Seems Like Our Plans Gone Wrong

Sapa saja Dia dengan panggilan Airlangga. Harus lengkap!. Kalau bukan demikian, pastilah kau tak akan digubrisnya jika kau memang bukan karibnya.

Pemuda berkacamata ini sekilas memang terkesan sombong, sidikit angkuh jika belum jauh mengenal kepribadiannya. Gurat mukanya tegas, dengan rahang kokoh yang Ia warisi dari bapaknya. Terakhir kulihatnya raut wajahnya pagi itu sebelum shalat shubuh, sembab sekali menggariskan muram dan sendu.

Dan kisah tentang Airlangga ini akan coba kuceritakan dengan hati-hati. Ya, namanya juga masalah hati, mudah berubah, mudah salah dipahami.

Ia sangat menyukai petualangan, sebut saja mendaki gunung, menyelam ke dalam laut, travelling, semua pernah dialaminya, sama sepertiku. Kami satu hobi, hampir kemanapun selalu bersama.
Tapi hanya satu, petualangan yang belum pernah ia alami. Petualangan cinta.

Jelas saja, baginya cinta tak pantas dijadikan petualangan, "Cinta bukan perkara mainan bagi pemuda macam aku ini, Cinta pertama adalah sekaligus yang terakhir. Selamanya."

"Hah, macam sinetron saja kau Ngga?!" Aku mencibirnya.

"Serius aku Boi, Pantang bagi pemuda Sumatra macam aku ini, menyakiti hati wanita." Serunya dengan tangan mengepal di dada.

Namun belakangan tak pernah terdengar lagi cerita darinya. Coba kudekati. Duduk di sampingnya. Hanya diam. Tak ada respon.

Ai, urusan hati selalu rumit. Tak pernah kulihatnya begini sebelumnya. Hanya pernah mendiamkanku seminggu lamanya karena tak kuajaknya camping di pulau terpencil.

***

Airlangga adalah pemuda yang unik, humoris dan tidak begitu peduli tentang penampilan sebagaimana tak pedulinya dengan omongan orang lain yang tidak konstruktif baginya. Sama seperti pemuda lain, Ia juga begitu menggebu-gebu, penuh idealisme, masih rajin-rajinnya membaca buku untuk menanam integritas dirinya.

Tapi kata orang selalu ada sisi miris di balik pribadi humoris, kenyataannya Airlangga rapuh di dalam. Hanya terlihat begitu tegar sejak tujuh tahun lalu Ayahnya sering sakit-sakitan hingga kini, tidak terhitung harus cuci darah kemana-mana, pinda rumah sakit kesana-kemari. Jadilah Ia sebagai anak pertama dari 4 bersaudara, harus sementara menggantikan peran seorang ayah dalam pendidikan intra-keluarganya.

Adiknya masih kecil-kecil, yang paling tua baru saja masuk SMP, Ia dan adik-adiknya kontan tidak bisa bersekolah terlalu jauh dari rumahnya dan dari Ayahnya. Jadi urusan membantu adik mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR), berurusan dengan guru BK SMP, menjadi wali siswa, adalah pekerjaan sampingan yang harus ia kerjakan selain urusan kuliahnya.

Oleh sebab itu aku sedikit banyak cukup bangga bertemen dengannya, dengarkan cita-citanya kawan. Kelak jika Ia sudah beristri, maka bulan madunya, Ia akan mengajak istriya melihat keindahan gunung-gunung yang pernah Ia daki. Sesekali pernak ku kritisi.

"Oi, Ngga. Kau mau jadikan apa istrimu kalau sudah di puncak, naik gunung gak ada seru-serunya untuk bulan madu, capek Bro. Mendingan kemah di pulau, atau di dekat pantai." ujarku sambil bersungut-sungut.

"Pantai terlalu mainstream Boi, kau pikir bulan madu harus begituan? Bulan madu itu untuk mengenal satu sama lain Boi! Ngeres pikiranmu yah?." Ia balik mendebat.

"Nah, apa gunanya pacaran kalau begitu?." Aku masih tak mau kalah

"Kau ini, dalam kamus besar Airlangga mana ada istilah pacaran sebelum menikah? Hah? lagipula kau tau lah itu." Balasnya.

Benar juga katanya, sekali itu ia pernah menunjukkan sebuah buku di depan wajahku tentang haramnya berpacaran. Dan buku itu menurutku masuk akal dengan beberapa argumentasi yang tak bisa kubantah. Itulah yang kini menjadi prinsipnya dalam berhubungan dengan lawan jenis. Dan sekali Ia sudah berprinsip, maka sulit bagi siapapun mendebatnya.

"Baiklah Ngga, aku ikut kau bulan madu ke gunung kalau begitu, ngiler juga aku lihat foto-foto gunung di instagram kau."  

"Oi, Ngapa pula kau ikut-ikutan Boi, ganggu orang bulan madu aja, bawa lah istri khayalanmu di game itu ikut naik gunung bareng kami besok-besok. Dasar Jomblo!"

"Amboi, kasar nian omongan kau Bro, Pedas kali." Gelak tawa menenggelamkan kami dalam obrolan di sekitar kampus kala itu.

***

"Pacarku menikah dengan orang lain Boi, Semi dijodohkan, tapi pilihannya mantap untuk segera menikah" Akhirnya Airlangga angkat bicara.

"Nah itu kau pacaran Bro?"

"...." Dia diam, dalam diamnya aku paham dengan lantangnya ia sebenernya berujar "Aku tak suka kau bercanda Boi!" yang ku tahu Ia menyebutnya "hubungan janjian menikah jarak jauh".

"Masih, sembilan bulan lagi sebelum jatuh tempo tanggal janjiku akan melamarnya Boi, Sangat disayangkan. Sudah sejauh ini, selama ini." Nada bicaranya jelas sekali Ia ingin menyembunyikan tangis tergugu nya. 

"Hampir lima tahun sudah ya Bro?"

Ia Mengangguk. "Tapi kuceritakan pada Kau bukan aku ingin membuktikan Ia yang menghianatiku, mungkin aku dinilainya belum siap Boi, ku sadari aku belum cukup matang, belum cukup cepat berlari menjemputnya, terlalu lama menemui orangtuanya..." Ia berhenti. Sesegukan kembali menahan perih.

Aku hanya menelan ludah. Bagaimanapun aku cukup paham bagaimana Ia mengorbankan banyak hal untuk perlakuan sok romantisnya. Dengan saling surat-menyurat, mengirimkan berbagai barang, saling memberi hadiah. Kini aku hanya bisa menghela nafas. Memegangi pundaknya.

Ia Menarik nafas panjang. 

"Aku akan buktikan aku akan jadi lebih baik lagi Boi, tak akan ku biarkan kebencianku terhadapnya mengambil tempat di hatiku. Aku telah ikhlas menerimanya. Mungkin inilah takdir terbaik yang dipilihkan Tuhan bagi kami. Tak akan ku buktikan Dia adalah penghianat cinta, tapi akan kubuktikan Dia telah rugi meninggalkanku Boi."

Aku mengangguk takzim. Menepuk pundaknya beberapa kali.

Lalu Alunan adzan subuh menggema membasuh dedaunan basah yang dicelup rintik hujan pagi itu. Udara dingin seketika menyeruak menyejukkan hati-hati yang pernah sakit dan terluka, menjadikannya lebih kuat dan semakin kuat.

Masjid Al-Wasi'i, 28 Juni 2015   







0 komentar:

Copyright © 2012 Menceracau.com.