Di postingan ini saya harus bercerita tentang kenapa seseorang harus segera move on untuk lalu segera memenangkan harinya (seize the day)

Menurut Airlangga, teman saya, ada beberapa hakikat percintaan yang orang lain harus pahami secara dewasa. Pertama, bahwa rasa cinta secara umum adalah bersifat temporary. Sementara. Sama seperti rasa happy, sedih, termotivasi, marah, stress dan lainnya. Oleh sebab itu banyak filusuf dan pemikir menyatakan bahwa jatuh cinta adalah hal yang terdengar berbahaya karena sifatnya hanya temporal, maka jalan yang paling baik adalah membangun cinta.

Adalah Mandy Len Catron seorang ilmuan yang mengirimkan artikelnya di New York Times dengan judul "Falling in Love is the Easy Part". dalam penelitiannya dia mempertemukan beberapa pasang orang asing di dalam lab, laki dan wanita untuk duduk berhadapan dan saling menjawab 36 pertanyaan dari penelitian sebelumnya oleh Dr. Aron (1988) dan setelahnya saling bertatap mata selama empat menit.

Hasilnya ada yang unik, satu pasangan setalah tepat enam bulan penelitian, mereka mengikat janji pernikahan. Lalu sejak saat itu dia mulai diundang berbicara di berbagai media, salah satunya termasuk di TED Talk. Bahkan dia dan partner penelitinya menerapkan hal yang sama pada diri mereka sendiri dan akhirnya juga sampai sekarang masih bersama. Kok bisa? 

Saya sih tidak heran mengingat memang sangat mudah menaruh perasaan pada orang lain. Kata orang, pria hanya butuh 4 detik untuk jatuh cinta, tentu berbeda dengan perempuan. Tapi lebih penting dari itu, kita perlu menjawab pertanyaan "Apa yang sebenarnya orang inginkan dalam hubungan percintaan?"

Tolong izinkan saya menjawabnya dengan pernyataan bahwa pada umumnya orang ingin dicintai karena berharap mendapatkan jaminan (guarantee). Jaminan untuk dicintai pasangannya hari ini. Esok hari dan seterusnya dengan rasa cinta yang tak terbatas. Untuk itulah dia berharap cinta yang dia berikan berbalas. Jangan lupakan sifat turunan lainnya dari cinta bahwa mereka; ingin dilihat, ingin dimengerti, ingin dipahami, dan ingin diperhatikan. 

Tapi memang fall in love (jatuh cinta) berbeda dengan stay in love (tetap dalam cinta) karena jatuh cinta adalah bagian yang mudah, yang sulit adalah tetap mencintai meskipun kondisinya berat dan sulit. Bagaimana kita tetap mencinta ketika kita mulai ragu dengan sifat & sikap pasangan kita, atau sebaliknya, bagaimana kita hidup dengan keraguan pasangan tentang diri kita, atau bahkan ketika harus mulai memilih, apa yang membuat kita pada akhirnya memutuskan bertahan atau cut loose dengan pasangan kita. Ini tentu level kasus yang berbeda.

Okay, enough with the theory..Izinkan saya mulai masuk pada bagian utama dari permulaan tulisan di atas. Anda harus mulai sadar bahwa terkadang memang anda tidak perlu melanjutkan untuk memperjuangkan orang yang anda persue (kejar). Orang yang anda cinta. 


Sudahlah. Bergerak dan cari yang lain. Ya.. sesederhana itu. Kalau yang anda kejar adalah perempuan, maka bolehkah saya memberi saran dan fakta-fakta?. Perempuan jika memang tidak suka pada orang yang mendekatinya dia akan "bilang". Dengan cara halus atau terang-terangan. Anda harus jeli melihat tanda itu. Kalaupun anda tidak bisa jeli, maka tanyakanlah secara terang-terangan. Jangan dibuat terlalu sulit dengan terlalu mellow sambil dengerin lagu-lagu yang anda sesuaikan dengan suasana hati dan kondisi percintaan anda lalu berharap orang yang anda suka tahu dan paham. Jangan!

Ada banyak ikan di lautan. There are plenty of fish in the ocean. Anda tidak boleh berlaku tidak adil dengan gadis atau kesempatan lain yang datang. Siapa yang tau jika itu memang cara Allah untuk menunjukkan pada anda bahwa sebenarnya anda berhak mandapat seseorang yang lebih baik?    

***
Dalam masa menunggu atau sudah digantungkan atau bahkan sudah ditolak,

Anda akan mulai berpikir sebenarnya apa yang salah dengan cara anda?. Oke soal yang ini bisa lain bahasannya. Tapi jika memang anda sudah melakukannya dengan cara yang anda anggap "benar" dan baik, saya pikir itu soal keyakinan. Yakin aja pasti akan ada yang suka dan cocok dengan cara approach anda. 

Mulai juga muncul pertanyaan di benak anda "Apakah saya kurang di sisi ini dan ini ya?", "Apa saya kurang humoris?" "Jangan-jangan saya terlalu serius dan agresif?". Sudah.. buang saja semua pikiran itu. Perempuan memang berbeda-beda seleranya. Sama seperti kadang orang sangat suka buah Durian, tapi ada yang bencinya minta ampun sampai nyium baunya saja bisa muntah. Rasa suka yang jadi level paling bawah dari rasa cinta juga begitu. Hanya soal SELERA. 

Kalau anda pikir semua perempuan suka pria yang humoris, jawabannya jelas tidak. Ada orang yang memang tidak cari yang humoris, yang justru pendiam dan tidak banyak bicara malah jadi kesukaannya. Karena baginya, yang pendiam itu yang misterius dan bikin penasaran. Ngangenin

Ada orang yang memang tidak cari yang ganteng/cantik, karena berbagai alasan, jadi hanya cari yang pasaran, yang ya.. biasa saja. Semua itu dalam rangka mencari ketenangan. Kenyamanan. Sensasi dari pengaruh kerja otak anda supaya tetap survive (versi teori perilaku hewan).

Bahkan, jika anda berfikir sudah lumayan, mendekati sempurna malah; goodlooking, tinggi, bisa masak, rajin, macho, mandiri, doyan olahraga, terkenal, prestatif, dll. Anda harus mulai pahami memang ada perempuan yang ndaa nyari yang sempurna, khawatir dia nanti tidak kebagian peran, khawatir jadi malah tidak percaya diri dan lain sebagainya. 

Jadi sudahlah, orang itu mencintai bukan karena cinta lah yang menganugerahkan perasaan itu padanya. Tapi dialah yang memilih untuk mulai mencintai. Ingat bahwa mencintai itu mudah dan hanya butuh waktu yang singkat, tapi butuh waktu seumur hidup untuk membuktikannya. 

Jadi kalau anda ditolak kemudian bingung harus "buka alas" baru untuk move on dan cari pasangan lain, maka lakukanlah! Tidak perlu ragu, ikhlaskan saja.. kalau memang yang dia yang telah menolak anda adalah jodoh anda, maka dia akan kembali dengan mekanisme yang bikin anda kaget. Love will find the way. Cinta akan cari jalannya sendiri. 

Jangan lupa Allah lah yang membolak-balikkan hati. Maka mudah saja bagiNya kalau memang itu kehendaknya. Saran saya dekatilah pemilik hatinya. Bernegosiasilah.

***

Selesaikanlah urusan dengan diri anda terlebih dahulu. Dengan begitu anda akan siap dengan apapun figur orang yang masuk kedalam kehidupan anda. Apapun karakter dan bentukannya. Kalau iya pemarah, maka anda bisa ngademin, kalau ia terlalu pendiam, anda bisa menerimanya dan meramaikan, dan kalau ia ternyata cerewet anda bisa bersabar. Karena nggak akan ada orang yang sempurna kok. Mau ditunggu sampai kapanpun tidak akan ada.
Maka dengan begitu kita akan bisa lebih tenang dan bijak menyikapi urusan cinta yang kadang dibuat rumit padahal kenyataannya tidak juga. 


"Love did not happen to us, we're in love because we made the choice to be"

20-26 Oktober 2017
Fauzisar el Lambunjiy


Selamat datang!! 

Saya Ave, penulis amatir yang mengampu web-blog menceracau.com ini. Kenapa dinamakan demikian? Karena saya punya kenangan baik dengan maknanya. Saya menghayati dan menyukainya. Menurut KBBI asal kata dasarnya dari 'ceracau' (ce.ra.cau), maknanya berkata tidak keruan spt orang tidak sadar (tidur, gila, dsb); mengigau, mengaco-belo. 


Saya menulis karena memang senang ngobrol dengan diri sendiri maupun orang lain. Saya ingin hidup lebih lama dengan tulisan saya. Saya juga berharap bisa menjadi lebih sehat dengan usaha ini. Di samping memang apa yang saya akan lakukan, seringkali harus saya bicarakan dengan dialog-dialog kecil dengan diri sendiri. Dialog itu saya biasanya post di sini, sesudahnya. 

Kalimat motto kami semenjak saya membuka blog ini memang sudah "Saatnya melakukan apa yang telah lama hanya dibicarakan", namun semenjak crash pada bulan Agustus yang lalu (2017), saya harus mengganti designnya, akhirnya kalimat itu sudah tidak nongkrong lagi di head-banner kami.

Saya sekarang sedang menjadi pendidik full-time. Literally full-time karena memang tinggal di asrama pesantren modern di jantung kota Jogja. Saya diamanahkan menjadi wali santri yang mengajar Al-Quran, tajwid, tahfidz, dan karakter 172 santri di Asrama ke-10. Selain sebagai sampingannya saya juga mengajar Biologi di Aliyah. 


Traveling adalah passion saya sejak kecil. Khususnya naik motor. Zaman kanak-kanak dulu, belum lulus SD saya sudah bisa kabur dengan motor Vespa bapak saya, bonceng tiga dengan kawan sepermainan yang saya hasut untuk kabur cari senapan angin di kota sebelah. Karena takut dicegat polisi, kami ambil jalan becek di samping irigasi sawah. Berkali-kali motor mogok, dimiringkan, diengkol, hidup lagi. Kami tidak pernah kapok.


Naik motor saya paling jauh selain dari Lampung-Jakarta, saya pernah touring sendirian dari Jogja-Malang-Kawah Ijen-Bali-Mataram, NTB-Gn. Rinjani (PP). Saya memang suka mendaki. Freediving dan sedikit fotografi. Olahraga saya hampir suka semua walaupun tidak mahir di sebagian banyak diantaranya.


Salam kenal dan salam ceracau!       
Ust. Ridwan Hamidi, Lc. di antara santri kelas 6 Muallimin


Rabu, 11 Oktober 2017 : 02.30 AM

Halo! Sekarang pukul 2.30 AM dan saya udah nggak bisa jatuh tertidur lagi. Setelah tadi jam yaa.. Jam delapan-ish tidur lebih awal, bangun sekitar jam 01.00 an. Wudhu, Sikat gigi, cuci muka terus witir, kelarnya udah banyak mikir dan ngebayangin banyak hal. Otak udah penuh tuh ama pikiran-pikiran. Udah nggak bisa lagi diistirahatkan.

Nah, Satu yang bikin kepikiran itu nasihatnya Ust. Ridwan Hamidi, Lc. Ustad kondang, alumni Muallimin juga,yang tadi maghrib menyempatkan diri mampir sebentar dari jeda maghrib sampai isya untuk ngasih nasihat ke adik-adik kelas 6 aliyah di asrama 10. Padahal lepas Isya beliau harus sudah ke airport lagi untuk agenda besok ngisi di Jakarta dari pagi sampai sore bareng dengan ustad-ustad kenamaan lainnya kaya Ust. Bachtiar Nasir dkk untuk presentasi paper atau lainnya. Maghribnya lagi (besok) harus sudah ngisi di Jogja lagi. jadi begitu turun di airport Jogja, langsung cus ke Masjid yang di tuju (gua lupa nama masjidnya apa, tadi soalnya cuma ngobrol sebentar). Oke, intinya beliau sibuk banget. Nggak tau lagi deh gimana beliau bisa jaga kesehatannya dengan agenda se-padat itu.

Beliau intinya diminta oleh pamong asrama, atasan kami, musyrif di asrama, ustad Anton, untuk memberikan motivasi ke adik-adik untuk giat belajar karena sudah kelas 3 SMA (kami nyebutnya kelas 6 karena lanjut hitungannya dari kelas 1 SMP). Bentar lagi kuliah. Harus lulus UN dan ujian masuk ke Perguruan Tinggi. 

Ustad Ridwan menyampaikan bahwa ulama-ulama salaf (yang terdahulu) itu etos menuntut ilmunya luar biasa. Sebut saja Imam Nawawi yang dalam sehari menghadiri 12 majelis ilmu yang berbeda, di tempat yang berbeda-beda pula. Tidak mau terlambat dari satu tempat ke tempat lainnya hingga harus berjalan hingga berlari. 

Dikisahkan pula ada 3 orang imam yang tinggal dalam satu rumah sewaan saat menuntut ilmu. Kalau sekarang beliau ibaratkan sebagai rumah kos, salah satunya adalah figur imam terkenal (saya lupa namanya, lagi) karena sudah lama nggak makan ikan, maka paginya selesai menghadiri suatu majelis ilmu, Ia mampir ke pasar untuk membeli ikan. Benar saja begitu sampai di rumahnya, Ia harus segera mengejar majelis lainnya untuk dihadiri, entah kapasitasnya sebagaipemateri atau lainnya. Hari berganti dan rutinitasnya juga kembali demikian, menuntut ilmu keluar rumah. Hari berikutnya juga demikian, hingga akhirnya ikan itu dimakan seadanya. Artinya orang yang serius jihad fii sabilillah dalam menuntut ilmu itu, masak saja bahkan tidak sempat. padahal ada 3 orang lho dalam satu rumah itu. Coba kita bayangkan.

Di satu sisi yang lain beliau kaitkan dengan kondisi perantau dan pencari ilmu kita (mahasiswa, dll) di dalam negeri atau di luar negeri, yang sampai bisa masak makanan macam-macam, hangout nongkrong sana-sini. Beliau pikir, kapan belajarnya? Alangkah banyak waktu senggangnya?. Alangkah banyak waktu yang harusnya bisa dialokasikan untuk menuntut ilmu tambahan ya? buakankah pak BJ. Habibie juga bahkan tidur saja di meja belajarnya. sempat hanya tidur 2-3 jam di malam hari. Amin Rais, Buya Syafi'i Maarif yang rutinitas bacanya 18 jam lho sehari.



Dari khazanah yang beliau sampaikan tadi setidaknya saya bisa melihat 3 ciri atau karakter seorang thaalibul ilmi (Penuntut Ilmu) yang bersungguh-sungguh dalam upayanya: 
1. Waktu tidurnya kurang 
2. Tidak banyak mengeluh 
3. Jarang makan enak  

lebih lanjut ust Ridwan menjelaskan bahwa Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyah pernah berwasiat bahwa sebenarnya jika kita sudah memiliki karakter-karakter baik dari ciri penuntut ilmu yang kamil (sempurna); cerdas, rajin, tekun, teliti, pekerja keras, punya curiosity yang tinggi, walau bagaimanapun, ilmu yang akan didapat hanya sebagian. Nggak bulat sempurna. Nah, bayangkan kalau kita sudah tidak cukup cerdas, masih malas, kurang tiliti, bukan petarung-pekerja keras, maka mau hanya se-per berapa bagian ilmu yang akan kita dapat?
   
Jadi mari kita renungkan bersama. Berapa banyak jumlah menit yang kita habiskan dalam belajar? Berapa banyak waktu tidur kita? Berapa banyak sudah kita alokasikan waktu untuk berdoa supaya sebagian kecil ilmu yang kita dapat itu menjadi barokah dan bermanfaat bagi sesama? Sudahkah kita cukup bekerja keras? Cukup 'sengsara' sebagaimana kuatnya etos belajar ulama-ulama salaf (terdahulu) yang bahkan hanya sekali membaca 100 hadist (Bukhari), 40 hadist (Muslim), bisa langsung hafal?. 

Bahkan masih banyak ulama lain yang di zaman ini lho (kebanyakan ulama dari Syinkith, Mauritania-Afrika) yang hafalannya luar biasa. Seluruh dunia mengakuinya. Google saja kalau ndak percaya. Itupun ilmunya masih sebagian. Lha apakabar kita? Masih bisa sombong kah kita ini? 

Salam ceracau!      































Jogja belakangan kerap dicelup hujan
Basah mendadak

Ya.. hujan tidak perlu peduli agenda manusia
Perasaannya, keluh kesah di harinya
Buat apa? Ia sudah mengatongi perintah
Kalau harus turun ya sudah..
turun saja

Langit kelabu jamak dengan mendung
Membuatku banyak terduduk merenung
Kebanyakan memang tentang masa depan
Tentu saja sisanya tentang cinta dan kekaguman

Bagiku berasmara berarti siap kecewa
berhasrat harus rela melarat
bercinta berarti juga sudi untuk berduka dan merana
Persis sebagaimana siapnya Majnun
dipisah dengan Laila

Perkara kecewa karena mencinta 
tak ubahnya ibarat hujan
Sama. Serupa. Sebangun.

Hujan, tergantung siapa yang menanggapinya,
Musibah atau anugrah
Bagaimanapun akan tetap turun hingga Tuhan memintanya untuk tidak

Gunakan payung atau kehujanan sekalian 
tidak perlu menunggu hujan mereda
Buat apa?
hujan tidak pernah punya niatan menjebak anda


Beranjaklah..
buatlah hujan menjadi pembasuh duka
Sembelihlah perasaan tidak perlu itu dengan deras tetesnya
setelahnya anda hanya perlu mandi kan?


Teroboslah..
bahkan jika cinta sedang bersama anda
Bukankah hujan-hujanan dengannya adalah hal yang romantis untuk dilakukan? 

Yogya, 8 Oktober 2017
Ave S. Fauzisar
"Shit happens, just flush it and move on!"

Jam biologis tubuh atau biasa disebut irama sirkadiak otak--yang mengatur segala macam reaksi kimiawi tubuh, sekresi hormon, jam tidur, hingga mengatur kapan kebelet BAB rutin harian-- ya, semua itu, punya saya, sedang kacau sekali. 

Belakangan ini sering sekali insomnia, susah sekali tidur malam karena paginya hampir selalu setelah subuh atau setelah sarapan, atau setelah mandi pagi lalu duha, pasti langsung tidur. Jika tidak, pada intinya lama waktu tidur siang saya semakin panjang. Buntutnya ada pada jam tidur malam yang semakin malam.

Belakangan banyak tugas administrasi guru yang harus saya garap hingga larut malam, administrasi semester 1 yang lewat dan semester 2 yang akan datang juga harus selesai. 

Belakangan juga karena susah tidur, jadi semakin banyak waktu berpikir di malam hari, diskusi mandiri dengan diri sendiri tentang apapun; aleppo, akhir dunia, konstelasi politik sekitar turki, nikah, kondisi negara, motif Tntuk LPDP, nikah, uang cetakan baru, Les IeLTS saya, nikah lagi, bahkan hingga fenomena TeLoLet. Intinya saya jadi semakin susah tidur memikirkan itu semua. 

Jadi saya harus memang segera nikah pada akhirnya. Pikiran itu justru yang semakin ternyata membuat saya susah tidur. Baru setelah murajaah hafalan, bisa memejamkan mata dan mengosongkan pikiran lalu tidur. 

Kemarin saya menulis tulisan untuk website anak panah institute, kemarin saya sempat beli lalu sepeeti biasa belajar otodidak tentang panahan dan jemparingan, mengajarkannya ke santri yang masih tinggal di asrama saat libur. Bahkan liburan ini saya alhamdulillah sempat mengirimkan aplikasi MEP ke 4 saya (kalau tidak salah) setelah beberapa kali ditolak/tidak lolos. 

Saya bodoh sekali baru tahu info event tahunan itu di bulan desember dekat sekali dengan deadline, harus muter kesana kemari menyiapkan hal-hal yang perlu dicantumkan, scan dan meminta rekomendasi tokoh yang paling susah. 

Cita - cita saya bisa dapat rekomendasi Buya Syafi'i Maarfi ternyata harus gagal untuk MEP ini karena ternyata seminggu sebelum deadline Buya ke Jakarta. Beberapa kali saya ke kediaman beliau, ke masjid belakang rumah beliau ternyata isya dan magjrib Buya tidak ada. Baru kemudian saya tahu Buya masih di Jakarta. Sayang sekali.

Tapi namanya perjuangan, lelah juga tidak masalah. Walaupun tidak ada remondasi dari buya, ya saya pakai yang ada saja. Saya usahakan ke ketua masjid kampus Unila dulu dan dari Madrasah, sama dari Aikuna. Saya berdoa agar usaha saya dimudahkan Allah. 

Kadang kalau sudah capek seharian beraktifitas padahal musim libur, tidak bisa liburan juga karena jadwal les IELTS sampai akhir tahun setiap sore sampai gelap, lelah, yang mengingatkan untuk semangat tinggal tulis-tulisan itu di tembok kamar. "Amat Victoria Curam-Victory loves preperation- Al Ghalabu Yuhibbul Isti'daada" atau yang saya baca belakangan "Trough pain we suffer, we become stronger" .

Yuk lah semangat. Demi cari ridho Allah, demi nikah cepet. Hahahaha. 
Dubes Inggris, Moazzam Malik Saat Berkunjung dan Menginap di Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta

Di Milad Muallimin yang hampir satu abad ini gaung yang akan diteruskan pada setiap orang yang datang adalah tentu tentang 'Muallimin Quantum Change to be Better'. Kita semua tentu telah akrab, siapapun yang milad (anniversary), pasti akan diberi selamat, kemudian diminta make a wish tentang apa yang akan dicapai di masa depan. Diberi hadiah. Baru kemudian kalau yang bersangkutan sempat ingat, merefleksi diri adalah pilihan yang bijak untuk memanfaatkan momen itu.

Namun direksi 'Muda' Muallimin tidak perlu diingatkan dulu untuk merefleksi apa yang telah dicapai sekolah ini selama 98 tahun, khususnya beberapa bulan ke belakang. Kalau ada kesempatan untuk Show off, menjadikan refleksi itu sekaligus mempertegas pencapaian, kenapa tidak. Baik, mari membahasnya perlahan-lahan.     

Belum lama ini Muallimin mulai menjajaki pelaksanaan Mubaligh Hijrah di negara-negara ASEAN lain setelah Ramadhan kemarin telah mengirimkan santri-santrinya ke negeri Jiran, Malaysia untuk berdakwah 20 hari di sana. Tidak lama berselang, kesempatan yang sama ke negara Australia juga mulai dirintis untuk kemungkinan adanya Student atau Teacher Exchange ke sekolah partner di sana.

Yang cukup hangat adalah kunjungan kenegaraan, coutessy call di bulan September lalu, 4 Anggota Parlemen dari partai oposisi terbesar di Malaysia yaitu Democratic Actioner Party (DAP) termasuk Mr. Liem Kit Siang, Dewan Eksekutif Partai DAP dan Kedatangan Dubes Inggris untuk Indonesia Moazzam Malik dan staff beserta British Council ke pesantren kita November kemarin, Sampai bahkan menginap dan membicarakan rencana kerjasama akademik antara Madrasah dengan brother/sister school di Inggris.  
Kunjungan-kunjungan tersebut punya latar belakang masing-masing, Lim Kit Siang dan staffnya datang untuk mendapatkan prespektif berbeda tentang islam di Indonesia, khususnya islam di ponpesnya Muhammadiyah. Sedangkan Dubes Inggris datang karena terkeesan dengan kegiatan Adam Aslan, Mahasiswa exchange dari Inggris yang tinggal sebulan di Muallimin, Jadi Pak Moazzam yang kebetulan juga muslim, ingin merasakan suasana pesantren juga. 

Tentunya dengan datangnya orang-orang penting ke Madrasah kita, ada buah baik yang kita harapkan, ada kesempatan 'membawa bola' perubahan (quantum change) tadi yang seharusnya direspon semua elemen di madrasah termasuk santri dan alumninya untuk sama sama meng-goal-kannya menjadi perbaikan positif untuk Muallimin (to be better).

Saya katakan, ibarat fatamorgana atau apalah, impian lompatan besar Muallimin beberapa tahun mendatang termasuk kampus Sedayu boleh dikatakan sebagai sesuatu yang hanya akan diketahui kenyataannya jika kita menyongsongnya. Ya, hanya ibarat fatamorgana yang baru akan kita tahu bukan hujan/oase penuh air jika kita benar-benar mendatanginya. Mendekat. Karena siapa tahu memang ada oasenya, toh kita tidak ada pilihan lain selain mencoba mendekati kemungkinan itu sebelum kita akhirnya kehausan, atau kehabisan tenaga menggali sumur dibawah kaki kita, lalu kalah dengan menjamurnya pesantren Muhammadiyah lainnya yang juga kompeten dalam berbagai bidang. 

Maksudnya, Muallimin sudah seharusnya semakin maju termasuk dalam hubungan internasional. Alhamdulillah belakangan saya dengar ada santri Muallimin dan beberapa Muallimat yang bisa AFS (Pertukaran Pelajar) ke Italia dan luar negeri lainnya. Zaman saya MA, siswa-siswi SMA 1 Kasihan Bantul itu sudah AFS kemana-mana termasuk Australia yang paling dekat. Artinya kita telat 7 tahun dalam menyambut hal-hal itu.

Kenapa hal ini menjadi penting? Bayangkan. Muallimin berinvestasi lalu bertekad untuk menjadikan lulusannya menjadi anak panah, dai-dai, pemimpin-pemimpin, pendidik, orang besar, yang kalibernya nasional, tapi kekeringan grassroot understanding dan wawasan internasional. Apa iya kita masih percaya impian Kyai Dahlan akan termanifestasikan kalau usaha-usahanya tidak dicapai?

Saya ambil contoh kedatangan Dubes Inggris kemarin, karena kebetulan saya ketua panitianya saya paham betul perasaan semua santri yang dilibatkan dalam penyambutan, HW, TS, fotografi bahkan santri biasa asrama 1. Setelah saya wawancarai, beberapa bahkan ada yang 'merinding-merinding' campur semburat bungah-bangga diwajahnya karena sekolahnya di kunjungi, dan mereka tampil memberi hormat, persembahan seni, yel-yel dengan tulus hati. Jarang sekali saya temui situasi semacam ini. 

Pagi hari berikutnya, karena ada ambassadorial lecture wawasan mereka terbuka tentang masyarakat internasional, persaingan global, mereka sempat bertanya tentang menangani islamophobia, kasus Ahok, bagaimana menjadi ambassador (duta) islam yang berkemajuan, bahkan tentang hal sepele meminta cerita beliau tentang bagaimana caranya menjadi dubes. 

Artinya santri-santri mendapat value, dan itu cukup penting, termasuk kesadaran akan posisi strategis sekolahnya yang diperhitungkan oleh tokoh-tokoh internasional. 

Dalam dunia pendidikan, value selalu menjadi hal yang penting ditanamkan pada peserta didik. Sikap ilmiah misalnya, keterbukaan, integritas, semangat berkerja sama, sangat di butuhkan untuk masa depan mereka, juga bagi negara, karena merekalah tulang punggung negara di masa yang akan datang. 

Mari mengambil contoh global issues; bencana alam, perubahan iklim, penyakit menular, terorisme. Semuanya tidak mengenal batas negara. Kenyataannya hingga sekarang, tidak ada satu negara pun yang bisa menyelesaikan masalahnya sendiri, masalah diatas, apalagi masalah negara lain. Bahkan Amerika sekalipun tidak mampu. Oleh sebab itulah diperlukan kerjasama antar negara. 

Untuk itu, untuk mempersiapkan diri dan menjadi warga internasional (MEA udah kecium baunya) yang baik, adik-adik kita perlu punya international mindset. Bagaimana caranya? ya pertama harus bisa komunikasi dengan bahasa internasional, Arab dan Inggris. Nah ini kita sudah usahakan. 

Kedua, mencari kesempatan untuk belajar (dalam arti luas) ke luar negeri supaya mengerti dan mencoba memahami perbedaan dan masalah yang masing-masing negara hadapi. Harapannya supaya terbangun personal atau ya, mutual understanding. Selanjutnya, mereka perlu dibekali kemampuan mencari pengetahuan, passion menuntut ilmu, hasrat membaca-nya harus kuat. Karena untuk menyelesaikan masalah, mencari solusi, tidak bisa dibeli dengan uang, apalagi dengan senjata. Untuk itu mengajari mereka menjadi bagian dari solusi adalah keharusan. 

Lebih lagi, Penting untuk mencari pendekatan yang peaceful yang mendamaikan, yang inklusif. Jadi mereka (santri) perlu punya teman yang banyak, yang beda gender, yang beda suku, yang beda agama, yang dari luar negeri, supaya koalisinya banyak, ilmunya banyak, dan kesempatan/rejekinya banyak. Termasuk kemampuan mencari persamaan yang bisa dikolaborasikan dan bisa mensupport mempertahankan 'pertemanan' itu jika terjadi masalah di masa kemudian.

Terakhir, santri perlu belajar menyadari kewajibannya menjadi muslim yang baik lewat ucapannya, tulisannya, dan punya keberpihakan positif pada agamanya. Mereka perlu belajar menjadi duta muslim yang baik. Yang penuh cinta, penuh rahmat.
Yang bisa menjelaskan isu ekstrimisme sebagai bagian dari pikiran/pemahaman yang sempit dari Islam. Yang bisa mengatakan itu (terorisme) kriminal, bukan islam. 

Belajar menjadi duta muslim yang damai dan tidak mudah gelap mata lah, tidak mudah tersulut api. Jangan sampai kemarahan mereka menjadikan mereka menutup mata dari keadilan, bahkan bagi non muslim sekalipun. 

Bukankan Sayyidina Ali pernah berperang lalu ketika duel dengan orang kafir (Amr bin Abd Wad) lantas diludahi, beliau justru tak jadi membunuhnya karena ia tak mau membunuh orang lain karena kemarahannya, bukan karena Allah SWT. 

Nilai itulah yang sangat sangat perlu terinternalisasi di kepala dan dada adik-adik santri kita di Muallimin. Oleh sebab itulah melalui tulisan ini saya pribadi mengajak teman-teman, kakak-kakak alumni yang memiliki relasi internasional mohon dihubungkan juga kepada ibu kedua kita Muallimin. 

Sebagai penutup, segala bentuk kesempatan yang memperbesar kemungkinan itu, semua akses yang dapat memperluas lengan untuk memeluk impian besar itu, akan sangat membantu adik-adik kita menjadi the next Alfian Darmawan nya Muhammadiyah, the next Buya Syafi'i-nya bangsa ini. Lalu sampai hal-hal utopis tak lagi sulit kita peluk.    


Liem Kit Siang memberi Quotes untuk santri Muallimin 
Mr. Moazzam Malik sarapan bersama santri santri di Dapur Muallimin
Penandatanganan 'sesuatu' di ruang direksi-guru baru Muallimin
Foto Bersama di depan gedung utama Muallimin
Statemen Kepuasan dubes inggris setelah menginap dan merasakan atmosfer pesantren di Muallimin




      
Copyright © 2012 Menceracau.com.