapannya supaya terbangun personal atau ya, mutual understanding. Selanjutnya, mereka perlu dibekali kemampuan mencari pengetahuan, passion menuntut ilmu, hasrat membaca-nya harus kuat. Karena untuk menyelesaikan masalah, mencari solusi, tidak bisa dibeli dengan uang, apalagi dengan senjata. Untuk itu mengajari mereka menjadi bagian dari solusi adalah keharusan. 

Lebih lagi, Penting untuk mencari pendekatan yang peaceful yang mendamaikan, yang inklusif. Jadi mereka (santri) perlu punya teman yang banyak, yang beda gender, yang beda suku, yang beda agama, yang dari luar negeri, supaya koalisinya banyak, ilmunya banyak, dan kesempatan/rejekinya banyak. Termasuk kemampuan mencari persamaan yang bisa dikolaborasikan dan bisa mensupport mempertahankan 'pertemanan' itu jika terjadi masalah di masa kemudian.

Terakhir, santri perlu belajar menyadari kewajibannya menjadi muslim yang baik lewat ucapannya, tulisannya, dan punya keberpihakan positif pada agamanya. Mereka perlu belajar menjadi duta muslim yang baik. Yang penuh cinta, penuh rahmat.
Yang bisa menjelaskan isu ekstrimisme sebagai bagian dari pikiran/pemahaman yang sempit dari Islam. Yang bisa mengatakan itu (terorisme) kriminal, bukan islam. 

Belajar menjadi duta muslim yang damai dan tidak mudah gelap mata lah, tidak mudah tersulut api. Jangan sampai kemarahan mereka menjadikan mereka menutup mata dari keadilan, bahkan bagi non muslim sekalipun. 

Bukankan Sayyidina Ali pernah berperang lalu ketika duel dengan orang kafir (Amr bin Abd Wad) lantas diludahi, beliau justru tak jadi membunuhnya karena ia tak mau membunuh orang lain karena kemarahannya, bukan karena Allah SWT. 

Nilai itulah yang sangat sangat perlu terinternalisasi di kepala dan dada adik-adik santri kita di Muallimin. Oleh sebab itulah melalui tulisan ini saya pribadi mengajak teman-teman, kakak-kakak alumni yang memiliki relasi internasional mohon dihubungkan juga kepada ibu kedua kita Muallimin. 

Sebagai penutup, segala bentuk kesempatan yang memperbesar kemungkinan itu, semua akses yang dapat memperluas lengan untuk memeluk impian besar itu, akan sangat membantu adik-adik kita menjadi the next Alfian Darmawan nya Muhammadiyah, the next Buya Syafi'i-nya bangsa ini. Lalu sampai hal-hal utopis tak lagi sulit kita peluk.    


Liem Kit Siang memberi Quotes untuk santri Muallimin 
Mr. Moazzam Malik sarapan bersama santri santri di Dapur Muallimin
Penandatanganan 'sesuatu' di ruang direksi-guru baru Muallimin
Foto Bersama di depan gedung utama Muallimin
Statemen Kepuasan dubes inggris setelah menginap dan merasakan atmosfer pesantren di Muallimin




      
Iya, Bagi saya gunung ya makhluk hidup. Di tulisan saya sebelumnya tentang Mencari wahyu di gunung juga sudah sedikit saya singgung. Jadi, saya percaya bahwa gunung itu hidup dengan tidak kurang 3 alasan. 


Pertama, Gunung, pada dasarnya secara teori adalah benda mati berdasarkan ciri-ciri biologisnya. Tapi kalau kita ambil satu ciri, misalnya bergerak. It turns out kalau gunung juga ternyata bergerak. Para ahli geologi dan spatial (Wegner: 1980) telah meneliti bahwa gunung, layaknya lempengan bumi lainnya, juga bergerak dari tahun ke tahun.

Seperti kepulauan Hawaii yang karena ada lapisan yang lebih padat berada dibawah lempeng yang bergerak searah, memungkinkan terjadinnya rantai pulau hasil erupsi gunung-gunung tipe perisai disana. (Sok tahu) 

Allah dalam hal ini berfirman dalam Al-Quran 14 abad yang lalu bahwa gunung itu tidak diam, tapi berjalan!. 

"Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal dia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al Qur'an, 27:88)

Selanjutnya, kalau kita lihat sejarah dari sirah Nabawiyah kita, Rasulullah SAW pernah bersama Sayyidina Abu Bakar RA, Sayyidina Umar Al-Faruq RA, dan Sayyidina Usman bin Affan RA mendaki gunung Uhud. Setelah keempatnya berada di puncak, terasa gunung Uhud bergetar.

Rasulullah kemudiannya menghentakkan kakinya dan bersabda, "Tenanglah kamu Uhud. Di atasmu sekarang adalah Rasulullah, orang yang selalu membenarkannya (Abu Bakr), dan dua orang Syahid (Umar & Utsman)." Saat itu juga gunung Uhud berhenti bergetar. 

Dari sini, kita akan paham kalau gunung juga menanggapi rangsang. Lho kok cara berpikirnya gitu? mungkin sobat akan nge-batin demikian, tapi analoginya saja begini, manusia saja jika misalnya dicubit, harusnya respon menanggapi rangsangnya adalah teriak karena kesakitan, tapi ketika yang mencubit misalnya adalah orang yang sangat ditakutinya lalu akan ditanya sakit atau tidak maka bisa saja feedback nya tidak ada kecuali hanya diam.

Bisa saja gunung juga demikian, kenapa kita tidak bisa 'berkomunikasi' dengan gunung seperti Nabi SAW tadi? bisa jadi karena ya kita tidak seperti nabi, atau gunung nya yang tanggapan akan rangsangnya hanya diam, ngapain juga ngrespon manusia gak penting (misalnya).

Lebih lagi, gunung ternyata bisa 'beribadah' atau bertasbih mengagungkan nama Allah. Hanya kita yang kadang tidak tahu atau kurang peka akan tasbih mereka.

Dalam surah al-Anbiyaa, ayat 79, Allah menyatakan, “Dan sudah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama (Nabi) Dawud.” 


Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). dan dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS Al Hadid: 1).

Bukankah semua makhluk ditanya siapa yang bisa mengemban amanah sebagai Khalifah? gunung menjawab tidak mampu, Bumi, Langit, malaikat juga demikian. Ini kan artinya di hadapan Allah mereka ini hidup? ya kan?.

“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah (yaitu menjalankan perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan meninggalkan seluruh larangan-Nya) kepada seluruh langit dan bumi serta gunung-gunung. Maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu banyak berbuat dzalim dan amat bodoh. ” (Al-Ahzab: 72)

Kok saya jadi teringat tujuan penciptaan, 

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (QS. Adz Dzariyat: 56).

Asal kata Beribadah/menyembah akar kata bahasa arabnya bisa diartikan hamba, atau budak, benar benar patuh dengan majikannya, kalau tidak nurut ya bisa jadi kena hukuman. Poinnya, saya pikir indikator Khalaq/Makhluq adalah jika ciptaan/makhluk itu menyembah penciptanya, bukan ciri-ciri biologi seperti yang kita yakini. See?

Sebagai konklusi, misalnya kita mau paksakan dengan ciri biologis tadi, sebut saja reproduksi, gunung juga bisa beranak kan? anak krakatau contohnya, atau puncak kawah muncul di sisi gunung lain menjadi gunung baru seperti kasus banyak gunung-gunung di Indonesia. 

Bernafas, mengeluarkan zat sisa, tumbuh berkembang, masih masuk kategori ini. Mungkin tidak bisa semuanya tapi dari dalil-dalil naqli diatas kita bisa percaya kalau gunung juga hidup. jadi please jangan bilang lagi saya gila kalau sering bercakap-cakap dengan gunung.

Salam ceracau










Say..

"Iya Yang.."

Lihat kelakuan anak-anak, mereka buatkan seperti ini (tunjukkan gambar)

"Keren.."

Kalau menurutmu dari gambar di atas itu, aku termasuk lelaki bodoh itu gak Say?

"Bentar, maksudmu?"
"Oooh.. iya, bisa jadi"
"Kalau sampai akhir tahun ini kamu gak 'bilang' ke orang tua ku mau nikah kapan, ya aku siap melepas diri ke pasar bebas dong?"

Yaaah... Beneran Say?

"Ya bener"
"....."
"dih malah godain.. bener"

Tapi menurutku, kamu, kayak gitu itu menurutku fair. Maksudnya ada ultimatum, semacam peringatan yang nyemangatin, karena kadang laki-laki itu butuh diancam. Cerdas kamu Say..

"Makasih.. Terus? jadi dateng tanggal berapa biar aku bilang Papa-Mama..?"

Say, aku tu bukannya belum siap atau apa, aku cuman gak pengen keliatan bodoh di depan papa-mama kamu. Tau kan maksudku?

"Gak papa, papa-mama biasa ketemu orang bodoh. Nanti aku bantu yakinin mereka deh"

Oke deh bismillah..





(Ya.. Sobat ceracau tahu ini fiktif)

  





Komitmen saya untuk menghadirkan gambar untuk icon posting yang asli dari jepretan kamera saya

Dulu sekali waktu saya suka nulis puisi lalu mengirimkannya ke media cetak, menulis opini untuk menafkahi diri, atau menulis artikel apapun supaya terlihat keren, saya pernah bermimpi akan punya novel, punya istri penulis, lalu punya anak sastrawan.

Hingga sekarang, keinginan itu menyeruak lagi, membawa saya kembali pada lamunan: Bagaimana mau punya novel, blog sendiri saja lama tidak di update tulisannya, bagaimana mau punya istri penulis, membaca untuk menulis saja saya jarang lakukan, menulis untuk mading saja saya dinilai tidak niat, yang akhirnya tulisan itu tidak dimuat di mading sekolah.

Malu rasanya dengan adik-adik tingkat saya yang rajin menulis di blog, viewersnya banyak, analisisnya cukup tajam, diksinya keren. sama sekali bukan gambaran saya yang dulu. yang polos, yang sok puitis. silahkan boleh cek tulisan mereka di JurnalGee atau AprilPagi.

Mulai sekarang saya berniat menyederhanakan hal diatas menjadi sebuah komitmen. Membaca untuk menulis, menulis untuk menginspirasi. Karena hanya ada dua cara menjadi penulis yang hebat; memperbanyak membaca buku/bacaan berkualitas dan latihan menulis setiap hari.

Dan waktu yang kondusif biasanya kalau bagi Darwisy tere liye itu setelah subuh dan setelah maghrib. dan ternyata berlaku juga buat saya, fokusnya lebih kuat. Dan satu lagi, jangan menulis setelah makan, biasanya kalau sudah kenyang jadi goblok. Maksudnya, konsumsi oksigennya akan dialihkan ke lambung dan teman-temannya untuk proses pencernaan yang butuh cukup banyak energi ATP, jadinya otak kekurangan oksigen, gagal fokus deh. ngantuk.

Nah sekarang masuk bagian rebuttal-nya, ada tulisan-tulisan sederhana yang ditulis dengan antusiasme yang baik dari adik tingkat juga, di blog masaqin.com tentang bahasan lama. Merokok dan gengnya. Saya apresiasi untuk antusiasmenya.

Tulisan sebelumnya, masih tentang Merokok yang dia bangga sekali punya kebiasaan itu--dia sebutkan di tulisan-tulisan lainnya, --mungkin juga dia anggap keren, --walaupun dia tau bibirnya menghitam karena itu--, sudah pernah saya bahas dan jadikan diskusi searah sesaat setelah pemberian quotes ba'da maghrib tentang analogi yang salah tentang "merokok gak merokok sama-sama mati. merokok sama bahayanya dengan nasi, gula dll".

Ya saya tanggapi datar saja dengan teori toksikologi "dosis sola facit venemum" analogi sederhana kalau nasi itu tidak bisa disamakan dengan rokok, nasi ibarat pelet yang diberikan ekosistem akuarium lengkap. Sedang rokok karena undegradable, ibarat batu yang dimasukkan akuarium, lama lama merusak, penuh batu, kalau pelet kan masih bisa termakan ikan atau kotorannya tersaring aerator. tidak lupa saya selipkan jokes-jokes juga ke adek-adek yang jadi anak didik saya di pesantren.

Eh, seperti surat-suratan jaman SMA, diskusi searah tadi di balas di postingan blognya, saya tidak banyak pusing berpikir kalau sobat ceracau ada yang bertanya kenapa sibuk perlu di respon urusan kecil begitu?, yang terlintas di kepala saya hanya: satu, sebenarnya saya peduli. Dua, kalau saya bisa membantu, ya, hanya membantu, menyadarkannya untuk tidak lagi merokok karena sadar akan banyak hal negatifnya dibanding positifnya, (yang ini jelas dan undebatable). Ya kenapa tidak?.

Paling tidak besok di masa yang akan datang kalau dia sempat menyesali kenapa dulu bela-belain merokok demi motivasi yang gak jelas, dia ingat dulu pernah ada kakak tingkatnya yang ngeluangin waktu nulis buat nanggepin tulisan dia. Simple ya kan? Apa sih yang gak dilakuin buat adek sendiri. kkkkk

Di tulisan itu, kalau sobat sudah baca, dia memaparkan dampak positif rokok yang dia comot dari tulisan entah siapa, jurnal siapa, beneran dia baca apendix jurnalnya juga saya gak tahu, ya kalau main comot mah ponakan saya yang baru masuk playgroup juga bisa. Di paragraf akhir tulisannya, yang saya hanya anggap itu argumentasi dia, dia justru mempertanyakan kenapa riset atau artikel apalah tadi itu kenapa tidak dipublikasikan secara luas supaya mendukung promosi rokok? dih, dia sendiri gak yakin.

Karena memang, bisa jadi, penelitian itu kurang valid (udah cek ISSN atau nomor jurnal (kalau jurnal) belum?), atau ya, namanya penelitian di suatu tempat belum tentu berhasil sama di tempat lain, faktornya banyak, atau bisa jadi memang perusahaan rokok tidak percaya diri untuk mem-publish-nya karena takut mendapat respon dari peneliti yang penelitiannya bilang sebaliknya (rokok bahaya).

Jadi daripada kena cemoohan, mendingan stick pada bahan promosi cowok tajir banyak ceweknya atau pemuda yang hobby petualangan, atau anak motor, yang sama sekali gak ada hubungannya sama produknya. Tapi juga yang objek promosinya gak ada otak, ya gak papa lah gak ada hubungannya. Mungkin gitu.

Eee.. selanjutnya dia malah ngomongin kalau propaganda anti rokok oleh (Depkes RI, Badan POM, dan temen-temen arisannya) itu perlu dicurigai sebagai upaya mendongkrak penjualan obat-obatan dan farmasi? liyer euy? obat-obatan mah gak perlu nge-black campaign rokok juga tetep bakal laku selama manusia hidup masih bisa sakit.

Duh duh.. mencurigai juga perlu sadar pinteran siapa kan? dokter-dokter dari depkes RI atau antek perusahaan rokok?

Pertanyaan saya kenapa malah justru memaparkan hal positif tentang rokok, kenapa tidak sanggah saja analogi atau bahasan saya di diskusi searah waktu itu?  jadi kalau dalam teori debat misalnya saya ngomong A, harusnya di rebuttal jadi A- (bukan A) ini dia malah jawab B (hal lain).

Atau jangan-jangan memang sebanarnya analogi saya benar? dan dia sebenarnya juga sadar itu benar?.

Merokok beneran bisa membunuhmu lho, kalau gak sekarang ya bisa jadi besok. ngapain meningkatkan kemungkinannya dengan terus merokok sama bergaul deket2 asap rokok?. Lagian juga uang juga masih dikasih orang tua kok di bakar cuman buat rokok yang kering akan manfaat, kalau analoginya ada orang ngebakar duit bakal dibilang 'gila' kenapa bakar rokok engga dibilang gila? Kan sama aja. Lebih gila malah, asepnya di isep.
Itu idung apa kenalpot bajai? Hati-hati pilih sisi untuk di dukung/dibela, sama juga kaya hati-hati pilih teman. Ngapain capek-capek ngebela kalau tau apa yang dibela cenderung salah ketimbang abu-abu.

Yuk belajar lagi, kenali fisiologi tubuh sendiri, jangan racuni demi terlihat macho, sayangi diri, sayangi istri. Lho?.

Baca juga:
QS. Albaqarah: 195, Nonton ini, juga ini.

Salam ceracau

Hujan :

Maaf Sayang, Terlambat, akhir-akhir ini sering hujan tiba-tiba
aku kejebak hujan di jalan

"...."
"Tidak ada yang namanya kejebak hujan," "Hujan tak pernah punya niatan menipu apalagi menjebak orang"

tapi sayang, bukan...

"Memang bukan itu maksudmu, iya, definisi definitif? Memang."
"Kau kan toh bisa menembusnya, buktinya les apa itu, IELTS mu, kamu bisa bela belain kehujanan?"

Tapi sayang, kali ini aku gak bawa mantel

"Oh, seingatku kamu pernah tuh mendaki. Kehujanan. Mantelan tapi tetep basah, tetap muncak juga?"
"Kita bisa aja Say, kejebak badai di tengah laut, ombak menggila, kapal limbung, sudah 8 jam, coba sandar di pelabuhan, gak bisa juga, sampai ada pikiran kita harus lompat ke laut supaya bisa berenang ke sebrang sebelum kapal kita karam"
"Tapi kenapa kita gak pernah berani melakukannya?" 
"Karena kita gak punya cukup nyali, Takut ini-itu. Salah addressing rasa khawatir" 

Iya sayang, maaf aku salah, goblok banget tadi gak maksain nembus ujan

"....."   




(anda tau ini fiktif)

Copyright © 2012 Menceracau.com.