Hubungan Golongan Darah Anda dengan Prestasi Belajar, IQ, dan Motivasi



Pakar pendidikan telah sepakat bahwa faktor genetik sebagai faktor internal sangatlah berpengaruh terhadap prestasi belajar. Walaupun peneliti pendidikan berbeda pendapat yang mana yang lebih dominan antara faktor internal dan eksternal, namun yang jelas keduanya memiliki pengaruh yang signifikan. Seperti yang dijelaskan oleh Slameto (2010: 54), faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar banyak jenisnya, tetapi dapat digolongkan menjadi dua golongan saja, yaitu faktor internal dan faktor esternal.

Faktor internal dan eksternal siswa sangat berpengaruh di dalam pembelajaran, namun saat ini belum banyak diperhatikan oleh para pendidik (Pusporini, 2011 : 2). Faktor eksternal merupakan kondisi lingkungan siswa baik lingkungan sosial maupun sarana prasarana. Sedangkan faktor internal merupakan aspek pribadi siswa itu sendiri seperti inteligensi, motivasi, kreativitas, gaya belajar, kemampuan verbal, kemampuan berpikir kritis, dan kemampuan berpikir analisis yang setiap anak memiliki ciri khas sendiri.


Faktor internal dapat dikatakan penting karena faktanya, inteligensi menurut Slameto (2010: 56) besar pengaruhnya terhadap kemajuan belajar dan prestasi belajar. Dalam situasi yang sama, siswa yang mempunyai tingkat inteligensi yang tinggi akan lebih berhasil daripada yang mempunyai tingkat inteligensi yang rendah. Walaupun begitu siswa yang mempunyai tingkat inteligensi yang tinggi belum pasti berhasil dalam belajarnya. Hal ini disebabkan karena belajar adalah suatu proses yang kompleks dengan banyak faktor yang mempengaruhinya, sedangkan inteligensi adalah salah satu faktor di antara faktor yang lain.

Di samping itu, Putra (2013: 2) menyatakan bahwa motivasi belajar merupakan salah satu faktor internal yang cukup penting dalam proses belajar mengajar. Motivasi diperlukan untuk menumbuhkan minat terhadap pelajaran yang diajarkan oleh guru. Motivasi adalah salah satu faktor psikologis yang dapat memengaruhi prestasi belajar siswa karena dalam motivasi tersebut terdapat unsur-unsur yang bersifat dinamis dalam belajar seperti perasaan, perhatian, kemauan, dan lain-lain. Motivasi belajar dan berprestasi ini tidak hanya tumbuh dari dalam diri siswa melainkan motivasi juga dapat muncul berkat adanya daya penggerak dari orang lain guna menambah semangat belajar siswa baik di rumah maupun di sekolah.
Selain strategi pembelajaran seorang guru seharusnya juga memperhatikan siswanya sebagai individu yang memiliki keunikan tersendiri. Siswa sebagai seorang pembelajar memiliki hakekat kecenderungan tertentu menyerap, memproses, dan menguasai informasi keterampilan baru yang disebut sebagai gaya belajar (Rambe, 2011: 10). Gaya belajar adalah cara yang dilakukan oleh seorang siswa dalam menangkap stimulus atau informasi, cara mengingat, berpikir dan memecahkan soal. Slameto (2003: 160) menyatakan bahwa gaya belajar dapat dikonsepsikan sebagai sikap, pilihan atau strategi yang stabil menentukan cara seseorang yang khas dalam menerima, mengingat, berpikir, dan memecahkan masalah. Setiap siswa berbeda dalam cara memperoleh, menyimpan serta menerapkan pengetahuan. Siswa dapat berbeda dalam cara pendekatan terhadap situasi belajar, dalam cara menerima, mengorganisasikan dan menghubungkan pengalaman-pengalaman mereka dan cara mereka merespon metode pengajaran tertentu.

Langkah terpenting yang diperlukan untuk mengubah sistem sekolah, khususnya tingkat SMA, adalah menemukan gaya belajar dan bakat setiap siswa dan kemudian melayaninya (Dryden dan Jeannette, 2002: 343). Jalan terbaik untuk menemukan gaya belajar siswa adalah bertanya, mendengarkan suara siswa dengan melakukan diskusi sederhana tentang gaya belajar dan minat, ini merupakan cara termudah yang dapat dilakukan untuk menghancurkan tembok antara guru dan siswa. Dengan mengenali gaya belajar akan dapat menentukan cara belajar yang lebih efektif, tahu memanfaatkan kemampuan belajar secara maksimal, sehingga prestasi belajar dapat optimal. Tidak ada cara belajar efektif yang sama untuk semua orang. Orang belajar dengan cara yang berbeda-beda dan semua cara sama baiknya. Setiap cara mempunyai kekuatan sendiri-sendiri (DePorter, 2000: 165). Dalam kenyataannya, kita semua memiliki ketiga gaya belajar itu, hanya saja biasanya satu gaya mendominasinya. Keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan untuk mengembangkan cara memproses informasi yang paling efektif sesuai dengan gaya belajar.   

Bila dikaitkan dengan perspektif golongan darah, menurut penelitian Atoom (2014: 183), golongan darah AB memiliki presentase inteligensi (IQ) tertinggi di antara yang lain dalam sistem ABO yang juga diikuti dengan memiliki nilai IPK tertinggi. Tipe darah B memiliki IPK terendah dan juga hasil tes IQ terendah baik sampel laki-laki maupun perempuan. Hal ini di dukung dengan penelitian sebelumnya oleh Dinar (dalam Atoom, 2014:181) tentang perbedaan IQ pada anak usia (6-14 tahun) mengenai perbedaan golongan darah bahwa ditemukan sampel AB melebihi semua sampel pada tingkat inteligensi lalu diikuti sampel O, sedangkan sampel B berada di posisi terakhir pada poin IQ.
Golongan darah adalah informasi yang sangat penting untuk mengungkapkan identitas lebih spesifik yang telah dikaruniakan sejak lahir. Darah adalah bagian tubuh manusia yang berbentuk cairan vital yang mengalir di seluruh bagian tubuh. Sejak 100 tahun yang lalu sejak golongan darah ditemukan dan sampai sekarang juga masih banyak orang yang berfikir bahwa golongan darah hanya merupakan bentuk identitas cairan darah saja. Dari 6,2 milyar penduduk dunia, gologan darah dunia terbagi menjadi empat, yaitu O sebanyak 46%, A sebanyak 40%, B sebanyak 10%, dan AB sebanyak 4%
(Dermawan, 2006: 10).      

Dijelaskan lebih lanjut bahwa golongan darah juga berhubungan dengan motivasi seperti diungkapkan Alizadeh, dkk ( 2013 : 28) bahwa golongan darah memengaruhi motivasi kooperasi, semangat, dan tanggung jawab. Dan diantara golongan darah tersebut, tipe A memiliki tendensi terbesar dalam partisipasi dalam grup diikuti golongan darah O, AB, dan B memiliki tendensi terendah dalam kerjasama dalam kelompok, dan pada beberapa kasus memiliki kecenderungan untuk bekerja secara individual.

Berdasarkan penelitian 24 DNA oleh saintis Afamasaga (2013: 1), Intellegence Quotient (IQ), Emotional Quotient (EQ), dan Multiple Intellegence (MI) telah dievaluasi dan diketahui dengan lebih baik berdasarkan DNA-nya, mengingat DNA menyebabkan perbedaan IQ, EQ, dan kecondongan MI. Hasilnya, gaya belajar sekarang dapat diprediksi secara lebih baik dengan tes DNA sederhana. Afamasaga (2013: 2) mengungkapkan dengan menggunakan 24 DNA-2 Blood Type Kit dapat membantu proses pendidikan menjadi lebih mudah dan lebih efektif dengan mengaitkannya dengan personal siswa berdasarkan DNA mereka.

Bila dikaitkan dengan perspektif golongan darah, telah banyak penelitian intenasional berkaitan dengan pengaruhnya terhadap kecenderungan sikap dan perilaku. Seperti dipaparkan Wanda ( 2011 : 48) Anak bergolongan darah O terkesan sebagai anak yang ekspresif dalam berbicara dan bertindak. Anak ini juga mudah memperlihatkan rasa sayangnya karena anak bergolongan darah O ini sangat menyukai kontak fisik. Hal ini diduga membuatnya memiliki kecenderungan belajar dengan cara Kinestetik. Sedangkan anak bergolongan darah A cenderung bertindak mengandalkan visualnya. Di sisi lain anak bergolongan darah B mudah bercerita dan pandai mendengarkan. Anak bergolongan darah B menyukai hal-hal bernuansa seni dan musik. Dan sering dijumpai belajar dengan membaca dikencangkan suaranya (Wanda, 2011 : 48-57).

Menurut Wanda (2011 : 61) anak dengan golongan darah AB adalah perpaduan unik antara karakteristik golongan darah A dan golongan darah B menyebabkan anak yang memiliki golongan darah AB ini berkepribadian unik. Hal ini terjadi karena gen yang dibawa oleh golongan darah A dan B sangatlah kontras. Anak dengan tipe golongan darah ini memiliki karakter golongan darah A yang tenang dan anak golongan darah B yang tidak stabil. Anak ini pemalu sekaligus ceria, dimana mood anak bisa berubah secara tiba-tiba. Dengan demikian belum diketahui kecenderungan gaya dalam belajarnya.

Mengacu pada hasil-hasil penelitian tersebut, diduga bahwa golongan darah dapat mempengaruhi inteligensi, motivasi berprestasi dan gaya belajar siswa. Oleh karena itu, perlu mendapat bimbingan dan perhatian dari orang lain seperti  guru, orang tua, dan lain sebagainya. Sebagai faktor psikologis yang penting dalam mencapai kesuksesan belajar, maka pengetahuan dan pemahaman tentang hal ini perlu dimiliki oleh setiap calon guru profesional (Risal, 2011: 2).



Oleh sebab itu penting bagi orang tua dan guru, kini memperhatikan faktor golongan darah sebagai landasan pendekatan, pendidikan moral, motivasi dan intelegensi anak dalam keluarga supaya berefek positif bagi perkembangan anak. (See more)  

Referensi klik disini 

4 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. mantap gan, numpang share ya.. bagus ini buat bacaan dan referensi penelitian selanjutnya.

    ReplyDelete
  3. Assalamualaikum,, mas fauzisar apa saya boleh tau email atau no hp nya? Soalnya saya tertarik dgn penelitian ini,, sy ingin berdiskusi dengan anda,, terimakasih

    ReplyDelete

  4. Sangat bermanfaat sekali informasinya,saya juga memiliki informasi seputar Psikologi,berikut linknya http://www.leppsi.gunadarma.ac.id

    ReplyDelete

Copyright © 2012 Menceracau.com.