Sebotol Hikmah dari Yogurt


Halo sobat ceracau!

Hari ini saya sempatkan menyapa sobat semua. Tentu saja, ada cerita yang ingin saya bagi. Sedikit larut menjelang pukul 22:00 malam saya merasa kehausan, tidak pikir panjang saya menuju warung di depan kost saya.

Awalnya terlintas ingin membeli sebotol susu kalengan siap minum, tapi begitu ingat kuliah Perilaku Hewan pagi hari tadi saya enggan mengambil susu tersebut. Sebaliknya saya membeli olahan susu, sejenis yogurt fermentasi. Pikir saya kalau air mineral biasa saya minum, kalau yang ini lumayan jarang. Saya ingat dosen saya mengemukakan bahwa penelitian ahli akhir-akir ini menemukan bahwa ada perubahan perilaku manusia akibat mengonsumsi susu sapi/susu formula.

Faktanya bahwa susu sapi yang benar-benar alami itu hanya dapat bertahan selama 3-6 jam, dan sapi yang menghasilkan susu yang kualitasnya sangat baik normalnya hanya dapat diperas 10 liter per hari. Sedangkan untuk memenuhi konsumsi manusia terhadap susu, sapi-sapi perah disetting sedemikan rupa sehingga menghasilkan lebih dari 30 liter per harinya.


Fakta yang mengejutkan lain bahwa kenyataannya susu sapi hanya “baik” dikonsumsi oleh anak sapi sendiri. Begitu juga dengan manusia. Idealnya, susu manusia (Ibu) adalah produk susu yang paling baik untuk dikonsumsi oleh anak manusia. Maka tidak salah jika bisa jadi kelakuan manusia yang banyak mengonsumsi susu formula (yang sudah dicampur bahan-bahan kimia lainnya) menjadi mirip binatang. Ya rakusnya, ya kontrol emosinya dsb.

Kita juga bisa mengamati bahwa iklan produk susu formula dari berbagai usia menempati salah satu iklan yang serig muncul di televisi. Saya kemudian terbayang, o mungkin ini juga termasuk dalam program bagaimana “New World Order” disebarkan ke semua pola pikir masyarakat lewat televisi. Dan kita sebagai negara berkembang akan selalu berada di level follower, ya namanya juga follower, pasti selalu tertinggal di belakang. Kenyataannya belakangan ini banyak ditemukan bakteri sakazaki sejenis bakteri berbahaya yang dapat menurunkan kualitas otak (IQ) dll. Begitu juga hasil penelitian tentang susu formula di indonesia oleh peneliti di Jawa Barat sampai sekarang “dicegah” untuk dipublikasikan.

Saya jadi semakin banyak berfikir, setelah banyak merenungi hasil kuliah Toksikologi, rasa-rasanya sifat ke-bapak-an mulai merasuk ke cara berfikir saya. Kadang banyak propaganda yang sama sekali tidak ada dukungan ilmu sains seperti halnya kasus penambahan flouride di pasta gigi yang dipercaya dapat menguatkan gigi dan mencegah gigi berlubang nyatanya adalah kebohongan besar abad ini menurut beberapa jurnal penelitian internasional. Justru flouride dalam kadar yang dapat terakumulasi berbahaya bagi anak-anak dan bagi perkembangan otak.

Hasil penelitian dari jurnal tersebut menyatakan bahwa flouride tidak ada pengaruhnya bagi perlindungan lapisan gigi, justru sebaliknya selain menurunkan kadar IQ anak, flouride dapat menyebabkan flourosis dan hanya melindungi gigi setebal 6nm atau seper-seribu tebal rambut kepala kita. Mengejutkan bukan?. Untuk itu mulai belakangan ini saya mulai mencari pasta gigi tidak ber-flouride di pasaran dan hasilnya hampir nihil. Bahkan beberapa produk pasta gigi (odol; lebih hemat kata) terkenal justru mengandung kadar flouride yang tinggi (BPOM: 0,3- 1,5 ppm). Makanya saya awalnya menggunakan pasta gigi anak-anak dengan asumsi kadar flouridenya minim sampai akhirnya saya mulai beralih ke mengunakan siwak. Untuk hal ini saya minta sobat semua searching lebih lanjut untuk menambah wawasan.

Kembali pada cerita saya. Setelah saya membeli yogurt tadi, saya sengaja membelinya lebih dari satu. Tujuannya jelas, untuk saya berikan kepada adek tingkat yang sama-sama tinggal di bawah masjid (kost kami). Tentu saja tidak gratis, saya iseng memberikan pertanyaan terlebih dahulu sebelum menyerahkan hadiah tersebut. Saya jadi ingat pesan sahabat nabi Umar ibn Khattab, saling memberi hadiahlah supaya kalian saling mengasihi.

Demi mendengar tebakan saya, mereka meniggalkan pekerjaan masing-masing sejenak. Megi, Maksum, Arif, dan Aziz A melihat kearah saya. (lebih tepatnya kearah yogurtnya) bersiap menjawab persoalan yang akan saya utarakan. Saya malah dalah sejenak bingung mencari pertanyaan apa yang akan saya lontarkan.

Oya!. 
“Menurut kalian, kenapa kalian kuliah? Apa tujuannya?”
“Biar dapat kerjaan yang lebih baik.” seru Megi dengan semangat.
“Salah. Kurang tepat” kata saya
Suara yang lainnya mulai terdengar, ada yang menjawab untuk dakwah, ada yang menjawab supaya mendapat ilmu, bahkan ada yang menjawab “karena aku sayang kamu” (gak jelas banget; lagi nge-trend), bahkan ketika kak Ipul (owner rental komputer) nimbrung ke obrolan kami, pertanyaannya sempat saya ganti “Untuk apa kak ipul kerja?” . Lalu dijawabnya dengan jawaban klise, ya untuk cari duit, buat beli rumah dan sekolahin anak.” lagi-lagi semua saya jawab dengan pernyataan yang sama. Kurang tepat.

Sampai akhirnya tidak ada yang menjawab seperti yang saya harapkan. Pelajaran juga bagi saya. Jangan berespektasi terlalu tinggi. Saya mulai bertanya balik seperti gaya dosen favorit saya di kampus. Menyelidik dan balik bertanya balik dengan kritis dan memberi argumen. Beberapa dari mereka mendehem “O iya juga ya”. Saya tanyakan sekali lagi “untuk apa kuliah?, jawabannya exact kok?”

Sepertinya sudah mulai tidak asik, hadiah saya berikan pada yang menjawab paling nyerempet benar. Maksum. Untuk berdakwah. Pikir saya cukup nyeleneh juga. Tapi begitu saya kejar dengan umpan balik malah dia tidak dapat melanjutkan.

Oke saya buka jawabannya.
“Tujuan kita kuliah adalah untuk mencari ridho Allah, Beribadah.” kata saya sok-sok bijak.
Sontak beberapa langsung ada yang berseru lemas “Yaaah...”, 
“Tak kira”, 
“katanya jawabannya eksak?. Saya balik membela diri 
“lho lha iya to?”. Kita ini kan hidup tujuannya apa? Untuk beribadah kepadanya kan? Untuk mencari ridhonya kan.

Demikian jawaban Al-Quran dalam (QS Adz-Zariyat: 56) “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”

Bila dikaitkan dengan konteks kuliah, kerja dan lain sebagainya sebenarnya cocok-cocok aja. Justeru menjadi salah jika muaranya tidak diarahkan kepada Allah semata. Dari segi bahasa, makna “Illa liya’buduun”(kecuali untuk beribadah) atau Abada adalah hamba, ya, termasuk didalamnya budak (hamba sahaya). 

Jadi artinya beribadah adalah menghamba. Seorang hamba atau budak akan menuruti apa kata majikannya, apa yang membuat majikannya suka (ridho), mati-matian akan dilakukan si hamba/kekasih. Begitu juga sebaliknya apa yang sangat dibenci dan dilarang oleh si majikan, akan sangat dihindari oleh si hamba.

Saya kembali membahas kuliah, lha kalau kuliah tujuannya supaya mendapat pekerjaan yang lebih baik, dan berpenghasilan tinggi, lantas kita tidak mendapatkannya? Apakah nantinya akan menyesal? Buat apa kuliah kalau begitu?. Lagi, kalau kuliah tujuannya untuk mendapat ilmu, karena kita punya cita-cita untuk dikejar.

Memangnya mencari ilmu hanya di bangku kuliah? Selesai kuliah sudah selesai juga, memangnya hanya kita yang kuliah yang punya cita-cita, ya kalau cita-citanya setelah kuliah nanti tercapai, nah kalau tidak? Bisa-bisa gila di tengah jalan yang akan terjadi pada anda. Kuliah juga ibadah lho, jangan salah. 

Begitu juga dengan kerja, makan, bahkan mandi akan bernilai ibadah jika kita melakukannya dengan menyebut nama Allah dan demi mencari ridhonya. Tidak hanya sholat, berbakti pada orang tua, dll. Mandi pun jika tujuannya untuk thaharah, bersuci demi ridho-Nya juga pasti bernilai ibadah. Sedikit atau banyak tetap nilainya ibadah. Saya coba menjelaskan dengan hati-hati.

Akan menjadi keliru kalau tujuan yang kita tentukan kurang tepat (dalam hal ini, kurang tepat hanyalah frase lain untuk menyebut “salah” dengan cara yang katanya lebih sopan). Ingat, tujuan tidak pernah salah, kitalah yang salah mencari dan menentukan tujuan.

“Bukan dong!, kalau jawabannya untuk beribadah masih ada pentanyaan lanjutan, beribadah supaya apa? Bukannya supaya masuk surga? Jadi tujuan kita syurga dong” Megi nyeletuk.

“Nah, Cerdas!” kata saya. 
"Tidak salah memang kalau tujuan kita syurga. Tapi kalau dimisalkan syurga dan neraka itu tidak ada apakah lantas kita masih mau beribadah?.” Megi terdiam.

Saya melanjutkan, 
“Harusnya tetap dong harus tetap ibadah karena memang sudah ada perintahnya. Walaupun seandainya belum dikasih tahu imbalannya.” 

Begitu yang seharusnya seorang hamba lakukan. Banyak perintah dalam ajaran islam yang lurus itu yang belum cukup kita dalami, atau mungkin belum cukup kita ketahui maknanya secara logika, tapi jangan salah, Manusia hanya mungkin belum cukup tahu untuk menalar dengan ilmu Allah. Dan sungguh ilmu Allah sangatlah luas.

Kalau dalam Al-Quran saja dijelaskan manusia dan jin diciptakan hanya (Illa) untuk beribadah kepada-Nya, maka menjadi jelas bahwa manusia yang tidak melakukan semua urusan duniawinya berlandaskan niat beribadah, sebaliknya justeu mengejar kenikmatan dunia semata, maka tidak ada gunanya menjadi manusia, maksud saya keluar dari konteks atau tujuan dirinya diciptakan. Bukan begitu?.

Hadist nabi soal niat juga menerangkan kalau kita mencari kehidupan duniawi, pastilah akan kita dapat. Namun jika kita mengejar kehidupan akhirat, maka keduanya akan kita dapat, demikian janji Allah. Dan ingat bahwa allah adalah sebaik-baik pemberi janji.          

Saya membatin. Cukup berbobot juga hasil percakapan kami gegara sebotol yogurt ini.
Alhamdulillah.

Salam Ceracau!


OST-Tulisan ini: Maherzain- I Love You So

0 komentar:

Copyright © 2012 Menceracau.com.