Dilarang Mudah Puas dalam Kebaikan

Selogan ini terinspirasi dari kebiasaan saya menunda pekerjaan

Kata-kata sakral itu saya dengar lagi "Billahi fii sabilil Haq, Fastabiqul Khairat...." pada sela kultum ba'da subuh di almamater saya Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta. 

Subuh itu kota Jogja lebih dingi dari biasanya, 18 derajat celcius menurut prediksi BMKG Jogja  setelah paginya saya baca salah satu surat kabar jogja. Katakanlah salah satu santri ada yang maju kedepan, untuk mengisi kuliah subuh dengan bahasa jawa halus. 

Saya cukup kagum dan menyimak kultum kromo inggil tadi hingga kantuk tidak terasa lagi. pemilihan diksi dan ke-khasan kosa katanya saya hafal betul, khas muallimin, maksudnya khas salah satu ustad disana. Jadi sudah bisa dipastikan saya tenggelam dalam nostalgia masa lalu subuh itu.

Tujuan saya ke Jogja tanggal 16 juni kemarin ini tidak lain adalah mengantarkan adik kembar untuk masuk asrama karena sudah di terima sejak 3 bulan yang lalu lewat tes yang dijalankan bulan Januari. Berangkat dari Bandarlampung dengan mobil pribadi karena rencana kami selain menghemat biaya, juga mencari pengalaman mengemudi. Tentu saja, Bapak ingin merasakan sensasi jalan tol, kalau saya sekedar menguji ketahanan fisik untuk stay alert selama perjalanan Merak-Jogja.

Kembali pada Fastabiqul Khairat, berlomba lomba dalam kebaikan. Banyak ayat dalam Al-quran yang menyebut kalimat ini berulang-ulang. Kalimat ini juga menjadi salah satu selogan dalam Hizbul-Wathan dan Pemuda Muhammadiyah, kenangan itu kembali kearah Hizbul Wathan, Kepanduan tertua yang dulu sejak Tsanawiyah (SMP) hingga lulus Muallimin aktif didalamnya. 

Kenangan Gladi Tangguh, diasingkan untuk survive di tempat terpencil, belajar float packing untuk ransel supaya bisa mengambang saat menyusuri arus sungai Progo dan Selokan Mataram. Masih lekat sekali dalam ingatan. Begitu ingat langsung kangen pengen ketemu teman-teman seperjuangan. Sebut saja Ipin, Eko, Rega, Ruri, Aditya Z., dll.

Saya jadi teringat potongan ayat surat pendek.

Maka apabila kamu telah selesai dari satu urusan maka 

kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain”. (Al 

Insyirah: 7)

Poinnya jika sudah kelar satu urusan beralihlah ke yang lain. Sentuhan sindirannya bagi saya ini terjadi kemarin ketika ada panggilan untuk UAS di Lampung dan kegiatan SAHARA Ramadhan di masjid kampus tempat saya tinggal. 

Yang menjadi persoalan kala itu adalah bapak dan ibu saya belum paham alur jalan pulang dari Jogja kembali ke Lampung sedangkan kamis tanggal 18 itu juga saya harus pulang jika sabtu tanggal 20nya masih ingin ikut UAS. Saya harus putar otak, saya percaya segala persoalan ada jalannya.

Akhirnya ketemu juga solusinya, saya paketkan internet HP ibu saya, saya jelaskan penggunaan GPS, tidak lupa saya catatkan alurnya untuk memudahkan. Selain itu mengingat batrai HP cepat habis jika terus menerus dipakaikan GPS, saya belikan Power Bank juga, lumayan besar 11000 Ampere, semoga cukup sampai Jakarta. 

Awalnya cukup sulit menjelaskan penggunaannya pada Ibu, apalagi pada Bapak, tapi berkat banyak praktek selama pergi-pergi ke seputara Jogja, PP Muhammadiyah-UGM-Muallimin dengan bekal GPS di tangan Ibu, semuanya berjalan semakin mudah. Kemarin ini saat saya sudah di Lampung, sempat dapat kabar kalau mereka sudah jalan-jalan ke Solo dengan bekal GPS. Alhamdulillah.. :D

Perkara Fastabiqul Khairat yang saya ingin bahas tadi adalah saya kaitkan dengan kenapa Blog sederhana ini, masih sedikit postingannya sudah repot-repot dibuat (.com). Sebenarnya saya hanya mengekor kakak-kakak tingkat di Muallimin dulu dan beberapa teman-teman yang rajin menulis di blog untuk menjadikan halamannya menjadi (.com). Dalam benak saya, yang jarang bisa konsisten menulis, semoga jika sudah (.com) bisa lebih rajin lagi karena sayang kan 105rb satu tahun di sia-siakan tanpa menulis kebaikan dan hikmah. Lagi pula saya ini masih apalah-apalah dibandingkan pendahulu saya, idola saya juga, Kak Ghofron Mustaqim, Lathif Mustofa, dll.

Poinnya adalah saya juga tidak mau ketinggalan hanya ndomblong melihat kesuksesan yang mereka raih, syukur-syukur eh ada yang bisa mengambil pelajaran juga dari kasus saya. Intinya saya tidak ingin lulusan Madrasah seperti saya dan teman-teman lainnya di luar sana kalah saing dan kurang "bersinar" di bidangnya masing-masing. Padahal saya percaya, dengan beban belajar kami dulu di pesantren yang luar biasa banyak, dan ilmu yang kami terima juga cukup lengkap, saya yakin seharusnya kami bisa lebih unggul.

Tentu saja, kuncinya adalah jangan mudah puas dengan apa yang sudah kita raih sekarang. Terus menimba ilmu dan berlomba-lomba dalam kebaikan. Kata A.Fuadi "going EXTRA miles". Kalau satu urusan kebajikan sudah kelar, ya pindahlah ke yang lainnya.

Salam Ceracau!   

3 comments:

  1. Ini tulisan ave banget... #inget dlu kalo ibu ngoreksi hasil UAS ave, selalu paling akhir selain panjang lebar terkadang suka muter2 banyak prolog nya veee... kalo kata bapak, perlu sedikit polesan biar makin sip si ave... bpk bangga sm si ave... ciyeh yg dpt pujian terus sm bpk...

    ReplyDelete
  2. Kkk, seninya di situ kali buk ya.. kk.. oo jadi bapak kmaren tanya itu nge tes doang buk ya..? @dinaarif

    ReplyDelete
  3. Kkk, seninya di situ kali buk ya.. kk.. oo jadi bapak kmaren tanya itu nge tes doang buk ya..? @dinaarif

    ReplyDelete

Copyright © 2012 Menceracau.com.