If You can imagine it, You can make it.

Salam Ceracau!

Selalu yang diingat dari si pendiri Disney Land, Walt Disney tentu saja quote nya, “If you can imagine it, you can make it.” Nah, semua quote hanya akan 'berasa' di diri kita jika kita pernah mengalaminya, begitu juga dengan lagu yang “gue banget nih”, ramalan sifat golongan darah yang “aku banget ini” dan sebagainya. Sebagian besar pasti akan sangat ‘berasa’ jika kita pernah mengalaminya.

Saya tidak berusaha untuk melegitimasi quote di atas sih sebenarnya, hanya saja bagaimana jika kita mendapatkan sesuatu yang justru tidak pernah kita bayangkan sebelumnya? membayankan saja belum kesampaian kok tiba-tiba sudah diberi, Bukannya itu lebih seru? 

Cerita ini coba saya sampaikan pada sobat ceracau tentang bagaimana saya, seorang mahasiswa pemalas yang jarang mengerjakan laporan praktikumnya tepat waktu, mahasiswa yang tinggal di masjid kampus, bujang tanggung dengan kemampuan bahasa inggrisnya tidak seberapa, apalah-apalah, diberikan karunia oleh Tuhan untuk berangkat ke Korea Selatan sebagai duta bangsa yang mewakili provinsi Lampung dan Indonesia dalam pertukaran pemuda-pemudi terbaik kedua bangsa. 

Kisahnya bermula saat saya mempersiapkan aplikasi (surat lamaran) untuk program MEP (Moslem Exchange Program) 2013 Australia. Penutupan pengiriman aplikasi via pos adalah sekitar pertengahan bulan Desember 2013. 

Artinya waktu yang saya miliki untuk mempersiapan berkas adalah kurang dari tiga minggu. Nah berkas yang sedikit susah didapatkan adalah sertifikat TOEFL ITP diatas 500 dan surat rekomendasi dari organisasi islam/sosial . Karena Teofl ITP, pilihan saya ada dua, mendaftar di Balai Bahasa Kampus dan menunggu kursi terisi entah sampai kapan, atau nekat harus pergi ke Jakarta untuk mendapat jadwal dan menerima hasil tes satu minggu setelahnya. 

Saya pun mulai mencari jadwal terdekat untuk tes TOEFL, malangnya seteah saya telpon beberapa lembaga Les/Kursus Bhs. Inggris tentang reservasi kursi, tidak ada satupun diataranya yang bisa dipesan via telpon, sungguh sangat disayangkan. 

Baiklah, pihihan kedua sekaligus yang terberat harus saya jalani. saya harus pergi ke Jakarta hanya untuk memesan kursi dan kembali pergi ke jakarta lagi seminggu kedepan untuk tes. Karena pemesanan kursi maksimal 1 minggu sebelum tes. Tinggal perginya ada dua opsi, naik bus dan berhenti entah dimana dan kesulitan mencari angkutan, atau naik motor bebek dengan iming-iming pengalaman baru dan pengetahuan jalan baru. Tentu saja dengan naik motor, kita bisa langsung menuju tujuan, walaupun mungkin akan sedikit capek. 

Saat itu tidak ada pikiran untuk meminta bantuan kenalan atau siapapun teman yang ada di Jakarta, satu, memang tidak mau merepotkan orang yang tidak begitu saya kenal, dua, sepertinya sudah tabiat saya suka mendramatisir keadaan dan menyulitkan diri sendiri demi obsesi jaman dulu untuk touring naik motor ke pulau Jawa.   

Mendaftar pun saya lakukan dengan naik motor ke daerah Pancoran, Pasar Minggu tepatnya, ILP Pancoran. Perjalanan naik motor sendirian pun saya lakoni, dari situ saya mulai tau cara menyebrang ke pelabuhan, berbagai tarif tiap kendaraannya, situasi dan strategi supaya cepat masuk kapal dan turun kapal.
"NG" Nama motor kesayangan saya yang selalu menemani saya Travelling kemana saja.

Tarifnya untuk motor masih sekitar 33.000, 11.000 untuk per-orang tanpa kendaraan, jadi motor terhitung 3 orang. Saya menghitungnya rugi, karena jok belakang saya kosong. Sedangkan tarif sekarang sudah 49.000 kalau tidak salah.  

Saya masih ingat sekali harus berhenti kelabakan di daerah Jakarta Selatan, karna sampai pukul 3.00 dini hari. Yang terlintas di pikiran saya hanya mencari masjid. Bekal saya GPS, maka pergilah saya mengikut petunjuk GPS ke daerah Kemang, lekat sekali di ingatan, saya sempat kecewa karena masjid yang saya datangi dan harapan terakhir saya untuk istrahat, menyelonjorkan kaki ternyata ditutup. 

Di benak saya, untuk apa masjid dibangun kalau hanya untuk ditutup, perasaan saya sebagai mushafir kali ini terasa dideskriditkan, akhirnya saya hanya tidur di dipan sebuah pangkalan ojek samping masjid sembari menggembok motor dan mengaitkannya ke kaki saya. Pikir saya, lumayan lah, tidur 1-2 jam sampai menunggu azan subuh berkumandang. 

Saya tidak benar-benar tertidur hingga adzan subuh keras sekali membangunkan saya dari 'tidur ayam' saya. Segera setelahnya saya segera memasukkan motor ke dalam halaman masjid lantas menegakkan shalat shubuh. 

Usut punya usut, ternyata ILP Pancoran tujuan saya tidaklah jauh dari masjid tempat saya pertama kali singgah. Untuk perjalanan se-pagi itu saya tidak sampai membutuhkan waktu seperempat jam untuk sampai di depan gedung ILP Pancoran (Pasar Minggu). Saya harus mengisi perut saya yang sejak semalam hanya diisi nasi goreng di daerah depan perpabrikan Tanggerang Barat, itupun jauh sekali dari Jakarta, sudah habis energinya terkuras di perjalanan. 

Selesai makan semangkuk bubur ayam, ekspektasi saya tentu saja kantor ILP sudah buka. Eh, ternyata hingga pukul sembilan lewat belum juga ada pegawai resmi yang bisa melayani saya. Lepek sudah rambut basah tanpa gel rambut hasil numpang mandi kelar subuh tadi, hanya beberapa petugas cleaning service yang sekali dua lalu lalang didepan daya. Mungkin hendak membersihkan koridor utama yang dipenuhi bangku tunggu panjang khas tempat-tempat antrean macam di stasiun-stasiun. 
Tempat saya membeli semangkuk bubur depan gedung ILP Pancoran

Akirnya petugas yang saya maksud datang juga, itupun tidak bisa langsung melayani keperluan saya. Sesekali si Embak dengan blus kantoran ini mengangkat gagang telepon entah menelpon siapa memastikan kursi Tes TOEFL ITP yang saya hendak pesan masih tersedia. Ya, akhirnya saya sudah melakukan reservasi, Si Embak mengingatkan untuk Tes akan dilaksanakan di minggu berikutnya pukul 8 pagi tepat. 

Begitu keluar gedung ILP yang juga masih berdampingan dengan salah satu Bank Swasta ini, susasana sesak kota Jakarta di pagi hari kerja memenuhi dada saya, sumpek-sesak saja rasanya, Deru kendaraan terdengar dimana-mana, asap mengepul, klakson bersahutan. Ah, sudah tidak tahan lagi berlama-lama di kota ini, saya putuskan hari itu juga segera pulang ke Lampung tanpa mampir kemana-mana. Gedung ILP bekas salah satu tempat bimbingan belajar di Jakarta selatan ini sepertinya sudah tidak bersahabat untuk di tinggali lebih lama. Pagi itu juga saya kembali mengendarai sepeda motor saya untuk kembali. kembali ke rumah dimana ketenangan bisa diperoleh dengan mudah. 


***    

Sebelum genap satu minggu setelahnya saya bergegas mempersiapkan diri untuk tes sesungguhnya, ya, ujian sesungguhnya, Tes TOEFL. dan usaha yang saya persiapkan bisa dibilang seadanya, hanya membeli 2 buku tebal tentang persiapan TOEFL dari rekomendasi kakak Tingkat kenalan di kampus yang sudah berpengalaman, kak Anwar Fadila. Buku tersebut saya beli di kios bawah Ramayana pasar bawah Bandarlampung, Tentu saja saya tidak mampu membeli yang asli, KW jauh pun tetap saya beli. untuk kali ini isi lebih penting. maafkan saya.

Rencana saya sebelumnya, saya harus tiba di Jakarta, dekat-dekat dengan tempat tes sebelum matahari terbenam. Artinya saya harus berangkat sangat pagi dari Bandarlampung, tujuannya tentu supaya mendapat tempat menginap dan berharap tidak terlalu malam. Tentu seperti yang sobat ceracau bisa tebak, tempat singgah sekaligus menginap saya opsi pertama dan terakhir adalah masjid disekitar sana. 

Tak terbayang bagaimana perjalanan siang hari dengan sepeda motor non stop dari Bandarlampung-Jakarta Barat. Di saat penjalanan akan mendaftar (minggu lalu) saya ingat sekali harus ganti rantai motor karena putus dan merusak beberapa komponen disekitar gear belakang, juga sempat bocor ban lewat tengah malam di daerah Tanggerang barat. Perjalanan kali ini Alhamdulillah tidak ada halangan yang berarti. Hanya pemandangan seperti biasa, macet penuh sesak hingga panas terik yang melahirkan peluh dimana-mana membasahi jaket dan sarung tangan saya. 

Meskipun begitu ternyata sampai di daerah Cileduk tepat pukul 21:00, sepertinya seingat saya kapal RORO dari Bakauheni sedikit terlambat sandar di Merak, Perjalanan yang seharusnya hanya 2 jam harus ditempuh dengan 4 jam plus kapal bergoyang kesana-kemari akibat hantaman ombak dari berbagai sisi. 

Di daerah Cileduk saya tidak langsung dapat masjid yang bisa disinggahi, di waktu semalam itu beberapa masjid yang tentu saja sudah kelar shalat isya buru-buru menutup pintu gerbangnya. beberapa bahkan sudah gelap tanpa ada lampu yang dihidupkan, berhenti di dua masjid dan ternyata tidak berhasil masuk, masjid ketiga di kiri jalan ternyata bisa disinggahi. Saya sudah berlagak jadi orang sekitar sedari tadi memarkir motor di belakang pohon sejenis semak. Tentu saja dengan kunci ganda (gembok 2 biji) dan sensor sentuhan untuk menghidupkan motor saya. Itupun saya ingat masih sangat gelisah khawatir nanti motor saya hilang.
Masjid tempat saya singgah

Waktu sebelum merebahkan badan saya gunakan untuk mandi dan mengecas HP, shalat isya' sudah dijamak taqdim di daerah Tangerang tadi sore. Maka dua buku tadi saya keluarkan untuk sedikit "formally" belajar. Kenyataannya tidak benar-benar belajar, pegal-pegal di daerah punggung sudah minta direbahkan. Setelah minum multivitamin saya kemudian mengamankan barang2 berharga ke dalam jaket yang saya pakai untuk tidur. dan sisanya di dalam tas saya gunakan sebagai bantal. Alas tidur tentu saja hanya sajadah masjid. 

Yang terus saya dialogkan pada Allah tentu saja tentang pengorbanan yang telah saya alami. "Sisanya saya serahkan padaMu ya Allah" begitu batin saya.
Baju yang sempat saya cuci

Paginya, saya masih sempat mencuci pakaian dan menjemurnya di lantai atas masjid yang sudah tidak dipakai. Karena tesnya masih jam 9, Saya putuskan sarapan di dekat tempat tes saja untuk menghemat energi. Setelah mandi dan beres-beres termasuk mempersiapkan alat tulis (pensil 2B dan penghapus) saya sudah melesat kearah Jakarta membelah ramainya kendaraan sepagi itu. Masih sekitar pukul 7, saya sudah sampai di depan gedung ILP Pancoran, sisa waktu sebelum tes akan saya habiskan untuk sarapan, mencerna makanan, melihat ruangan tes saya dan tentu saja waktu bersantai dan belajar lagi. 



Singkat cerita akhirnya saya tes dan mendapat nilai TOEFL pas-pasan 497, saya kecewa sekali hasilnya tidak seperti yang saya harapkan, tapi saya sadar ini tes perdana saya. Artinya saya benar-benar belum bisa mengandalkan keterampilan bahasa inggris ngawur-ngawuran saya ini. Harus banyak belajar tenses lagi, belajar susunan kata lagi, kalau listening alhamdulillah saya tidak menemui banyak masalah. Hanya artinya harus banyak belajar lagi, termasuk les mungkin?.
Ruangan Tes TOEFL-ITP di ILP Pancoran

Hasil tadi keluar seminggu setelah tes, saya pulang tes pun langsung, tanpa mampir-mapir untuk sekedar belanja dsb. padahal biasanya di kota-kota lain saya cukup gemar belanja, walaupun tahu barang-barang olahraga cukup murah di sini, nyatanya saya tidak tertarik untuk mampir. Maka jadilah saya langsung pulang, dan untuk hasil yang juga tidak bisa minta dikirimkan via pos, harus di ambil langsung, saya cukup minta teman/kenalan di sekitar Jakarta untuk mengambilkan dan langsung mengirimkannya pada saya. 

Akhir cerita setelah saya pontang panting melengkapi dan meminta berbagai syarat untuk pendaftaran MEP Aussi, termasuk surat rekomendasi dari organisasi islam (Muhammadiyah) yang saya harus mintakan pada Ketua PW Muhammadiyah, pada akhirnya saya tidak dipanggil juga untuk sesi wawancara. Kecewa kembali menerpa saya. Tapi saya pikir ditolak itu sudah biasa, kenyataannya saya tidak butuh waktu lama untuk move on.

Kesempatan kedua datang untuk pergi keluar negeri mewakili Provinsi dalam PPAN 2014 (Pertukaran Pemuda Antar Negara) kebetulan untuk Lampung, kuota tahun ini hanya ada Korea Selatan untuk laki-laki, sisanya untuk perempuan. Saya ingat betul 2 tahun sebelumnya di tawari teman untuk ikut daftar dan saya menolak karena alasan ketidak yakinan saya akan prestise program ini. pikir saya apa lah organisasi bernama PCMI (Purna Caraka Muda Indonesia) yang terasa asing di telinga saya waktu itu. 
Website PCMI Lampung

Dan akhirnya They broke my heart karena keduanya benar-benar berangkat ke negara tujuan mereka masing-masing (Kanada dan Aussi), kali ini kesempatan kembali membuka pintunya. Saya yang saat itu baru tahu 5 hari sebelum hari penutupan bergegas melengkapi berkas aplikasi. Saya persiapkan benar-benar, tapi tentu saja dengan ekspetasi yang tidak berlebihan, pikir saya nothing to loose lah "baru pertama kali nyoba gak papa gak lulus" pikir saya. Siapa tahu tahun depan kalau mendaftar kembali, sudah ada kredit poin karena sudah pernah nyoba sekali dan gagal. 

Fokus saya waktu itu adalah untuk mencari kenalan dan mengenal medan. Maka di waktu seleksi hari pertama setelah tes tertulis, saya biasa aja mengajukan diri ketika diminta menghibur teman-teman peserta lain oleh MC, sembari menunggu hasil tes tertulis keluar. 

Waktu itu di depan sekitar 70 lebih peserta yang mendaftar untuk 4 program (kouta 4 orang), saya beranikan diri untuk stand up comedy di depan mereka. Hasilnya tidak mengecewakan bagi saya, enatah bagi teman-teman apakah memang hanya tertawa kasihan atau memang benar-benar tawa lepas, karena saya temui banyak teman-teman yang sangat jaim dan berusaha tanpil sebagai good boy/girl, sulit sekali menebak makna tepuk tangan n tawa mereka. jadi saya putuskan ambil sikap cuek saja. 

Begitu hasil seleksi keluar, yang pertama kali di panggil dari semua peserta adalah nomor saya, 53. Saya bersyukur bisa melanjutkan ke sesi wawancara dan tes bakat/kesenian yang juga dilaksanakan di hari yang sama. Akhirnnya hingga lewat tengah malam tes tersebut barulah selesai, bagi peserta yang lolos seleksi hari itu akan diumumkan sore hari berikutnya untuk mengikuti Regional Training, semacam karantina 2 hari untuk penyeleksian tahap akhir untuk pemilihan final 1 peserta yang berhak berangkat tiap programnya. 
Lampung Delegates; Ave-Hesti-Mia-Ade

Alhamdulillah, nama saya masuk diantara 3 laki-laki dan sekitar 12 orang perempuan. Masih lekat dalam ingatan saya, alamat yang tertera di papan pengumuman masih Masjid Al Wasi'i Universitas Lampung. Tidak masalah bagi saya. 

Singkat cerita setelah 2 hari yang melelahkan, tidur hanya tidur ayam, diberi tekanan oleh alumni pertukaran, hingga sempat name tag saya disembunyikan panitia, project sosial singkat dan presentasi yang menguras tenaga, serta persiapan Final Cultural Performace yang di tonton pejabat Dispora Provinsi yang melelahkan. Atas izin Allah SWT nama saya muncul di papan pengumuman Dispora Provinsi 1 hari berikutnya. Saya yang saat itu bersama Ibu saya di teras rumah larut dalam suasana senja kontan langsung sujud syukur. Bahkan ibu saya sempat tidak percaya melihat kiriman foto via WA dari grup peserta regional training, hingga saya diminta melihatnya kembali.


Alhamdulillah, satu pintu rezeki telah dibuka dan satu dari 100 mimpi saya yang saya tempel di lemari kembali saya akan coret. Saya sama sekali tidak menyangka rezeki ini datang bahkan tanpa saya bisa bayangkan sebelumnya, kali itu saya tidak melakukan apa itu yang namanya visualisasi mimpi untuk go abroad dekat-dekat ini. Apalagi ke KoreaSelatan. Tidak pernah terbayangkan. 

Belakangan saya baru tahu kalau ternyata sebenarnya yang berangkat berdasarkan keputusan panitia seleksi bukan saya, tapi orang lain yang sudah mencoba 3x. Saya pun sebenarnya juga kaget kenapa bisa saya yang terpilih berangkat, ingatan saya kembali pada saat saya menghilangkan nametag saya itu, pukul 2 tengah malam dan terpaksa teman-teman harus mencarikannya untuk saya dan tidak boleh tidur sebelum nametag tersebut ketemu. Kacau sekali pikiran saya, tidak ada harapan lagi.

Tapi mungkin takdir telah dituliskan, pertolongan Allah datang pada saya, padahal kalau dipikir-pikir punya dekengan siapa lah saya ini? Punya uang pun tidak? Apalagi relasi yang disebut 'orang dalam'?. Saya hanya berbaik sangka Allah telah membersihkan jalan saya karena setiap hari saya membersihkan rumahNya. Sementara ini itu yang saya yakini, jika saya menolong agama Allah, maka jelas Ia akan menolong saya. 

Teman-teman juga yang sudah tahu bukan saya yang berhak berangkat berdasarkan keputusan panitia juga hanya bisa membesarkan hati saya, mungkin ada penilaian lain di saat Cultural Performance di akhir kesempatan dimana saya menjadi pemeran utama, dan Alhamdulillah saya all out terutama saat memainkan nunchaku a.k.a double stick
Incheon Developing Area Park 

Inilah kisah salah satu kekagetan saya pada pertolongan Allah, rejeki yang tidak terduga-duga. Yang selalu saya percaya, rejeki tidak akan tertukar. Jadi bagi saya, mimpi menjadi kunci. dengan memilikinya, kita berkesempatan untuk membuka pintu-pitu peluang yang menjanjikan hadiah tak terduga, ibarat undian jalan sehat, mimpi adalah kupon yang nanti akan diundi, tidak punya kupon berarti tidak ada kesempatan menang.

Maksud saya begini, seperti potongan film "Life of a King" bilang, "Think about the end-game, and your mind will guide you there" Pikirkan akhir permainannya, maka pikiran anda akan menuntun anda kesana. Jadi modalnya ya hanya mimpi, dengan mendefinisikan mimpi anda dan melaksanakannya dengan langkah-langkah konkrit yang maksimal, maka biarkan Allah yang menilai, yang memberi hadiah jikalau kita pantas. Jadi tidak perlu takut sesedikit apa sarana yang sobat punya sekarang, segila apapun mimpi itu selama usaha kita lebih gila dari itu, tidak perlu takut.


  

0 komentar:

Copyright © 2012 Menceracau.com.