Beautiful Things Doesn’t Need Any Attentions.




Beautiful Things Doesn’t Need Any Attentions.


Bandara Soekarno Hatta, 21 November 2014

Kami Berpelukan Erat, Penerbanganku tepat pukul 03.30 Sore. Mataku sudah mulai berkedut perih, sudah banyak air mata yang menetes melepas satu-dua kepergian separuh teman-teman Indonesia bagian Tengah dan Barat.

“Kuatkan dirimu Boi, Tuhan tidak pernah tidur” aku berbisik lirih di telinganya.

“Buktikan mereka salah tak memilih kau.” Air mataku kembali menetes.

Ia mulai terisak lirih. Aku tahu persis perasaanya.
“Ka.. Kaau juga Bang” 
“Kisah kita sama Boi. Bantu waktu membuktikan kau terlalu berharga untuk ditinggalkan.” ku balas menepuk punggungnya.
“Selamat tinggal Bang.” Ia melepas Pelukannya dan Bergegas naik bis Jurusan Jakarta-Bogor.

***

Adalah pemuda Belitong ini biasa dipanggil Wira, Sudah ku ceritakan dia tidak mengambil penerbangan ke kampung halamannya. Dia justru mengambil pilihan kembali ke tanah rantau di Bogor. Pernah ku tanya kenapa tidak ambil saja tiket gratis ke Belitong?.
“Ah, tidak Bang, aku mungkin hanya beberapa hari di rumah. Banyak urusan yang belum selesai di Bogor. Sayang uangnya untuk tiket balik ke Bogor lagi.”

Aku tidak begitu mengenalnya hingga kami beberapa kali satu kamar selama program berlangsung dan kami selalu mendapat Host-Family yang sama, baik di fase Korea atau di fase Indonesia. Dari sanalah kedekatan kami terbangun. Menyenangkan menghabiskan waktu mendaki bukit di Grand Incheon Park dengannya dan keluarga angkat kami di Korea sembari mendengarnya bercerita ini-itu.

Wira sangat dikagumi banyak gadis dalam kontingen Pertukaran Pemuda Indonesia Korea. Tidak berlebihan memang. Ia adalah sosok lelaki yang tak banyak bicara. Bicara seperlunya, rajin beribadah, dan yang menonjol adalah suaranya yang halus dan merdu tiap mengimami shalat berjamaah kami.
Inilah yang menjadikan kenapa aku masih geram dan heran. kenapakah gerangan ada di bumi ini wanita yang tega membuatnya bersedih. Menolak dan meninggalkannya demi laki-laki lain.

Namsan Park, N Seoul Tower- 09th November 2014

Kami Mendapat kesempatan Berbelanja di sore hari di seputaran Namdaemun market dan Myeong-Dong yang hanya berseberangan. Dan tanpa kami duga sebelumnya di Akhir-akhir hari kunjungan kami ke Korea. Dan panitia memutuskan mengganti sedikit jadwal sesuai persetujuan kami para peserta. Jadwal seharusnya kami pergi ke nasional Museum of Korea dan menuju Itaewon untuk melihat-lihat keberagaman budaya disana.

Panitia menawarkan untuk pergi ke Namsan Tower yang tersohor itu. Tentu saja tidak ada yang bisa menolaknya. Pun dengan ku, Walau sebenarnya aku merindukan pergi ke Itaewon untuk melihat-lihat Masjid Itaewon. Jujur beberapa hari di Korea aku merindukan Adzan, tentu saja, mengunjungi masjid di negara orang adalah sensasi yang berbeda bagiku.

Langit mulai gelap saat Bus kami mendaki bukit Namsan. Dedaunan tampak kuning-kemerahan disorot lampu tembak melahirkan susana malam begitu romantis meskipun udara terasa menggigil bagi kami. Tampak dari punggung bukit, pusat kota Seoul dan gedung-gedungnya yang berpendar menghias jendela mata. Tak ada mata yang berdusta demi menolak keindahan kota Seoul malam itu. Tidak ada.

Tampak sepelemparan batu dari tempat kami turun dari bus, Namsan Tower dengan sorot lampu warna-warni berebut menyelimuti dinding menara. Sesekali film Pendek diputar dan jadilah namsan tower sebagai layar silinder raksasanya. Pemerintah korea sangat serius untuk mendesain taman-taman dan fasilitasnya. Tujuannya adalah supaya taraf kebahagiaan dan kesehatan penduduknya meningkat. Tak heran jika hampir di setiap taman di Korea di sediakan piranti Olahraga, Gym outdoor, dan semacamnya.

Bahkan tiap detil perpaduan warna bunga-bunga di trotar jalan tak luput dari perhatian mereka. Tentu saja, totalitas pemerintah dan masyarakat Korea dalam segala hal memuat kami belajar banyak.
  
Deretan gembok cinta--Begitu orang korea menyebutnya-- didominasi warna merah jambu mencengkram pagar besi di semacam deck/balkon sekeliling tower dan suasana malam yang mengigil menyambut kami setibanya tepat di bawah menara. Aku dengan pasti dapat mengitung puluhan muda-mudi korea berpelukan di sana-sini.  

Kau tahu kawan di tempat seindah itu, seromantis itu, yang namanya pilu di wajah seseorang yang merana tak akan bisa disembunyikan. Seindah apapun Korea Selatan di malam itu, Bagi lelaki yang hatinya terluka, negeri dongeng yang sangat indah di musim gugur dan hatinya yang berkabut adalah kontradiksi yang membunuh.
 
Kau tahu, kebanyakan lelaki Melayu adalah sosok yang setia?. Aku benar-benar mengamati bahwa walaupun kami, Tujuh Belas delegasi pria dari penjuru nusantara dipasangkan dengan delegasi wanita dengan jumlah yang sama sesuai tinggi badan untuk saling memperhatikan satu sama lain. Bujang melayu ini tidak semudah itu membuang kenangan lalu menempatkan seseorang yang baru di hatinya secepat orang korea menyeberangi zebra cross. Percayalah kawan bujang ini adalah sosok yang setia.

Dan kau tahu saat seorang lelaki yang setia ditinggalkan wanitanya?. Sangat menyakitkan hanya dengan melihatnya. Saat beberapa teman memasangkan gembok betuliskan namanya dan nama pasangannya diatasnya, Ia hanya termenung sambil sesekali mengambilkan foto teman pasangannya. Dan saat Ia diminta untuk foto bersama, kau tahu kawan, senyumnya, sungguh senyum yang mengguratkan perih. Bukan sama sekali bukan senyum lelaki yang bahagia menikmati suasana malam di negeri dongeng.  

***

Cerita itu bermula saat lelaki ini menceritakan kisahnya padaku. Aku tak ingat persis kapan dan di mananya. Saat itu aku fokus pada cerita dan momennya. Ia sama sekali tidak perlu menangis untuk membuat ceritanya menjadi sedih.
Malam, aku ingat malam itu ia membagi kisahnya bahwa wanitanya (pacarnya) dilamar oleh lelaki yang diharapkan orang tua pacarnya. Pada akhirnya wanitanya tak bisa menolak titah orang tuanya. Dan harus meninggalkan Wira yang telah membagi waktu beberapa tahun kebelakang hanya untuknya.

Yang membuatku kesal adalah, Come on pals... Ini 2014 dan masih ada lanjutan kisah Siti Nurbaya? Kemanakah hak kebebasan kita memilih? Kemanakah memori indah yang mereka bagi bersama? Kemana juga konflik-konflik kecil yang membuat mereka belajar lebih mencintai satu sama lain?semua hanya hilang begitu saja tak berbekas? 

Atau si wanita tidak benar-benar mencintai Wira yang sungguh-sungguh mencintainya?. Kita tak pernah tahu. Melihat seorang wanita yang disakiti lelaki hatiku pilu, tapi lebih pilu lagi melihat lelaki yang setia disakiti wanita. Kenyataan yang menimpanya adalah hukuman yang tak layak diterimanya.  

Dan lihatlah, Wira dengan senyum getirnya tidak mengibarkan bendera kebencian pada wanita yang membuatnya pilu. Tak selembar pun.

Di waktu senggang di akhir program ku coba membagikan tulisan padanya :
“Boi, Menunggu seseorang yang ternyata tidak menunggu kita, itu sama saja seperti kita menunggu kereta lewat di halte bus.

Tidak akan lewat sampai kapanpun itu kereta.

Menyakitkan memang. Tapi hidup ini memang harus dihadapi dengan tegak nan gagah, bukan ngesot penuh keluh kesah.” 

Dan diatas sisa kesedihan yang melandanya ia menulis:

“Kau juga kuatkan diri Bang, Sadarlah bahwa yang terbaik tidak selalu menyenangkan tapi insyallah dapat menenangkan. Terimakasih teman, terimakasihlah pada Tuhan atas jalanNya. Yakinlah bidadari kan tetap tersenyum di jalan para pejuangNya.”

Kita sepakat kawan bahwa cinta adalah perkara mistis. Dan tenyata cinta kali ini tidak berpihak pada yang setia.

Tetapi tetap kita dapat menyimak sesuatu dari kisah cintanya bahwa sesuatu yang indah tidak perlu mencari banyak perhatian. Wira tak butuh banyak perhatian. Karena dirinya sudah cukup indah. Ia hanya perlu menjaga dan menambah keindahan dirinya. Tidak peduli perhatian orang.

Kini aku melihatnya telah berubah menjadi lelaki melayu yang berbeda. Senyumnya tak lagi menggambarkan luka. Tatapan matanya lebih mantap menantang masa depan. Kami saling bertemu dan berbagi kisah di program ini, itu yang membuat Aku, Wira dan teman-teman lainnya mendapat hadiah di setiap masalah yang selesai kami hadapi.     



3 comments:

  1. aku speechless baca ini avee :")

    ReplyDelete
  2. halo @aqilh, apakah saya mengenal anda? wah.. syukurlah kalau bisa sampai speechless.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. yes .. I am somebody who knows you and wira very well ๐Ÿ˜†๐Ÿ˜‚

      Delete

Copyright © 2012 Menceracau.com.