Believe Now or Never: Ekspedisi Pendakian ke Puncak Tertinggi Lampung. Bukit Pesagi (2230 Mdpl)

Pemandangan Kecamatan Belalau dan Kenali dari puncak Bukit Pesagi 2230 Mdpl.
Pendakian perdana bagi pendaki pemula tidak haruslah tinggi. kalaupun yang dicari tingginya, banyak gunung di Indonesia yang tinggi dengan perjuangan mencapai puncaknya tidaklah sepadan. ada yang memang cukup tinggi tapi jarak tempuhnya pendek, medannya tidak begitu menantang, atau kemiringannya biasa saja. 

Perlu kita ingat kalau kata pepatah "A long journey begin by a single step" (Lao Tzu), sebuah perjalanan yang panjang, lagi jauh haruslah dimulai dengan satu langkah kaki yang kecil. Jadi yang penting apa? Menurut saya yang penting hikmah yang sanggup kita petik. Bukan bunga edelweis yang kita petik (padahal gak boleh di petik), sebagus apa pemandangannya yang kita dapat, sebagus apa foto kita, sebanyak apa like-nya, dan hal-hal sepele lainnya.

Seperti dalam perjalanan kami yang telah lampau. Bersamaan dengan pelaksanaan KKN-KT FKIP Unila 2014, kami berkesempatan mengunjungi Bukit Pesagi, yang titelnya sebagai puncak tertinggi di provinsi kami, Lampung. Kenyataannya sebenarnya titik tertinggi ini bukanlah puncak gunung, tidak berkawah, tidak bisa disebut gunung juga, hanya barisan perbukitan yang sedikit melenceng horizontal terhadap bukit barisan selatan.
  
Letaknya di perbatasan provinsi Sumatra Selatan dengan provinsi Lampung, pada peta di atas bukit pesagi ditunjukkan oleh tegak lurus kearah utara dengan koordinat -4.862081, 104.207934   .Menurut berbagai sumber, bukit ini memiliki ketinggian 2230 Mdpl dengan view puncak sedikit tertutup dengan rimbunnya pepohonan. 

Jalur pendakian setidaknya ada dua, yakni lewat Desa Bahway, (10 km dari pusat kota Liwa, Lampung Barat) atau dari desa Hujung, kecamatan Belalau, Lampung Barat. Trek dari desa Bahway cukup landai jika dibandingkan dari desa Hujung, namun dari desa Hujung, meskipun treknya sangat curam, pemandangannya sangatlah menajubkan, anda juga bisa melewati aliran sungai dan air terjun yang sejuk sekali airnya. 
POS III. Sangking jernih dan segarnya, Anda bisa meminumnya secara langsung.

Kebetulan jalur yang kami ambil adalah dari desa Hujung. Kala itu desa ini adalah lokasi KKN teman saya, Andre, yang juga tinggal di kediaman ketua RT/RW di desa terakhir sebelum puncak pesagi ini. Jadi kami tidak memerlukan surat izin/biaya administrasi dan sebagainya. 

Perjalanan dimulai pada siang hari pukul 13.00 cuaca begitu terik dan berdebu, estimasi kami pukul 17.00 atau empat jam pendakian, kami sudah sampai di puncak. Perjalanan dimulai dari rumah kepala desa (sekitar Madrasah Tsanawiyah disana), kearah bukit melewati perkebunan kopi warga hingga kami berihenti di batas vegetasi yang rimbun. maksud kami pintu gerbang hutan yang tidak ditandai dengan plang/gerbang apapun. hanya terlihat lebih lebat dari tanaman kopi warga setempat.


View dari "gerbang hutan" kerah desa & kebun kopi warga, ditandai dengan rumah singgah terakhir. (Pos I)
Ritual membaca doa pun kami lakukan. Andre, pemimpin ekspedisi membawa secarik kertas pesanan bapak Peratin (kepala desa) untuk dibaca sebelum masuk hutan, istilahnya semacam permisi, semacam salam kepada makhluk lelembut dan semacamnya. Saya pribadi sih tidak ikut mengimami, dalam hati saja saya menolak membaca doa pada selain Allah. Saya hanya baca bismillah, Allahumma laa sahla.. Bagi saya, meminta izin pada Rabb yang memiliki dunia dan seisinya sudah sangatlah cukup untuk meminta perlindungan dan kemudahan dalam segala urusan. 
Susana Pos III dan kegiatan memasak kami.

Akhirnya pendakian kita mulai dengan koor semangat, perjalanan dimulai dengan tanjakan-tanjakan kecil lalu jalan datar menyusuri hutan semakin dalam. Dari gerbang hutan sudah mulai bisa didengar suara kicau berbagai burung, suara siamang yang saling bersahutan. juga suara hewan-hewan kecil semacam jangkrik atau Kreket. Ya, memang hutan bukit Pesagi masih sangat asri. Dibalik kisah mistik dan sejarahnya dahulu sebagai kediaman Empat Maulana penyebar agama Islam di bumi Skala Brak (Lampung Barat), gunung Pesagi menyimpan pesona alam yang begitu indah dengan sumber daya alam yang bisa dimanfaatkan oleh penduduk setempat. Mata airnya masih jernih dialirkan oleh pipa PVC kearah desa Hujung sebagai sumber mata air untuk kehidupan sehari hari. 

Satu jam perjalanan kami sangat terhibur dengan celotehan beberapa kawan, sebut saja Gandhi dengan gaya khas personifikasi orang Jaseng dengan logat bicaranya. Ya, kawan yang dapat menghibur kita selama perjalanan mendaki sangat dibutuhkan supaya tidak terasa begitu capek perjalanannya. Di Pos III kami baru berhenti sejenak. Sesekali guide kami, dua orang remaja lokal menyuruh kami diam tanpa alasan, atau meminta kami jangan menirukan suara siamang, atau lainnya. Kami turuti saja tanpa banyak bertanya. 

Oh ya, ada dua orang wanita yang juga teman KKN yang ikut nanjak, keduanya menjadi penyemangat(?), atau justru yang kami semangati (?) karena cukup beratnya medan. Merekalah pedal rem kami. Ya, pengendali/pengatur perjalanan kami, harus stop atau terus mendaki. 

Dari pos III treknya terus mendaki, sekitar 500m dari pos trek hampir selalu memiliki kecuraman yang fantastis, ada yang hampir 90 derajat malah. Kata saya "Ini mah manjat gunung, bukan naik gunung." karena melihat yang kami jadikan tumpuan sedari tadi adalah akar pohon yang ditutupi lumut. Udara lembab menjadikannya cukup licin. Nafas kami mulai tersengal, sepuluh langkah kami berhenti, karena banyak sekali halang rintang semacam pohon tumbang atau akar pohon yang memaksa kami harus membungkukkan badan atau melangkahinya dengan memanjatnya. 

Tak ayal perjalanan kami penuh dengan keringat. Sesekali harus berhenti menegak minuman, makan coklat, madu untuk menambah stamina. Perjalanan menanjak hampir kami habiskan selama 3 jam. sebelum puncak Pesagi Lunik(Puncak Kecil), pepohonannya mulai berbentuk aneh, sedikit spooky jika berjalan sendirian. Suasana juga sedikit berkabut. Nah disini, mulai saya rapel hafalan Al-Quran atau sekedar berdoa Subhanallahu Laa Yadurru maasmihi Syaiun fill Ardi walaa fissamaai wahuassamiiul Alim. Namun begitu cahaya matahari senja mulai nampak, ketakutan dan kekhawatiran kami sirna dengan pemandangan yang luarbiasa indah dan teriakan-teriakan lega. Puncak tidak lama lagi. 


Kamera saya berembun karena keringat dan juga lembabnya udara dan awan/kabut. (suasana senja di punggung bukit, kira-kira 15 menit sebelum Puncak).

Semangat kami pun seketika kembali melihat tanda-tanda puncak kian dekat. Yang kami percaya, setelah kesulitan pasti ada kemudahan. Setelah sedari tadi memberi tangan untuk digapai teman yang ada dibawah, memberi semangat dari jauh, dan bilang "ayo puncak sedikit lagi.", akhirnya sampai juga di punggung bukit, artinya perjalanan menanjak tidak akan sesulit tadi. Kami menapaki punggung bukit dengan suka cita karena masih ada turunan atau jalan landai. 

Tak berapa lama setelah tanjakan cukup terjal, sampailah kami di puncak. Suhu di puncak sangat dingin di sore dan malam hari hampir 14 derajat. HP tertentu masih mendapat sinyal di sudut tertentu juga. Terdapat 3 bedeng dari seng yang cukup efektif menghalau angin dingin di puncak ini. Selain itu ada Musholla! berbentuk panggung kecil dengan atap dan ujung bulan bintang dari alumunium. Sempurna.  
Seluruh anggota tim dengan latar suasana subuh menjelang sunrise


Kami pun mengakhiri pendakian dengan hamdalah, Shalat maghrib jama' khosor dengan isya. Di puncak kami tidak sendiri sudah ada satu bedeng terisi oleh orang-orang dari Sum-sel. Kami pun mulai membuat api dalam bedeng untuk memasak dan membuat api di luar untuk menghangatkan badan. 

#SEDIKIT TIPS YANG PERLU DIPERHATIKAN :

  1. Bawalah air yang cukup, 1 orang minimal 2 botol 1,5 liter


  1. Minimalkan barang bawaan yang tidak perlu dan terlalu berat mengingat tanjakannya sangat curam


  1. bawalah kompor portable yang bisa dihidupkan dalam tenda, mengingat angin puncak cukup kencang. atau bawa spirtus dan bekas botol minuman bersoda untuk tempat menghiupkan spirtus yang dituang diatasnya sebagai kompor. 


  1. Suhu di puncak sangat dingin, apalagi di bulan juni-september (musim kopi berbunga/kemarau). Bawalah selalu sleeping bed kepompong dan matras sebagai alas, skebo, sarung tangan dan kaos kaki.


  1. Jika membawa kamera atau HP, taruhlah di tempat yang aman supaya tidak berembun lensanya. tutupilah dengan plastik dan simapanlah di tas dengan cover. 


  1. Di puncak ada sumber mata air (Sumur Tujuh) jika anda turun sedikit, tapi belum tentu ada air di 7 cerukan tanah mirip kuali. maka bawalah air yang cukup. 


  1. Jangan corat-coret atau buang sampah sembarangan. Ingat itu dosa.


Paku dengan latar "Samudra diatas awan" & sunrise 


0 komentar:

Copyright © 2012 Menceracau.com.