Travel A Thousand Miles Again: Ekspedisi Mt. Semeru (3676 Mdpl)

Tepi danau Ranukumbolo  

Selain bepergian ke S.Korea, traveling saya yang paling jauh yang bisa dikatakan perjalanan seribu kilometer mungkin adalah pengalaman bulan juli akhir 2015 kemarin, ya, pendakian singkat ke arah gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur.

Saya ingin berbagi pada sobat ceracau lewat catatan ini saya mencoba menggambarkan bahwa traveling sendiri sebenarnya bukan sepenuhnya ide buruk untuk dilakuakan. Selain itu bahwa terkadang keinginan yang baru kita state (katakan-secara tidak sengaja/asal-asalan) bisa jadi kenyataan dengan tidak kalah mengejutkannya.


Ini semua kadang diluar batas keyakinan kita akan kemampuan diri yang belum begitu meyakinkan. Bayangkan bagaimana sebelum perjalanan ke Malang, Jatim, saya berkesempatan mengantarkan kedua orang tua dan dua adik kembar saya ke Jogja disekitar awal bulan Juni. Jadi saya ceritakan perjalanan ke Jogja terlebih dahulu sebelum ke Malang.

Si Kembar Fuad & Faiq kebetulan sudah diterima di Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta setelah tes di bulan Januari/Februari awal tahun 2015 kemarin. Alkisah karena kebetulan kembar dan memang ada mobil yang bisa diandalkan, keluarga kami menspesialkan dua adik-kakak ini untuk diantarkan langsung ke pesantren di Jogja, padahal dari zaman ke zaman anak pertama dan kedua Keluarga ini selalu diantarakan hanya dengan naik Bus AKAP dan tidak pernah lengkap Bapak-Ibu, kadang hanya Bapak saja, kadang hanya Ibu saja yang menyertai masuknya kami ke pesantren.

Tahun ini karena termasuk barang bawaannya double, maka kesempatan mencoba mobil baru untuk bepergian ke Jawa dan rencana Ibu-Bapak mampir ke beberapa Kota, memberanikan kami, Bapak terutama untuk mencoba Jalan Tol di Pulau Jawa. Hal ini tentu saja wajar bagi kami orang sumatra yang belum pernah mengendarai kendaraan sendiri di Tol, lagipula Tol Sumatra Masih lama jadinya.

Benar, begitu ada kesempatan dan kami beranikan diri mengambilnya maka hari itu juga lewat tengah hari mobil berisi Bapak, Ibu dan Fuad-Faiq sudah menjemput saya yang kali itu berada di Masjid Kampus.

Saya segera mengambil kendali stir mobil dengan berjalan kearah pintu soir, tapi ternyata bapak belum mau digantikan. Jadilah perjalanan siang menjelang sore itu ditempuh dari Bandarlampung-Kalianda-Bakauheni selama kurang lebih 3 jam. Maghrib dan Isya kami jama' taqdim di sebelum pintu Bakauheni.

Kami pun bisa cepat mendapat Kapal untuk dinaiki, 2 jam berikutnya kami sudah keluar kapal dan menapaki aspal pulau Jawa, turun dari kapal masih bapak yang memegang kendali. Hingga rest area pertama di Tol Jakarta-Merak Bapak sudah tidak kuat (ngantuk). Entahlah, sepertinya sempat 'kaget' karena 'turbulensi' tidak sebanyak jalan di Sumatra.

Waktu itu sekitar pukul 10 kami sudah sampai di Jakarta, hampir saja persimpangan masuk ke tol dalam kota di daerah Mall Taman Anggrek hampir terlewatkan gerbang tolnya. Tentu saja karena saya yang bawa,  bahkan GPS hanphone pun hampir terabaikan sign-nya.
Mall Taman Anggrek yang menjadi Sign supaya masuk tol dalam kota Jakarta 
Karena memang letak gerbang tol dalam kota MTA ini sedikit masuk kearah kiri, mudah terlewat jika kita terlalu ngebut dan mengambil jalur 3/4 yang terlalu kanan, jadi pastikan begitu Km sudah mendekati km 1, segera ambil lajur paling kiri, supaya tidak terlewat.
Nah, perjalanan selanjutnya karena memang baru bukaan tol Cikapali/Cipali, GPS HP yg saya letakkan di holder kaca depan stir belum memetakan tol itu hingga separuh perjalanan. Jadi beberapa hari sebelum berangkat saya sempatkan melihat rancangan jalan tol ini via satelit google maps, dimana gerbang masuknya dan dimana tembusnya.

Yang menarik, sebelum itu, Maaacet panjang di daerah bekasi timur yang membuat pegal kaki kiri karena harus kopling berkali-kali. Seingat saya, tol itu masih uji coba, dan masih gratis, hanya ambil tiket lalu kembalikan tiket. 

Pokoknya di rest area kedua di tol Cipali (kami berhenti karena yang baru itu yang bisa disebut layak) kami berhenti sekitar pukul 3:30 pagi hanya untuk mandi, lalu saya sambung shalat malam, Ibu dan adik-adik masih di mobil, sedang bapak ikut turun sekedar untuk masuk ke masjid di rest area tsb lalu rebahan. Menariknya entah kenapa di tol dengan panjang 118an km dan 3 yang lurus ini sama sekali tidak saya rasakan rasa kantuk yang menggangu, hal ini saya bisa atasi dengan beberapa teknik yang saya pelajari dari televisi untuk menjaga mata supaya tidak terserang kantuk saat mengemudi, tempelkan seluruh bagian punggung lidah (sebisa sobat) ke langit-langit rongga mulut. Tahan hingga tanpa sadar sobat akan otomatis menguap (tandanya oksigen di otak ditambah). 


Teknik lain yang selama ini saya rasa ampuh, karena saya cukup senang mendengarkan musik, saya lebih suka anggota keluarga lainnya tidur sementara musik saya naikkan volumenya dan menyanyi layaknya berkaroke dengan mimik dan ekspresi yang lebay. 

Setelah keluar tol Cipali tanpa membayar sepeserpun (tarif normal sekitar 90an sekian ribu rupiah), kami melanjutkan perjalanan di 2 gerbang tol lagi sekitar daerah Cirebon, di salah satu rest area lagi kami berhenti untuk melaksanakan shalat shubuh. 



Perjalanan berlanjut dengan masuk ke tol Kanci-Pejagan, kami berencana melanjutkan perjalanan kearah selatan menuju Kranggan, melewati kota Purwokerto lalu Kebumen nantinya kearah Jogja. Sedikit macet di dekat Bumi Ayu karena konstruksi jalan beton, perjalanan kami selanjutnya berjalan lancar hingga Kebumen, berhenti sejenak untuk makan siang, muncullah ide dari Ibu untuk melewati jalan Deandels (jalan bersejarah; lurus) di dekat pantai selatan yang nantinya tembus langsung wates tanpa melewati Purworejo. Walhasil, perjalanan kami membutuhkan waktu lebih lama dari seharusnya, jalan lurus Deandels ini rusak parah dan sempit, jadilah kami tidak bisa memacu kendaraan dengan kecepatan efektif.   


Jalan Deandels digambarkan sebagai jalan lurus dekat pantai selatan diatas.

Tapi alhamdulillah akhirnya kami sampai di Jogja siang harinya kira-kira pukul 14:00 setelah mencari penginapan, lalu beristirahat malamnya kami berkesempatan melaksanakan shalat tarawih pertama di awal ramadhan tahun 2015. Hari berikutnya, saya kebetulan mendapat panggilan untuk kembali ke Lampung oleh dosen di kampus, jadilah bapak dan Ibu saya tinggal pulang terlebih dahulu ke Rumah di Lampung. Cerita tentang bagaimana Ibu dan bapak bisa pulang ke Rumah di tulisan saya yang lain, bisa di klik DISINI.

Baik, cukup cerita tentang perjalanan ke Jogjanya, karena poin kisah ini adalah tentang perjalanan ke Semeru yang epic. Seperti saya ceritakan diatas, bahwa saya ke mengemudi ke Jogja dalam rangka mengantar keluarga sendiri, ke Malang juga dalam hal antar-mengantarkan, hanya kali ini mengantarkan ibu dosen di kampus untuk kuliah S3 di Malang. Kebetulan seminggu sebelumnya saya juga mendapat job menjadi Supir keluarga teman untuk liburan hari H hingga H+3 idul fitri ke Bogor-Jakarta dan sekitarnya. 

Macet luar biasa di dermaga Bakauheni; antri naik ke kapal yang tidak kunjung bersandar, begitu bersandar, eh tidak angkut lagi.

Fokus kembali pada cerita ke Malang, ceritanya awalnya hanya bermimpi bisa ke Semeru, mendengar dosen yang akrab dengan kami hingga seperti keluarga sendiri, ibu Dina Maulina berencana berangkat ke Malang untuk melanjutkan studi S3 pun tidak kepikirian untuk ikut, apalagi mengantarkan, menjadi supirnya. Tapi kemudian tawaran itu datang, H+10 kami akhirnya deal berangkat dari Bandarlampung pukul 22:00 hari Ahad. Perkiraan kami meleset, bahwa jalanan akan sepi karena arus balik lebaran telah usai, namun nampaknya justru sebaliknya, puncaknya arus balik adalah malam itu mengingat hari Senin esoknya adalah hari pertama masuk kerja.

Akhirnya kami justru terjebak di Pelabuhan hingga baru naik pukul 3:00 dini hari karena salah masuk dermaga (selain dermaga 1, 2, dan 3) akhirnya untung-untungan masih ada kapal yang bersandar. Hal ini tentu menjadi pelajaran bagi kami untuk perjalanan selanjutnya. Pagi harinya sekitar tengah hari kami baru sampai di Bekasi timur untuk istirahat di kediaman saudara Bapak (Suami ibu dosen), pukul 21:00 kami berangkat kearah Malang, dari sini (Bekasi) hingga seterusnya saya yang mengambil kedali kemudi karena kebetulan Bapak juga belum mengenal baik jalan di Jawa.

Oya, perjalanan kami tidak berjalan lancar karena kendala radiator mobil CRV (belum menggunakan coolant ) Bapak bermasalah, mudah panas (kemungkinan bocor) jadi kami harus periodik setiap kurang lebih 2 jam sekali, mengganti air radiator. mengemudi pun harus dilakukan dengan menjaga kecepatan standar 80-100 km/h karena mesin mudah overheat. Jadi di rest area Km 60an tol Jakarta-Merak kami harus stok air dan botol berisi air untuk persediaan.

Benar-benar melelahkan, di rest area ke-2 tol Cipali, Jalan Pantura daerah Tegal, daerah Lebo (sebelum kendal), Tanjakan tol Setelah Semarang, Salatiga, Ngawi, hingga Batu-Malang, kami harus turun dari mobil, mematikannya lalu mengisi air radiator, menunggu, mengisinya hingga penuh lalu baru melanjutkan perjalanan dengan kecepatan maksimal hanya 80km/h.

Karena kembali menggunakan GPS, persoalan arah dan jalan bisa teratasi termasuk kami menemukan berbagai pengalaman baru dengan jalan terobosan dan perintah aneh dari 'mbak-mbak' GPS seperti diminta melewati jembatan kayu yang sudah sangat tua sekali (ditutup), melewati jalan pinggir sawah, masuk perkampungan warga dll. Catatan saya, gunakan GPS dengan bijak dan hati-hati. hehe.


Ibu Dina Maulina (dosen) dan Suami (bp. Arif)
Kelebihan penggunaan GPS smartphone dibanding yang konvensional adalah tentu ke update-an informasi dan ada informasi kemacetannya, kekurangannya selain diatas tentu saja daya tahan batrai, untuk itu bisa diatasi dengan menyediakan powerbank dan holder supaya bisa ditempelkan di kaca mobil depan supir.

Meskipun menemui berbagai kendala, Alhamdulillah kami sampai di Malang juga, kali itu sudah malam, sekitar pukul 22:00. Artinya kami harus seera mencari penginapan, pilihan kami jatuh pada Jonas Homestay di daerah sekitaran stasiun Malang Kota. Cukup nyaman memang, tidak heran penginapan ini direkomendasikan lonely planet dan backpacker dari seluruh dunia. Tapi saya sebagai supir yang baik, harus tidur di mobil. Ya itung-itung karena memang supir dan keterbatasan dana, sepertinya lebih seru juga kalau tidur di dalam mobil dengan susana malam kota Malang yang sejuk.



Jonas Homestay

Benar saja saya paginya bangun sudah kedinginan. Hehe. Hari itu saya belum bisa meninggalkan Ibu Dina untuk naik Semeru karena harus mencarikan kontrakan atau setidaknya tempat tinggal yang nyaman. Setelah seharian keliling kota Malang hingga daerah pinggiran pun kami sambangi, berbagai opsi telah kami kantongi, tinggal pertimbangan kenyamanan, jarak & waktu tempuh ke kampus serta hal-hal kecil lainnya.

Keuntungannya 'nebeng' dosen begini adalah tentu karena sopir, makan dan hal-hal kecil lainnya menjadi tanggungan Ibu dosen, selain itu saya berkempatan koliling kota malang (sampe hafal) dan tentu saja bertemu profesor-profesor promotor ibu dosen ini di rumahnya masing-masing. Rupanya kami segera akrab karena kebetulan satu organisasi sosial.

Hari berikutnya, pagi pagi saya dengan carrier 80 liter yg saya packing semalam, setelah sarapan semangkuk soto koya spesial di dekat homestay tadi, saya sudah dijemput ojek tepat pukul 7:00 kami sudah berangkat kearah pasar Tumpang, sepagi itu, begitu tidak mendapat Jeep saya memutuskan untuk naik lagi ke daerah Gubuk Klakah, hingga akhirnya harus SKSD dengan petugas pelayan penerbit SIMAKSI (backdoor) dan penyedia surat kesehatan (cheat) Bapak Medi (0823 3369 9075). Soalnya kondisinya waktu itu sangat mendesak, pagi hari naik tanpa bekal surat-surat apapun dan deadline kereta saya tanggal 31, yaitu hari besok pukul 20:15. Bayangkan. 

Carriernya sih Krakatau, tapi justru belum pernah naik mt. Krakatau 

Tapi bersyukur setelah ngobrol sebentar di rumah beliau yang tidak jauh dari madrasah (dekat pasar) di Gubuk Klakah tsb saya sudah mengantongi berbagai syarat untuk naik, tinggal memberi tip dan menego ojek PP ke Ranu Pane pada beliau. Sementara saya memberi bayaran ojek dari Malang kota 70 rb, saya mendapat harga 125rb untuk perjalanan PP dari Gubuk Klakah tadi hinggah gerbang pendakian Ranu Pane. 

Harganya memang sedikit mahal jika dibandingkan dengan menyewa Jeep scra rombongan. Tapi tidak masalah lah pikir saya waktu itu, hitung-hitung buka jalan dan survey lokasi, lagipula selama perjalanan Lampung-Malang sepeser uang pun tidak keluar dari kantong karena selalu ditanggung Ibu dosen, termasuk soal makan hingga berangkat ke gunung tadi pagi. Jadi tidak masalah, apalagi memberi rejeki pada orang lokal, tidak perlu dipikirkan terlalu dalam. 

Akhirnya saya benar-benar bisa mendekat naik ke gunung Semeru. Sendirian. Udara begitu sejuk mendekati dingin, herannya saya hanya memakai kaos selapis, bahkan Mas Medi yang asli orang sini pun masih memakai jaket, mungkin karena laju motor sangan cepat juga. yang jelas siang itu, kira-kira pukul 10:00 saya sudah sampai di Ranu Pane, berhenti sejenak di dekat bukit teletabis sebelum turun ke Ranupane.
Bunga Adas (Foeniculum vulgare) dengan latar belakang so called bukit Teletubis 
 Dari pos ini hingga pintu gerbang desa Ranu Pane sebenarnya jika dilihat-lihat adalah punggung kaldera yang luas dari jajaran gunung Bromo purba dulu. Jadi perjalanan dari sini kami melewati bibir kaldera yang tepi kanan kirinya adalah jurang. 
Kurva tidak beraturan di tengah adalah jalan berpasir yang biasa dilalui Jeep untuk menuju gunung Bromo. Bisa terlihat Jeep kecil-kecil dari atas.


Selanjutnya kami sudah memasuki desa terakhir Ranupane/ ranupani ini, dari kaldera tadi hingga desa ini sudah tidak akan sobat temukan lagi sinyal apapun bertandang ke HP sobat, "nanti baru di pos 1 pendakian hingga pos 3 kalau beruntung akan mendapatkan sinyal", begitu tutur mas Medi sembari ngobrol panjang lebar dengan saya sepanjang perjalanan, menertawakan banyak hal. 


Danau di Ranupani
Akhirnya setelah mendaftar ke pos pendakian, dan melakukan briefing sekitar 30 menit saya justru diintrogasi dengan mas-mas volunteer penjaga posko, pertanyaannya seputar "kok bisa sendirian?" "dari mana?" "teman-temannya kemana?" "rencana sampe puncak/Rakum?" ya saya hanya bisa jawab "Pada nggak jadi nanjak mas, dari Jogja, sampe Arcopodo mas." 
Turun Kabut antara pos 2 ke pos 3
Akhirnya dengan baik hati saya digabungkan dengan 3 Pendaki dari Malang yang semuanya laki-laki, mas Hendri, Aan, dan Irfan. Oya, sebelum naik peralatan kita di cek semua, terutama harus punya sleeping bed dan matras serta tenda bagi rombongan. malangnya saya hanya membawa tenda, tapi hal-hal lainnya lengkap. untung saja tas saya tidak dicek karena mas-masnya keburu berbaik sangka melihat carrier saya setinggi itu dan beratnya minta ampun. Sementara ini karena saya digabungkan jadi peralatan lainnya saya bilang aman.
Berturut dari kiri-kanan : mas Han, Aan, dan Irfan. 
Mereka ini tiga sekawan yang sama-sama bekerja di Indomaret, setelah di masukkan kedalam tim mereka, saya segera akrab hingga sedekat keluarga sendiri bahkan hingga sekarang kami merencanakan perjalanan selanjutnya, itulah untungnya traveling sendiri, berangkat memang sendiri begitu dapat teman akan sangat berkesan sekali. Mereka sangat heran begitu tahu saya sebenarnya dari Lampung, sedangkan Jogja adalah tujuan saya selanjutnya.

Perjalanan mendaki dari Ranupane (jam 12:00) hingga Ranukumbolo kami tempuh 4 Jam, benar saja melewati pos 1 lalu melewati Watu Rejeng (batu tebing mirip di rajang-rajang pisau raksasa) kami mendapat sinyal HP, lumayan bisa update. Dari pos 1 hingga pos 3 adalah percampuran antara perjalanan mengular dan menanjak beberapa tanjakan saja yang cukup curam, sisanya hampir datar dan teduh oleh semak-semak di kiri jalan. 

Yang luar biasa tentu pemandangannya, selain udara yang sejuk dan kicau burung disana-sini, sebelum masuk ke pos 4 (dekat Rakum) sudah terlihat view Ranu Kumbolo yang biru ditempa sinar matahari sore yang kemilau. Desing angin dari sini masuk menyelinap melewati sela dedaunan pohon pinus dan cemara gunung membuat semacam suara sendu menentramkan seolah menghibur dan menghilangkan penat dan capek karena beban berat carrier di punggung ini. Kami istirahat kali ini cukup lama. 






Oya, dari spot ini sudah banyak sekali ditemui pohon Edelweiss yang berbunga tumbuh sembarangan di kanan kiri jalan. Bagi saya ini sudah luarbiasa menyita semua perhatian saya.





Setelah mengambil foto cukup banyak dengan latar Ranukumbolo dari batu sebelum pos 4, kami mulai bergerak turun ke Ranukumbolo menuju arah perkemahan dekat tanjakan cinta. Hanya 2 spot di Rakum yang memperbolehkan pendaki untuk mendirikan tenda. Salah satunya di setelah turunan pos 4 dan di dekat Tanjakan Cinta. Tentu saja yang paling ramai yang di dekat tanjakan cinta karena viewnya pas jika ingin menunggu sunrise esok. Selain itu disini tersedia tempat sejenis WC dan 2 bangunan permanen yang entah digunakan untuk apa. 


Suasana jalan setepak menuju Ranukumbolo.
Perjanan turun dari pos 4 hingga ke spot pendirian dekat tanjakan cinta saya lakukan dengan malas-malas, antara capek, pusing dan flu yang tiba-tiba saya alami. 

Mungkin akibat kurang tidur selama mengemudi nonstop Jakarta-Malang, kedingina tidur di mobil, atau naik motor tadi hanya dengan kaos atau juga karena sudah lama tidak mendaki, hanya saja sebelum naik memang sudah kurang fit. Jadi kepala ini sakit sekali, biasa, pusing migrain. 

Akhirnya begitu sampai di spot dan segera mendirikan tenda sambil menahan pusing, saya mulai memanaskan air.

Air yang sangat cepet mendidih di ketinggian 2.900 mdpl ini segera kami buatkan kopi untuk 3 gelas dan 1 cangkir stainless untuk saya. segera kursi lipat saya keluarkan dan saya tempatkan di bibir Ranukumbolo menghadap danau. Menyeruput kopi bergranule di tempat seperti ini tidak akan saya lewatkan dengan cara yang biasa. tentu saja. yosh! masing pusing.

Suasana sore itu saya rasakan sangat syahdu, saya sangat beruntung diberi kesempatan tidak terduga bisa ke tempat ini, bekal paling berharga saya hanya tekad kuat bahwa sendiri pun saya akan tetap mendaki, saya kesampingkan rasa takut saya dan ternyata ini hadiahnya. Keluarga dan teman baru, lanskap alam yang luarbiasa, udara yang sejuk, air danau yang segar dan bisa dikonsumsi. 
Secangkir kopi dan potrait lavender ungu mekar dengan latar danau Rakum. Masya Allah.

Setelah ngopi, sebelum mulai gelap, kami harus segera makan, apalagi saya akan segera minum obat flu yang memang sudah saya bawa dari bawah. Maka saya segera mengidupkan lagi kompor portable saya dan mas Han, oya karena kami membawa 2 dum/tenda ukuran 2x3m maka saya dan irfan satu tenda dan mas Han dan Aan di tenda satunya. 
Makan bersama kami setelah masak bersama menghadap danau Ranukumbolo. 
Gelap malam mulai merambat berbarengan dengan tandasnya makan malam pertama kami, nasi dengan mie goreng, abon dan sosis memanjakan perut kami yang dari siang hanya diisi oleh madu-coklat-air selama perjalanan naik. Segera setelahnya pemandangan yang tidak kalah hebat di suguhkan langit diatas Ranukumbolo dengan bintang-gemintang yang bersinar terang, terlihat jelas dengan mata telanjang gugus bintang, milkyway (bimasakti) seperti semburat menggaris gelapnya malam yang dingin ini. Pemandangan yang tidak mungkin dilihat di tengah gemerlap kota tempat sobat tinggal. 

Kami sempat mengambil gambar slow shutter dari tanjakan cinta dengan kamera canon mas Han, sempat keliling juga, tapi saya keburu kedinginan bersin-bersin pusing lalu segera masuk tenda. Menyalakan kompor dan merebus air adalah ide yang akhirnya saya lakukan untuk menaikkan suhu tenda yang juga sudah mulai berembun. Saya sudah menelan obat, minum obat masuk angin. Tapi hanya sebentar saja efeknya. Saya sudah menggigil lagi. 

Akhirnya saya coba masak mie rebus untuk menghangatkan badan, setelah makan badan cukup bisa diistirahatkan. Apalagi dengan baik hatinya irfan mencarikan obat pusing dengan keliling dari satu tenda ke tenda yang lain. Akhirnya saya bisa minum obat pusing, dan benar saja tidak lama migrain saya segera hilang. Luar biasa budi baiknya. 

Separuh malam kami habiskan dengan bercerita tentang kehidupan masing-masing. Irfan mulai bercerita tentang keluarganya yang pecah (brokenhome) dan berdampak pada studi dan masa depannya dan adik-adiknya, kenapa hingga Ia bisa bekerja di Indomart dst. sedangkan saya bercerita tentang rencana saya ke Jogja untuk reuni SMP-SMA saya, dst. Kami begitu akrab malam itu, mencoba menasehati satu sama lain tentang kesabaran dan kebenaran.

Lelah bercerita dan malam mulai larut kami sebera menarik selimut, saya? karena tidak membawa kantong tidur, saya masukkan kaki yang sudah pakaikan kaus kaki kedalam carrier lalu saya memakai kain Hammock untuk alas tidur karena laintai tenda mulai dingin dan sarung sebagai selimut. Setelah tiduran cukup lama dengan kompor menyala dan rebusan air yang menghangatkan tenda, saya mulai terbangun karena kedinginan.

Ternyata kompor kami kehabisan gas, malangnya saya hanya membawa 1 botol dan kabut putih-tebal-dingin mulai telah mengelilingi tenda kami, tenda sudah basah dibagian luar. Seluruh badan saya menggigil, gigi bergemeletuk tak beraturan, saya hampir-hampir hipotermia. Pikir saya apa yang salah ya selain memang kompor ini mati? tidak biasanya saya kedinginan berlebihan seperti ini. Mungkin karena badan kurang fit dan ya! baju dalam saya hanya satu selain jaket tebal ini! celana saya juga hanya selapis jeans. 

Akhirnya saya ambil beberapa baju dan celana training. saya pakaikan semua 3 lapis baju kaos dan celana panjang training tadi di dalam tenda. Alhamdulillah sedikit lebih baik, saya mulai menggerak-gerakkan tangan, mencopot sarung tangan lalu menggosok-gosokkannya satu sama lain, memakai skebo lalu memasukkan kaki kedalam carrier lagi, selimutan dan mencoba tidur lagi. Irfan sebenarnya terbangun karena kegaduhan saya, menawarkan kantong tidurnya, tapi saya menolak. Masih dingin tapi saya coba kembali tidur hingga akhirnya terbangun oleh alarm pukul 3:00 saya. Kabut masih menyelimuti Ranukumbolo hingga sunsetpun tidak terlihat sama sekali hingga matahari mulai naik.





Kami akhirnya pagi menyapa dan suasana mulai hangat begitu matahari mulai tinggi. Oya, soal rencana saya ke Arcopodo dan muncak saya lupakan sore kemarin juga mengingat kondisi badan yang kurang fit. Saya membatin lain kali ya Mahameru, saya nikmati dulu berkah Tuhan di Ranukumblo ini. Mulai hangat, saya dan irfan mulai naik Tanjakan Cinta dan menuju Oro-oro Ombo untuk sekedar berfoto dengan bunga Lavendernya.

 
Sudahnya kami naik kembali ke tanjakan cinta dari arah oro-oro ombo untuk menikmati panas mentari pagi. 


                                




Danau Ranukumbolo mulai kehilangan kabutnya, menyisakan embun yang menari infah diatas permukaan danau. What a view!

Irfan

Turun dari tanjakan cinta untuk berfoto bersama. Ketika naik? saya menoleh berkali-kali untuk menikmati pemandangan.

Saya dan hammocking yang saya cita-citakan.


 




Salam perpisahan pada lavender dan Rakum sebelum pulang.

Setelah puas foto-foto, memasak sarapan, ngopi dan mandi-cuci muka lalu ngobrol-ngobrol dengan sesama pendaki lain, pukul 11:00 kami segera berkemas akhirnya tepat pukul 12:00 kami berangkat turun gunung, kembali ke Ranupane, 3 jam perjalanan kami tempuh dengan ringan dan lebih sedikit istirahat, lagu dari speaker portable mas han menemani perjalanan kami. Saya ingat sekali lagu Echosmith-I wish i could be the cool kids dan Naughty boy- La La La (feat Sam Smith) sampai terputar hingga beberapa kali.

Sampai di Ranu Pane saya segera ke kamar mandi dan menjama' takhir shalat zuhur-ashar sebelum saya menelpon mas Medi via wartel yang ada disana. 1 jam selesai menunggu kira-kira pukul 16:00 beliau sampai dan segera setelah ngobrol sebentar dan bertukar nomor, saya pamitan turun duluan karena harus kejar kereta malam nanti jam 20.00 artinya setidaknya saya harus sudah sampai Malang maghribnya. Belum lagi saya harus menuju kontrakannya Bu dina untuk mandi dan ambil barang saya yang lain.

Akhirnya saya dengan ojek terusan yang telah menunggu,segera ngebut meluncur ke Malang kota kearah UM Malang dan kembali lagi ke stasiun kota lama tepat selepas Isya pukul 20:00 setelah memberi tip dan ongkos ojek (150 rb) saya masuk kereta dan segera menjama' shalat Maghrib dan Isya.

Saya berpikir kalau saya harus nunggu jeep tadi untuk perjalanan pulang gak mungkin kekejar ini kereta. hehe. Jadi setelah saya pikir-pikir, ada hikmahnya juga harus keluar lebih untuk ngojek. karena cukup jauh juga dan memang harus ngebut dari Gubuk klakah-Tumpang-Jonas Homestay-Kosan Ibu dosen di Perumahan UMM ke kiri-balik lagi ke stasiun Malang kota. Alhamdulillah perjalanan ini berkesan dan berbekas. Perjalanan ke Jogja pun saya lalui dengan lancar sendirian hingga sampai di Stasiun Tugu lalu meminta teman menjemput dan segera berangkat ke Kaliurang untuk adara reuni satu dekade Sekolah kami Muallimin Muh. Jogjakarta.



 


        

0 komentar:

Copyright © 2012 Menceracau.com.