Want Something? Then Ask For It !

Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh..

Masih tentang jargon website ini, "Sudah saatnya melakuakan apa yang sudah lama hanya dibicarakan", Saya ingin membagikan pengalaman saya dalam menyatakan sesuatu. Pernah tidak sobat ceracau dihadapkan dengan kondisi dimana kita sedang menginginkan sesuatu, tapi kita tidak yakin kita bisa melakukannya ketika sesuatu itu sudah kita dapatkan. Misalnya ketika sebenarnya ingin menjadi Gubernur BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) tapi sebenarnya kita tidak yakin kita akan bisa menjadi apa yang kita inginkan jika nanti keinginan tersebut sudah tercapai.

Saran dari saya, kalau itu memang impian sobat, maka kejarlah sampai dapat dan jangan pernah menyerah untuk mendapatkannya. Kasus ini saya temui awal Ramadhan kemarin. Sebenarnya saya ingin melangkah lebih jauh, kondisinya begini, saya sebenarnya sudah dijadwal dari masjid di dekat rumah yang ya cukup besar, sudah sejak dulu masih belajar di pesantren di Jogja pun sudah demikian, kemarin ini Alhamdulillah sudah dijadwal untuk menjadi penceramah qabla Tarawih, sedangkan imamnya adalah bapak-bapak sesepuh di masjid desa itu.

Ini sudah biasa karena memang setiap tahun tidak hanya saya, ada anaknya pengajar mengaji saya dulu (waktu masih kecil) yang juga lulusan pesantren juga mendapatkan jadwal menjadi penceramah. Yang belum kesampaian adalah menjadi imamnya, baik shalat tarawih atau shalat jumat (kalau menjadi khatib jumatnya sudah beberapa kali, terutama menggantikan jadwal Bapak saya).

Nah, selain berangkat dari itu, saya juga merasakan ada keresahan dalam hal perasaan sebenarnya saya bisa menjadi imam sedikit lebih baik dari sesepuh-sesepuh di masjid sana, terutama dari segi bacaan Quran dan tajwid yang dibaca. Mengingat terkadang banyak bacaan ayat yang dibaca keliru, demikian juga yang saya dengarkan dari anak pengajar ngaji saya dulu itu ketika menjadi imam shalat tarawih. Ada perasaan tidak nyaman ketika mendengarkan bacaan tertentu dibaca tidak sesuai kaidahnya, tapi apalah daya tidak berani mengingatkan.

Jadi ketika kesempatan itu datang, pikiran saya kontan berkecamuk. To do? or not to do?. Karena pada saat itu adalah jadwal saya menjadi penceramah tarawih, hanya saja di jadwal, imamnya tertulis Bapak Katam, setelah saya diskusikan dengan Bapak di rumah terkait keinginan saya untuk menjadi imam sekalian, bapak menyarankan untuk mengkomuniaksikannya dengan Bapak Katam dan juga Ketua masjid.

Dari situ saya mulai mempersiapkan ayat dan surat yang hendak saya baca ketika menjadi imam, termasuk juga bahan ceramah saya sudah saya tulis di catatan di smartphone jadi kapanpun bisa saya lihat, saya juga menyiapkan power bank dan stopwatch untuk mencegah tausiyah saya melebar dan menghabiskan banyak waktu sehingga jamaah menjadi bosan. Begitu pula ayat-ayat yang saya hendak bacakan saat menjadi imam nanti saya seleksi terlebih dahulu mana yang sesuai dengan tipikal jamaah dan juga saya pilih yang saya kuasai betul panjang-pendek dan tajwidnya.

Akhirnya momen of truth tiba, selepas sebelum shalat isya' dengan pakaian yang layak untuk menjadi imam saya mendekat kepada bapak Katam.

(jabat tangan)
"Pak, Kulo nyuwun izin mengke belajar imam tarawih nggantosi njenengan nggeh pak?" Saya utarakan maksud saya dengan bahasa jawa halus dengan kata "belajar".

Dibalas Anggukan Mantap. Tanggapannya beliau renyah saja, saya dibolehkan menggantikan beliau. Oke saya sudah siap-siap tinggal mengatur mental dan ketenangan batin saja.

Alhamdulillah malam itu pun dapat saya takhlukkan.

Selang beberapa hari kemudian saya di telpon Bapak dari rumah saat sedang di Kampus, Ee katanya melihat tanggapan jamaah baik, katanya bacaannya bagus, panjang-panjang juga tidak terasa. Ada juga yang bilang mirip suara imam di Mekkah, Ai sudah melayang saat itu saya mendengarnya. Tidak sampai disitu, ketika jadwal ceramah tarawih datang di minggu berikutnya. Justru bapak Katam yang meminta saya menjadi imam kembali dan seterusnya, bahkan saya kemudian diberikan jadwal menjadi imam dan khatib jumat pada minggu depannya.

Barusan saya kemarin pulang lagi kerumah karen ada panggilan untuk membantu bapak meng-entry data akreditasi sekolah. Ketika tarawih hampir di mulai, ada salah satu jamaah yang juga berpengaruh di masjid itu menghampiri saya dan menyatakan mengharapakan saya menjadi imam nanti ketika Shalat Idul Fitri, saya hanya basa-basi menolak karena masih terlalu muda. 

Dalam hati tentu saja bersyukur karena sudah mendapatkan kepercayaan jamaah dan juga pelajaran dan berkah akibat saya berani mengutarakan keinginan saya pada ketua masjid dan juga Bapak Katam tadi.

See? Kadang kita terlalu menakutkan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu kita takutkan. Hanya perlu banyak berdoa meminta pertolongan Allah saat semua usaha sudah kita kerjakan. 

Jadi jangan sungkan untuk meminta, jangan takut untuk menyatakan perasaan. Justru kadang kita akan dibuat heran dengan kenyataan yang justru tidak kita harapkan sebaik itu sebelumnya. Itu.

Salam Ceracau!
Wassalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh..

0 komentar:

Copyright © 2012 Menceracau.com.