Pergilah ke Masjid Selagi Masih Punya Kesempatan

Yang selalu saya ingin bilang bahwa pelajaran dapat kita ambil dari manapun, sesepele apapun, sedekat apapun dengan kehidupan kita sehari-hari. 

Kita hanya perlu membuat mata kita lebih jeli, membuka telinga lebih lebar,dan hati yang lebih lapang untuk menerimanya. 

Seperti kejadian yang saya alami siang ini. Sudah satu malam saya menginap di kostan milik teman saya di daerah Jalan Kaliurang Km. 13 Sleman Yogyakarta. Perjalanan dari Malang setelah mendaki Mt.Semeru dengan kereta hingga Jogja belum memulihkan stamina saya setelah mendaki, begitu juga dua hari satu malam acara reuni Satu Dekade Angkatan kami 85 di Muallimin Yk. dulu di daerah sekitar kaliurang masih menyisakan pegal-pegal di sekitar punggung dan tulang belakang. 

Jadilah saya menginap di kosan ini sebelum tebengan untuk pulang ke Lampung datang hingga dua hari kedepan. Si pemiliki kosan justru hendak berlibur sejenak setelah UAS di kampusnya. Jadilah sementara saya tinggal sendiri di kosan beliau. 

Nah poinnya adalah, sobat ceracau tahu lah, biasanya banyak anak kosan yang justru malas pergi ke masjid, shalat tepat waktu berjamaah, atau justru ada yang tega meninggalkan shalat wajib. 

Jangan salah sangka itu juga saya alami selama satu malam kemarin. Saya yang tidak biasa tinggal di kosan (biasanya numpang nginep di masjid), menemukan dan merasakan keleluasaan untuk meninggalkan kewajiban itu, ya katakanlah lebih memilih nonton TV, Nonton film, Download atau surfing di internet (mengingat wifi nya lumayan). 

Merasa ada yang kurang dengan membuat shalat maghrib kemarin hingga shubuh tadi saya lakukan di kamar kosan saja. Saya putuskan hayuk sebelum zhuhur saya mandi dan segera bersiap-siap menuju masjid (padahal masjidnya deket bener) dengan pecis di kepala, baju gamis yang sengaja saya bawa, dan tidak lupa wewangian saya semprotkan. Ini bukan hari Jumat tapi saya senang melakukannya, semacam ada rasa tenang menyeruak kedalam dada. Segar. Meskipun fisik masih lelah, batuk berdahak dan pilek masih mengganggu.

Eh, (sering sekali saya pakai kata eh: maaf) hal mengejutkan saya temui di masjid As Sa'adah (masuk gang ke kiri dari arah kota Jogja sebelum indomart km 13) ini, saya lihat banyak motor roda 3 modifikasi dengan tempat duduk di sebelah kiri motor khas untuk pengguna motor disable/penyandang cacat. Dan itu tidak hanya satu dua, lebih dari 3 saya rasa. 

Mulailah mata saya merekam bagaimana para penyandang cacat, entah dengan kekurangan bagian tubuh, asimetri, atau arthrofi bagian kaki, cacat lahir dan sebagainya mengambil wudhu hingga shalat sunnah qabla zuhur. Saya berusaha tidak acting berlebihan dengan berusaha membaur dan berlaku biasa saja seperti jamaah shalat yang normal fisiknya. Tapi mata dan telinga saya masih terus merekam aktifitas tidak biasa itu. 

Pemandangan pertama yang saya ingat begitu srlesai wudhu dan memasuki masjid adalah kaligrafi di dinding masjid. Terlukis dengan indah ukiran surat Al-Mukminun 1-20an diatas kayu berplitur dengan warna coklat muda berkilau. Tentu artinya dalam sekali di hati saya. Saya ingat betul dulu ketika masih di pesantren seorang guru(ustad) karismatik mengajarkan kami setiap sebelum belajar mata pelajarannya (bhs. Arab) untuk membaca dan menghafalkan surat Al Mu'minun 1-14 yang mengisahkan tentang golongan orang mukmin yang beruntung akan mewarisi syurga Firdaus. 

Saya yang kebetulan sudah hafal sebelumnya, ketika beliau minta siapapun yang sudah menghafal ayat tersebut akan dibetikannya sejumlah uang untuk jajan nanti selepas istirahat langsung mengangkatkan tangan mengajukan diri. Saya ingat betul itu akhirnya uang 5.000 rupiah menjadi teman saya di waktu istirahat sekolah datang. Senang bukan main.

Kembali ke masjid tadi, belum selesai keheranan saya dengan seisi masjid yang justru didominasi kalangan disable/penyandang cacat yang berfariasi caranya melakukan shalat shunnah, saya dikejutkan dengan imam yang maju setelah iqaamah dikumandangkan. Seorang bapak dengan postur kurus tinggi berkacamata melompat lincah dengan satu kaki menuju mihrab pengimaman. Wow! Beliau imamnya. 

Oke, saya harua bersikap se-natural mungkin jadi saya tidak sempat mengabadikan momennya berdiri dengan satu kaki menggunakan kamera ponsel saya. Nah saya juga harus fokus shalat. 


Jujur di sela-sela shalat ada pikiran tentang begitu Masyaa Allah luarbiasanya mereka-mereka ini yang masih menjaga shalat wajib berjamaah dimasjid dengan kondisi fisik demikian yang seharusnya sangat bisa mereka jadikan alasan untuk meninggalkan kewajiban ini. Saya bandingkan dengan teman2 di kosan tadi yang begitu azan berkumandang masih sibuk dengan dunianya masing-masing.

Dari sini saya melihat justru islam itu begitu mudah. Buktinya mereka bisa menjalankannya. Tidak perlu sempurna gerakannya, duduk pun mereka lakukan. Dari sana saya dapat melihat betapa kuatnya mereka, fisik dan hatinya. Betapa bersyukurnya saya waktu itu diberikan pemandangan demikian untuk menyadarkan diri saya betapa lemahnya saya dan betapa indahnya islam mengajarkan kedisiplinan pada siapapun. Bahwa agama ini begitu sempurna, sedangkan mereka dan saya tidak.

Di akhir shalat sunnah ba'da zuhur saya menyempatkan mengambil beberapa foto. Saya jadi tidak sabar untuk shalat Ashar lagi di masjid itu.


0 komentar:

Copyright © 2012 Menceracau.com.