Tenggelam adalah Ancaman Besar bagi Hubungan Bilateral Indonesia-Korea !


Karena saya banyak waktu luang, maka saya sempatkan mumpung ada niat baik untuk mengasah kembali kemampuan menulis saya. Kali ini saya akan bercerita tentang pengalaman yang lalu sebagai duta bangsa. salam ceracau!

Counter-part Kami Tenggelam !!
Fase indonesia di Kuningan Jawa barat adalah masa dimana kami harus bangun dari mimpi-mimpi indah di korea selatan. Ya, Fase Korea ibarat di alam mimpi. Kami menikmati tiap detilnya. Fase indonesia berarti kerja keras dan pengorbanan. Pekerjaan rumah sudah menunggu kami di Kuningan. Yang paling dekat adalah harus “mengurus” delegasi Korea yang rata-rata lebih muda dari kami, dan tentu saja taraf kedewasaan dan kemampuan adaptasi yang berbeda.

Misalnya saat di korea, tidak ada kesulitan yang berarti yang kami temui hingga kami harus memberatkan panitia dari pihak Korea. Toilet basah tidak tersedia pun kami dapat dengan cepat beradaptasi dengan penggunaan tissue yang terasa sedikit aneh bagi kami. Its totally fine anyway, we can deal with it. Kami dapat mengatasinya tanpa perlu mengeluh pada panitia. Mungkin sudah biasa pekewuh atau merasa tidak enakan degan perasaan orang lain, takut memberatkan orang lain atau semacamnya sudah tertancap erat di kepala kami ajaran orangtua di masa lalu.

Adalah Noh Hyeon Woo, Atau biasa di panggil Bayu, Counter-part ku selama fase indonesia yang menurut keluarga kami di Kuningan cukup mandiri dan tidak manja. Remaja berkacamata ini sudah 19 tahun dalam hitungan umur orang korea*. Yang menarik suatu ketika adalah saat kami sedang sharing terkait pribadi masing-masing, termasuk ketertarikannya menanyakan beberapa hal tentang Islam.

“Bayu, Apa agama yang kamu anut sekarang?.” agak sungkan tapi tetap kutanyakan.
“......” Ia hanya menyilangkan kedua jari telunjuknya.
“Baiklah.” Sudah kusimpulkan. Percakapan berakhir.

Awalnya sempat heran di benak kami. Belakangan aku sempat ngobrol dengan teman koreanya yang lain bahwa memang bagi anak seumuran Bayu, beberapa diantara mereka belum menentukan agama yang mau dianutnya. Yang menarik justru mereka punya kesempatan menginvestigasi ajaran-ajaran agama. Sedikit berbeda dengan yang kita alami selama ini, dari kecil agama yang kita anut adalah agama orang tua kita. Wajar kadang kita kurang greget menjalankan agama kita. Jadi ternyata penting juga mempelajari dan mendalami agama yang kita anut untuk memudahkan kita menentukan sikap. Juga memudahkan kita kalau diajak sharing dengan orang lain. tentu saja sebagai duta bangsa memiliki reverensi dan wawasan adalah hal yang penting termasuk di bidang keagamaan.

Namun ini bukan hanya cerita tentang Bayu saja. Teman bermain badmintonnya, Kim Yeon Suu yang kebetulan rumah keluarga angkat kami berdekatan. Di akhir Minggu keluarganya tidak memiliki rencana pergi ke tempat wisata seperti kebanyakan keluarga lainnya. Mereka hanya merencanakan akan memancing di kolam belakang rumah siang hari nanti. 

Jadilah pagi hari itu Aku, Wira dan Bayu serta Yeon Suu memiliki waktu bersama di pagi hari. Kami diajak Kang Adit, kakak angkatku untuk olahraga mendaki menuju kaki gunung Ciremai tempat Bapak menanam beberapa pohon Cengkeh di sepetak lahannya. Bayu dan Yeon Su tampak sangat bersemangat. Bukan untuk Pendakiannya, tapi untuk rencana kami sesudahnya. Berenang.

Setelah dua jam kami habiskan waktu mendaki dan beberapa kali mengambil gambar, kami sempatkan mengambil nafas sejenak. Tampak beberapa rombongan pecinta sepeda gunung mendaki tanjakan terjal tempat kami istirahat. Lanskap hijau perkebunan ubi-ungu menyejukan mata kami. Matahari sudah tinggi saatnya kami bergegas ke kolam renang. Jaraknya tak terlalu jauh, hanya sepuluh menit dengan berjalan kaki.

Tidak menunggu lama setelah membeli karcis. Mengganti baju, aku mulai bergegas ketepian kolam, merenggangkan otot kaki dan tangan. Memastikan kolam ini aman untuk mereka berdua berenang. Wira memberi isyarat untuk menitipkan tas dan mengganti celana di ruang ganti.
Byuurrr!!

“Dasar Bayu, Sudah main nyemplung aja ke kolam.” bisikku lirih. Tentu saja mereka menghiraukan.
Bayu langsung ketepian. Meraih Pegangan dan naik.
“A... Its.....”
Byuurr !!!

Belum Sempat bayu selesai bicara bahwa airnya terlalu dingin, Si jawara Badminton Yeon Su membuat air kolam muncrat kemana mana termasuk mengenai leherku. Aih! Dingin!. Wajar Bayu segera menepi. Bahkan untuk ukuran orang korea.
“Yeon Suu, Are you okay?” aku memekik kearah kolam. Panik. Aku sadar kalau Ia memperagakan tarian tenggelam. Aku mengenalinya lewat gerakan tangannya yang memukul-mukul air. Tapi masih dalam mode diam. Sejenak belum pasti apa yang harus di lakukan.
“hahahaha.. Yeon Su..” Bayu justru tertawa. Suasana semakin aneh.
Byuuuuurr!!

Aku berhasil membuatnya naik ke tepian sebelum orang lain. Kau tahu rasanya kawan. Takut sekali. Mereka adalah anak orang yang dititipkan pada kami. Kalau terjadi apa apa jelas bukan hanya persoalan sepele, ini soal nama baik negara.
“Aduh, masih dag dig dug nih Wir,” Aku mengangkat tangan. Wira yang sudah kembali memasang wajah heran.
Yeon Su mengerang memegang kaki kanannya. Sepertinya keram.
“Ini anak orang si Yeon Su, main nyebur aja. Ternyata airnya dingin banget. Gila.”
“Wajar kalau keram gitu. Habis olahraga berat kan barusan.” Wira menimpali.
“Oke Yeon Su, take this cream.” Aku menawarkan diri memijat kakinya.

Ia hanya mengangguk. Masih trauma agaknya. Bayu masih belum berhenti tertawa kecil. “Parah nih bocah” batinku.
Kami tetap melanjutkan mandi. Ember raksasa berisi air ujung kolam terlalu menggoda untuk kami lewatkan begitu saja. Juga prosotan yang meliuk-liuk seperti di Waterboom pada umumnya sudah menunggu kami. Tapi Yeon Su masih duduk dalam diam. Bayu kini tak lagi menggoda kawannya itu. Setelah berusaha membujuknya kembali turun ke air namun nihil Yeon Suu hanya menjawab dengan menyentuh kaki kanannya. Mengerutkan mukanya.

“Come on dude, its oke. Thats normal.” aku bantu meyakinkan
Memegang kakinya lagi.
“Oke, fine.”

Sudah hampir satu jam kami berenang kesana kemari. Menyelam. Saling dorong saling piting. Tapi Yeon Suu masih belum beranjak dari duduknya. Kasihan juga melihatnya. Niatnya mau senang-senang. Eh, jadi murung begitu. Aku dekati Bayu untuk memintanya berenang di bagian yang tak terlalu dalam. Bagaimanapun kami sudah memesankan ban karet untuk mereka berdua.

Syukurlah, kali ini Yeon Suu mau terjun ke air. Kami pun larut dalam kebersamaan sebelum akhirnya kedinginan dan beranjak pulang.

Begitulah cara kami berdiplomasi. Selain dengan pertunjukan budaya yang terjadwal dan kegiatan courtesy call, perhatian dan saling mensupport layaknya keluarga sendiri adalah bentuk diplomasi kami sebagai duta bangsa yang baik demi menghormati dan melestarikan hubungan baik kedua negara. Bayangkan saja, insiden barusan bisa saja mempertaruhkan semua itu. Kami hanya bisa membatin dalam hati “Sumpah Parah, Syukurlah..”

Di fase indonesia kami belajar bahwa semua orang baru yang kami temui, baik keluarga angkat atau pemuda korea, dan orang baru lain dalam hidup kita sesungguhnya dapat kita jadikan saudara. Kita ikat dalam hati sebagai bagian dari keluarga kita. Hal itu penting bagi kami, karena bagaimanapun, saudara adalah investasi di masa depan. Dan memiliki keluarga di seluruh indonesia dan lintas negara adalah investasi kami, once in the life time. Yang patut kami syukuri banyak-banyak. Sumpah Parah.
   
      

    

                

0 komentar:

Copyright © 2012 Menceracau.com.