Konflik Dengan Pegawai SPBU


Ilustrasi diperagakan oleh model :D. Kejadian sebenarnya menggunakan sepeda motor

Belakangan ini saya sedang senang sekali mendengarkan lagu milik One Republic - Secret, terutama bagian awal liriknya yang menyebutkan demikian :

I need another story
Something to get off my chest
My life is kinda boring
Need something that i can confess

Dan entah kenapa lagu yang saya nyanyikan hampir tiap hari ini semacam menjadi doa saya, dan anehnya beberapa cerita (another story) tadi terkabul, menjadi saya alami, jadi pelajaran dan cerita berharga bagi saya.

Termasuk cerita malam ini, saya dalam perjalanan pulang naik motor mampir di sebuah SPBU di daerah Natar. Malangnya antri panjang, dan unfortunately-nya hanya satu lajur yang dibuka. Padahal saya melihat banyak pegawai SPBU yang sedang hanya duduk-duduk sambil ngobrol sana-sini.

Dalam hati saya kesal, entah kenapa muncul keinginan untuk 'nglabrak' mbak-mbak SPBU-nya dan maki-maki di depannya. Lha bayangkan bagaimana tidak, masih jam-jam ramai (pukul 20.00), para pegawai SPBU ini saya lihat malas-malasan, terutama ada 1 pegawai di section/jalur motor yang seharusnya 2 jalur ditutup jadi 1 jalur dan dia hanya tidur malas membungkukkan badan dan  kepalanya di atas meja.

Saya masih ragu-ragu awalnya, maju atau tidak. Saya pikir lagi, jahat tidak saya ini? Pikir saya. Tapi seketika pikiran "ini adalah hak saya dan konsumen lain juga" muncul dan membuat saya mendekat kearah pegawai tersebut.

"Mbak, yang jalur sebelah sini rusak tah?" Tanya saya sedikit sarkastik sambil menunjuk mesin pompa bensin di lajur sebelah kanan.

"Enggak mas, sebelah sana saja lho" kurang lebih demikian jawab mbak-mbak pegawai SPBU itu, tidak kalah sarkastik menurut saya.

"Enggak, ini hidup kok mbak, gak rusak! Kenapa gak dibuka aja, saya dilayani" begitu kurang lebih kata saya (tidak begitu ingat persisnya, maaf, mungkin karena sedang marah)

"Enggak bisa mas, antri saja dari belakang, ini jam istirahat, baru gantian ini...." saya tidak begitu mendengarkan keseluruhan kalimatnya, sudah sibuk saya tanggapin dengan nada agak meninggi.

"Embak ini gimana, gak liat apa itu antrian panjang banget, habis waktu saya mbak buat antri gak produktif begini! Hak saya juga sebagai konsumen mohon dihargai dong! Saya laporkan ini..."

Si Embak melengos, menceracau entah apa. Sekejap saya lihat langsung saya semprot lagi.

"Eh, embak liat saya ya, di luar negeri gak akan terjadi kaya gini ya! (Saya gak tahu kenapa kata-kata ini bisa keluar) itu saya lihat temen-temen mbak juga nganggur, hargai hak konsumen dong, saya ada hak juga kan?! Ini membuat kami gak nyaman!"

Saya sempat mendengar si embak bilang "terserah lah mas" atau sejenisnya.. karena ini pertama kali saya jujur seperti ini di depan umum dan banyak mata melihat ke saya juga. Saya akhirnya mengegas motor sambil berlalu saya berteriak.

"Hoalah, kapan negara ini bisa maju kalau orang-orangnya begini semua!!"

Hahaha, its kinda funny ketika sepanjang jalan saya pikir-pikir lagi. Perjalanan sampai rumah masih 3/4 jalan lagi dan ada kalanya saya tertawa, sambil tidak percaya akan melakukan hal tersebut. Disamping itu ada perasaan membela diri bahwa yang saya lakukan sudah benar. Tapi ada perasaan juga 'Salah gak sih saya? Jahat gak sih?'

Sesampainya di rumah saya ceritakan kejadiannya dengan Ibu, eh beliah hanya tertawa mendengar cerita saya.

"Jahat nggak si Bu, Aku ini?"

Kontan ibu langsung menjawab,

"Ya jahat lah! memang jam shift-nya lho Nak mungkin sudah habis, Mereka masih disitu, ntah nunggu jemputan atau lainnya, puasa-puasa lagi.."

"Kan udah buka puasa Bu, harusnya kan sudah seger." Dalam hati saya masih mau melanjutkan sebenarnya. "Seharusnya kalau memang shiftnya habis, seharusnya ada pegawai pengganti dong yang standby, kalau caranya seperti ini jelas sekali terlihat tidak profesional."

Sepanjang jalan masih saya pikirkan baiknya seperti apa kedepan. Sebenarnya sebelum momentum titik konflik terjadi, saya sudah memikirkan banyak hal untuk di omongkan, karena memang bukan uneg-uneg sesaat, sudah lama pernah dibegitukan juga di SPBU yang sama, selalu antri panjang padahal mesin pompa tidak ada masalah, lain dengan SPBU di kota Bandarlampung, pegawainya cukup peka, jika ramai antrian, kontan akan dibuka dua jalur untuk mencegah antrian terlalu panjang hingga ke jalan raya.

Saya sempat berpikir ingin bicara demikian. Untungnya tidak sempat keluar:

"Mbak ini ya?! Masih saja ngeyel, kalau tidak mau melayani kami, biar saya saja yang ambil bensinnya sendiri, Saya juga bisa kalau cuma pencet-pencet beginian, siapapun bisa mbak! Bahkan adek saya yang masih kecil juga bisa! Asal mbak tahu aja ya, coba pikirkan buat apa Pertamina butuh pegawai hanya untuk beginian? Lihat, SPBU di Jakarta saja ada yang tidak ada pegawai seperti mbak ini, tetap bisa jalan. Atau mungkin Pertamina hanya kasihan, untuk dalih membuka lowongan pekerjaan?. Jadi jangan kecewakan kami dengan kerjaan yang sepele kaya gini lah mbak. Makannya disiplin, hargai kerjaan, hargai konsumen."

Jahat gak sih saya? Tapi mau bagaimana lagi?.

Alhamdulillah-nya kok ya saya tidak sempat mengeluarkan senjata saya. Percaya atau tidak saya malam itu membawa palu/martil yang saya selipkan di punggung belakang. Ya, memang setiap perjalanan jauh dan atau perjalanan malam, saya selalu membekali diri dengan alat untuk jaga-jaga. Kadang double stick (nama yang benar sebenernya nunchaku), atau terkadang pisau lipat, kadang kunci inggris, atau sekedar gembok. Ya fungsinya untuk jaga-jaga karena daerah tertentu butuh sedikit awas dan kejelian saya dalam berkendara.

Saya di jalan hanya membayangkan martil itu keluar dan memukul meja kasir di dekat pompa itu dan memaksa si pegawai membuka lajur dan melayani kami sembari saya mengancam dengan palu. Saya pikir kalau demikian akan bisa berhasil, tapi saya bersyukur hal itu tidak terjadi.

Alhamdulillah emosi masih bisa terkontrol. Dan alhamdulillah aspirasi saya bisa tersampaikan. Terlepas mungkin cara saya sedikit nyeleneh.

Salam Ceracau!

Posted via Blogaway

0 komentar:

Copyright © 2012 Menceracau.com.