Sekura Melintasi Ruang Dan Waktu




Jendela Nusantara di awal tahun 2015 ini akan membahas berbagai khazanah kebudayaan Indonesia yang hampir terlupakan atau berusaha dilestarikan. Kami mulai membahasnya dari Provinsi Lampung. Selamat Membaca.

Akulturasi budaya akan terjadi di belahan bumi manapun, begitu juga di bumi Skala Brak (Kerajaan Kuno di Lampung). Penyebabnya banyak, mulai dari komposisi masyarakat yang berubah dengan hadirnya pendatang dari berbagai latarbelakang kebudayaan yang berbeda, hingga bergerak dinamisnya zaman menuju era globalisasi dan modernisasi.

Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi kebudayaan lokal yang kaya di seluruh pelosok nusantara untuk terus bergeliat. Lampung dengan sebutan “Serambi Sumatra” punya beragam komposisi masyarakat mulai dari suku lampung, Jawa, Bali, Batak, Ogan, hingga keturunan Tionghoa.

Banyaknya pendatang menjadi tantangan bagi kebudayaan lokal untuk bisa mencari peminat dan penikmat yang turut mendukung pelestariannya. Tentu saja, dengan komposisi masyarakat yang bertambah membuat kebudayaan lokal menjadi semakin kaya dan berkembang.
Mantan Gubernur Lampung: Syahrudin ZP

Sekura sebagai seni dan kebudayaan Lampung adalah salah satunya, disamping bahasa daerah yang di beberapa daerah lain juga terjadi hal yang sama. kurang pelestariannya.

Di samping sastra (tradisi lisan dan Aksara Lampung), ternyata khazanah budaya Lampung juga menyimpan seni tupping (topeng). Di Kabupaten Lampung Barat dan Tanggamus umpamanya, dikenal sekuraan, sebuah pesta topeng tradisi untuk merayakan Hari Raya Idulfitri, 17 Agustusan, atau acara seremonial lainnya.

”Seperti halnya nasib seni tradisi Lampung lainnya, sekuraan pun tidak luput dari ancaman kepunahan. Gerusan globalisasi dan modernisasi yang tidak tertahankan menghantam dan mengancam keberadaan seni tradisi, tak terkecuali sekuraan. Padahal sekuraan dalam tataran budaya daerah Lampung mempunyai arti yang cukup penting sebagai sarana bersilaturahmi dan juga menampilkan kebebasan berekspresi lewat topeng.” 
--- (www.ulunlampung.blogspot.com)

Berangkat dari penelitian Lilia Aftika, ada dua versi asal-usul sekuraan. Versi pertama menyebutkan sekuraan sudah ada sejak zaman Hindu.

Topeng-topeng yang dikenakan merupakan penjelmaan orang-orang yang dikutuk dewa karena berbuat tidak terpuji. Perbuatan tidak terpuji yang dimaksud adalah tidak mengakui adanya dewa yang patut disembah. Akibatnya, rupa mereka menjadi buruk.

Versi kedua, menurut Lilia yang menulis skripsi tentang seni sekura, menyebutkan sekuraan berasal dan bermula pada zaman Islam. Alasannya, pelaksanaan acara ini diadakan untuk memeriahkan dan menyambut Hari Raya Idulfitri dan umat yang merayakan Idulfitri adalah umat Islam.
"Tidak jelas tahun dan abad berapa acara ini mulai diadakan, tetapi menurut perkiraan, Islam menyebar di Lampung Barat sekitar abad ke-13. Dengan demikian, timbul anggapan sekuraan diadakan pertama kali sekitar abad ke-13," kata Lilia.

Lilia mengatakan versi kedua di atas tampaknya lebih meyakinkan dan lebih masuk akal. Alasan yang menguatkan, yaitu hari perayaannya menggunakan tanggal Islam dan hari raya Islam. Di samping itu, dalam pelaksanaannya tidak menunjukkan dan menonjolkan tokoh-tokoh seperti dewa-dewa atau nama-nama yang berkaitan ajaran Hindu.

Ada dua jenis sekura, yaitu sekura kamak dan sekura kecah. Sekura kamak berarti sekura kotor yang berfungsi sebagai penghibur bagi penonton. Sekura ini disebut demikian karena pakaian dan topeng yang dikenakannya kotor, misalnya busana tani atau tetumbuhan. Fungsinya menghibur pengunjung. Hanya sekura kamak yang diperkenankan menaiki pinang berisi berbagai macam hadiah.

Sedangkan sekura kecah berarti sekura bersih. Disebut demikian karena kostum yang dikenakan bersih-bersih dan rapi. Sekura jenis ini berfungsi sebagai pemeriah dan peramai peserta.

Untuk menjadi sekura kecah diperlukan beberapa ikatan jarik dan menutupi wajah dengan kacamata hitam. Sekura inilah yang berkeliling pekon atau dusun untuk melihat-lihat dan berjumpa dengan gadis pujaannya. Sekura kecah diperankan meghanai (laki laki belum menikah).

Dari sumber lain, Sekura diperkirakan merepresentasikan kisah Maluna Empat Paksi yang tertuang dalam novel sejarah “Perempuan Penunggang Harimau” yang menceritakan masuknya agama islam kedalam kebudayaan animisme-dinamisme kerajaan Skala Brak lewat keempat pendakwah tersebut.

Mulana Nyerupa yang difugurkan sebagai Agen rahasia dan mata-mata yang dengan cara yang tidak terduga dapat mengrogoti kekuasaan Raja Sekeghumong kala itu.

Lewat sekura Kamak (jahat/kotor), pendakwah merepresentasikan pribadi yang konfrontif dan suka melawan terhadap pemerintahan dan prajuritnya yang dzalim kala itu, sehingga mendapat dukungan dari kaum budak dan tertindas.

Di sisi yang lain dengan menggunakan pakaian yang rapi ala sekura Kecah (bersih) para pendakwah menyampaikan ajaran Islam yang luhur sehingga banyak masyarakat tidak enggan menanyakan hal-hal yang mereka tidak tahu. Menarik memang, dua sisi dan dua jalan yang berbeda untuk mencapai tujuan yang sama.

Hal inilah yang sering dilupakan esensi dan maknanya oleh para penikmat dan pelaku sakura. Bahwa upaya menutupi dirinya dengan topeng dan atribut lainnya seperti kacamata adalah upaya spionase ala-ala agen rahasia di zaman yang telah lalu. Dan masyarakat kala itu telah mengenalnya. Mengagumkan.

Semoga budaya ini tetap lestari dan dikenalkan pada generasi berikutnya dengan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Salam Jendela Nusantara. 
‪#‎ikyep2014‬ ‪#‎aikuna‬ ‪#‎jendelanusantara‬ ‪#‎ppikor2014‬
Sumber-sumber :

Novel "Perempuan Penunggang Harimau” karya M. Harya Ramdhoni

Majalah Ekraf Lampung Post Edisi 28 Agustus 2014. Pesta Sekura yang Meriah. Rubrik Budaya

http://lampungtraveller.blogspot.com/…/wisata-budaya-pesta-…

http://ulunlampung.blogspot.com/…/sekuraan-sebuah-pesta-top…

http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/…/novel-sejarah-lam…

3 comments:

  1. mantap, menggali khasanah budaya tempat tinggal kita tercinta..

    ReplyDelete
    Replies
    1. sip pak.. mohon dukungannya.
      masih belajar

      Delete
    2. sip pak.. mohon dukungannya.
      masih belajar

      Delete

Copyright © 2012 Menceracau.com.