Lampu lalu lintas dan Gunanya

Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh.

Salam Lunas..
Saya lagi banyak hutang nih.. Jadi salamnya yang positif. Buat saya lah minimal.. :D

Saya kali ini akan membahasa tentang fungsi lampu lalu lintas. Banyak diantara kita tahu persis apa fungsi lampu lalu lintas itu, tapi ada beberapa di antara kita yang kurang paham bagaimana mentaatinya. Nah, ini yang justru menjadi bahaya, Kenapa? Kita tahu sebuah aturan dibuat untuk ditaati tetapi kita bersi-keras melanggarnya dengan berbagai alasan, entah karena menganggap yang demikian itu sudah biasa ataupun yang lainnya.

Anggapan yang demikian itu justru yang menjadi bahan pemikiran kita kaum intelektual, kadang saya justu menemukan banyak pelanggar lampu lalu lintas sendiri dari kalangan yang ber-almamater dengan bendera merah putih di lengan sebelah kanan. Apalagi ada logo Badan Eksekutif Mahasiswanya. Nah ini yang perlu disayangkan sebenarnya, kadang ketika si X nih, misalnya di lampu lalu lintas depan kampusnya, menerobos lampu lalu lintas, lalu setelah hijau saya mengejarnya (tentu saja, dengan ngebut cerdas gaya saya) yang saya dapati justru si X ini santai-santai saja, tidak dalam keadaan terburu-buru, artinya ini memang sudah menjadi attitude, (sikap) yang cukup bahaya karena susah dihilangkan.

Maksud saya susah dihilangkan di sini kalau saya yang menegurnya, lain mungkin kalau ibu atau bapaknya (semoga). Artinya, sudah tidak terburu buru, tidak ada excusses, masih saja nglanggar kan, pikir saya. kenapa gak ikut cara saya aja sih, tunggu dulu lampu hijaunya nyala kek, baru ngebut. Daripada nglanggar lalu lintas, membahayakan diri sendiri dan ngajarin orang gak baik. Loh iya.. Inilah justru yang lebih bahaya, sikap salah orang lain kemudian diakulturasikan sedemikian rupa menjadi pelanggaran lalu lintas yang dianggap hal yang “tidak salah” alias biasa saja.
Jadi orang ikut ikutan tidak segan melakukannya. Ya.. Ibarat padi yang digiling, padi bisa terkelupas dari kulitnya karena gesekan dengan padi lain. Bukan karena tumbukannya, atau gilingannya, atau pemukulnya.

Sama halnya dengan berbuat baik juga kadang orang termotivasi melakukannya karena orang lain menginspirasinya melakukan hal baik. Begitu juga sebaliknya. 
Jadi kembali lagi pada si X tadi, dosanya bukan selesai di melanggar lampu lalu lintasnya, tapi juga pada siapa yang terinspirasi melakukan hal serupa akibat “pencontohan” yang dilakukannya (si X tadi). Bahaya ya?

Beberapa situs melansir bahwa kecelakaan lalu lintas di indonesia sendiri menjadi pembunuh ke 3 terbesar setelah penyakit jantung koroner dan TBC. Berikut kutipannya :
“Dalam dua tahun terakhir ini, kecelakaan lalu lintas di Indonesia oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) dinilai menjadi pembunuh terbesar ketiga, di bawah penyakit jantung koroner dan tuberculosis/TBC. Data WHO tahun 2011 menyebutkan, sebanyak 67 persen korban kecelakaan lalu lintas berada pada usia produktif , yakni 22 – 50 tahun. Terdapat  sekitar 400.000 korban di bawah usia 25 tahun yang meninggal di jalan raya, dengan rata-rata angka kematian 1.000 anak-anak dan remaja setiap harinya. Bahkan, kecelakaan lalu lintas menjadi penyebab utama kematian anak-anak di dunia, dengan rentang usia 10-24 tahun.”

  ---https://touch.facebook.com/note.php?note_id=562575993766356&_mn_=10

Atau seperti yang dilansir harian PelitaOnline.com, untuk menambah wawasan kita :
JUMLAH korban kecelakaan lalu-lintas di Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat. Menurut pihak Polri,  pada tahun 2012 jumlah korban  meninggal dunia akibat kecelakaan lalu-lintas di Indonesia  sebanyak 29.544 orang atau setiap bulan sebanyak 2.462 orang, setiap hari 81 orang, dan setiap jam korban meninggal dunia sebanyak  tiga orang.”

 - See more at: http://harian-pelita.pelitaonline.com/cetak/2013/07/21/penting-ketaatan-dan-kesadaran-berlalu-lintas#.Uo8-DXB_BJ0

Tentu saja fakta di atas perlu kita renungkan. Dan juga kita berusaha menghindari mara bahaya dengan mentaati aturan lalu lintas. Orang yang berhati-hati saja belum tentu selamat, apalagi yang ugal-ugalan dan maen trobos lampu lalu lintas.

Saya jadi teringat kecelakaan di Jalan Raya Natar kemarin, (jumat, 15/11/13). Seorang Ibu nahas dan anaknya yang selamat, sementara duduk termangu melihat kaki ibunya yang telah terpisah dari badannya dengan usus terburai. Kalau kita pikir-pikir ngeri juga kan?. Bayangan saya adalah jika saya meninggal di posisi itu; meninggal dengan mengenaskan.

Tidak pernah terpikirkan cara menginggal seperti itu termasuk dalam takdir saya. Iya.... Kejadian pemikiran seperti itulah yang membuat saya akhir ini hati-hati sekali dalam berkendara di jalanan dengan mobil-mobil besar di sekitar saya.

Jadi beberapa kali saya kesal dengan orang-orang yang masih saja melanggar lampu lalu lintas di saat jeda antar lampu hijau satu dengan lainnya. Sampai-sampai saya sengaja menaikkan gas berkali-kali dengan menginjak “kopling”motor bebek saya menandakan marah dan berusaha sengaja menakutinya dengan hampir menabraknya dengan kecepatan tinggi. Tentu saja, saya tidak berniat menabraknya, hanya berusaha memberi efek jera, entahlah saya tidak peduli dengan hasilnya, yang penting bagi saya adalah menunjukkan pada pelanggar bahwa yang dilakukannya salah dan saya berhak marah atas apa yang ia lakukan, karena “ini jatah lampu hijau saya, anda jangan main-main”begitu apa yang ada dalam benak saya. Sekedar memberi informasi pula bahwa salah satu cara syetan menggoda manusi adalah dengan “menjadikan yang salah dianggap benar, atau membenar-benarkan yang sebenarnya salah” halus sekali.. Itulah cerdasnya syetan. Orang “besar” pun bisa dibujuk kearah kiri. Jadi ingat QS Ali-imron 14:

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak[186] dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”

Memang, apa yang saya lakukan hanya bisa besuara, paling tidak, bergerak dengan lisan saya untuk menolak kemungkaran. Tentu saja, stakeholder yang lebih penting turun tangan dalam mengurangi fenomena tidak senonoh ini (nrobos lampu lalu lintas). Karena, megacu pada pendapat Prof. Dr. M. Surya, Ketika diwawancarai di SG BEM FKIP, menyatakan, “generasi yang rusak sekarang ini(DPR, dkk .Red) akibat dari pendidikan yang telah lewat, dan generasi muda sekang belum terkontaminasi, merekalah harapan bangsa....”. Sedikit banyak menggelitik memang apa yang disampaikan mantan ketua PB PGRI yang terpilih dalam 2 periode sebelum Prof. Sulistyo ini. Mengingat memang benar, pendidikanlah yang menjadi poros kebobrokan moral bangsa ini. Mental yang dianut tentang money oriented, prilaku tak taat aturan dan mengkompromikan ketidak-jujuran dst dst.

Tapi pertanyaannya apakah memang generasi saat ini bisa diharapkan?.
Apakah nasib kepemerintahaan kedepan dapat kita pasrahkan pada generasi yang tidak taat aturan, menerobos lalu lintas, moral amburadul dsb. Tentu saja, tidak semua yang saya judge “amburadul” adalah keseluruhan generasi. Jadi maaf, jika saya terlalu menyalahkan, hanya mengajak kawan-kawan untuk bergerak bersama memerangi karakter buruk. Karena ini memang tugas besar pendidikan lho?. Dan saya sebagai calon guru merasa bertanggung jawab pula.

Sekedar untuk tambahan pengetahuan saja buat kita bersama, di Austalia, gurunya lebih takut siswanya tidak bisa Antri (queque) dengan tertib. Tak bisa mentaati aturan lalu lintas, naik kendaraan pribadi sebelum cukup umurnya dst dst. Bahkan teman2 bisa membacanya lebih lanjut bagaimana raportnya sangat membuat siswa di hargai dan dinilai bukan dalam kategori huruf dan angka-angka yang dapat berubah kapan saja.
Sumber : http://tiwi-lioness.blogspot.com/2013/04/sekilas-pendidikan-karakter-di-australia.html

Pendidikan memang proses yang panjang tidak seperti hipnotis yang tahu-tahu terjadi perubahan sikap, tapi perlu di perhatikan bahwa perubahan sikap harus dilakukan secara sadar. Dalam konteks pelanggaran lalu lintas, saya belum yakin ketika pengawasan kepolisian di tiap lampu merah akan menurunkan angka pelanggaran, atau pemasangan CCTV bakal berbanding lurus dengan penurunan pencurian atau pelanggaran, jika memang sikap dasarnya belum terbentuk untuk disiplin.

Saya jadi ingat tadi siang dosen saya yang luar biasa Bu Dina Maulina, M.Si. Menyampaikan orasi singkat di tengah kuliahnya tentang ekologi. Yang membuat saya kemudian bersemangat kembali melanjutan tulisan ini. Luar biasa sekali.  “Kita sebagai mahasiswa jangan hanya berkutat pada laporan dan kuliah saja, harus tau juga dengan politik, baik nasional juga berwawasan daerah.” begitu yang beliau sampaikan setelah bercerita ketika beliau mendengarkan pem- bicaraan para Oknum Dinas yang mempertanyakan kapan proyek diberikan pada oknum tersebut. Intinya, beliau menyampaikan bahwa banyak sektor bahkan Ekologi, hutan-hutan dan kawasan biologis sudah dipolitisasi oleh oknum-oknum yang kurang bertanggung jawab. Dan beliau sangat berharap diantara kami ada yang dapat mencerahkan lingkungan tempat nantinya kami berada dari ketidak jujuran dan ketidak-sungguhan. Jarang sekali ada dosen yang begitu pedulinya dengan pendidikan karakter sedalam itu.

Memang, banyak ketidak-tahuan kita akan politik membuat kita buta akan betapa menyedihkannya negeri ini dengan beban yang dipikulnya, tentu saja, kesedihan itu bukan membuat kita terpuruk dan menyesal tanpa aksi, tetapi justru banyak belajar untuk bangkit memperbaiki sebisa kita, sejak sekarang. Dari hal kecil yang kita bisa.

Misalanya tentang kondisi politik menjelang pemilukada di Lampung ini (byuuh.. Bahasan kita nglantur kemana-mana, saya memang masih belajar memang.. Tapi semoga ceracauan saya ini bisa membuka hati kawan-kawan.).

Banyak orang yang tidak sadar atau mungkin tidak tahu kalau sebenarnya menjadi calon gubernur atau wakil gubernur itu di lain sisi mendapatkan keuntungan meteriil yang cukup besar, jauh dari merugi, meskipun nantinya tidak menang. Bagaimana tidak?, uang kampanye saja yang kita kadang-kadang berfikir “alangkah Banyak Uang si Cagub R ini..” dan juga ada yang lain banyak menimpali. “memang dia kaya kok, anaknya pengusaha...direktur inilah.. Itulah..”
Ada pula yang dengan putus asa berucap “gimana ya nanti balik modalnya?” kemudian yang lainnya menyahut, “tapi dia gak mau ambil gajinya lho klo nanti jadi Gub?” kemudian seketika banyak pertanyaan yang ngawang-ngawang belum ada yang bijak menengahi lalu menjawab.

Menurut yang saya tahu, banyak cagub dan cawagub itu berani mencalonkan diri, karena memang selain backing dibelakangnya kuat, tapi juga deal-deal politik “kalau nanti jadi” juga dibeli dengan beberapa M uang atau fasilitas yang nantinya harus ada timbal baik pada pihak yang memberi sokongan. Maksudnya gini, banyak misalnya izin perusahaan tertentu habis pada tahun 2014 nih.. Otomatis si perusahaan (apalagi besar, berlevel internasional) ini, akan memberi dana pada masing” calon. dengan deal urusan perusahaan tersebut ketika calon telah jadi dipermudah. Bahakan dilicinkan lagi. Dan calon yang didanai juga tidak hanya satu pasang calon, tapi semua, apalagi calon dengan kans berat akan menang.. Semakin banyaklah dana yang akan diberikan. See?

Dampaknya, anda bisa bayangkan?

Salah satunya, si perusahaan akan semena-mena membuang limbah tanpa dikelola dulu misalnya. Terbiasa menyuap dst dst.

Sayang sekali memang, banyak masyarakat kita juga orientasi memilihnya karena uang, tertarik sekali dengan undian undian dari acara yang bernilai politis sekali, bahkan seminar kewirausahaan dan kepemimpinan mahasiswa pun demikian mengibarkan bendera calon tertentu. Ya... Hak memilih ada di kita. Termasuk dalam mengeja kehidupan kita..

Saya mulai kehabisan pikiran bagaimana mengakhiri tulisan ini dengan klimaks tertentu, tapi memang sedikit yang sadar akan tugasnya untuk terus bergerak.. Ya.. Bergerak.. Karena perubahan masyarakat dan diri kita(mahasiswa) sejak 98-99 belumlah tuntas.. Jadi mari kita bergerak bersama untuk menuntaskannya.
(pre-edit).


0 komentar:

Copyright © 2012 Menceracau.com.