Ekspedisi Puncak Purba Mt. Seminung-Danau Ranau (1881 Mdpl)

Nama : Gunung Seminung 
Ketinggian : 1881 Mdpl
Lokasi : Lampung Barat
Rating : ★★★★☆ 

View dari Puncak II dengan kenampakan awan dan Danau ranau (jika tidak ada awan)

Jika diukur dari segi ketinggian, gunung ini memang tidaklah begitu tinggi, namun pemandangan puncak yang dapat dinikmati sangatlah memanjakan mata. 


Betapa tidak, gunung tipe strato yang nonaktif ini sangatlah spesial. Diantaranya kita bisa melihat view 250° Danau Ranau dari puncaknya. Ya, hampir seperti mengelilingi puncak gunung. 


Mirip seperti Mt. Merapi, gunung Seminung merupakan gunung "antar provinsi" yang memisahkan provinsi Lampung dan Sumatra Selatan, letaknya 25 km di ujung barat daya dari kota Liwa, ibukota Lampung Barat.

Sejarahnya, Danau Ranau seluas 127 km2 adalah kaldera yang terbentuk dari letusan gunung Seminung purba 55rb tahun yg lalu.

Jalur pendakian setidaknya ada tiga starting point, pertama dapat di tempuh dari Kota Batu, Oku Selatan (Sumsel). Atau bisa juga ditempuh dari desa Heniarong yang nantinya bertemu dengan jalur dari desa Ujung yg keduanya masuk wilayah Lam-bar.

Pendakian memakan waktu 4 jam akan terasa berat karena konturnya konstan menanjak dari kebun warga hingga masuk hutan dan menuju puncak dengan tekstur tanah gembur yang berdebu. 
Tapi semuanya akan terbalas dengan pemandangan eksotis batang pohon mati yang menghitam dan samudra diatas awan yang sangat indah. jika beruntung kita bisa melihat view danau ranau lengkap dan bunga edelweiss yang mekar pada bulan Juni-Agustus. 


View dari puncak II (1881 Mdpl) menghadap puncak I dan bekas kawah yang sudah mati(tidak aktif). 
Sempat terlintas di kepala tentang anggapan orang yang mungkin akan 'bilang' entah di dalam hati saja atau benar-benar diucapkan kalau banyak hikers/pendaki sebenernya adalah orang yang egois, hanya mencari foto bagus diatas awan lah, tulis-tulis nama/ucapan "kapan nanjak bareng" atau "selamat ultah si Anu" atau sejenisnya.

Tapi seketika pikiran itu hilang ketika yang saya/sebagian hikers lain cari adalah tentang kebahagiaan orang lain, mengusahakan kebahagiaan bagi orang lain. katakanlah kita sudah pernah menakhlukkan gunung A, hanya kembali kesana untuk mengajak orang lain merasakan hal yang sama, mengajaknya mengeja kebesaran Tuhan. tak ada yang kita cari selain persaan bahagia orang yg kita ajak itu. 

Foto yang sampai saat ini terasa "doesn't feels right" kaya saya sedang ngemong anak orang gini :(
Tidak ada pamrih lain selain senyum di wajah orang-orang yang kita ajak naik ke puncak bersama dan yang mereka ucapkan adalah kata terimakasih karena kita telah mengajaknya memperlihatkan tempat seindah ini, atau ucapan sejenisnya.
Rasanya itu seperti bendera kemenangan yang sejati berkibar di hati kita. Tenang sekali tanpa suara. Dan itu saja sunggulah sudah cukup.

Ceritanya begini, awalnya memang hanya wacana untuk kami, BPH Al Wasi'i atau lebih gampang menyebutnya marbot  masjid kampus Universitas Lampung yang berkeinginan muncak lagi setelah agenda rihlah/liburan sebelumnya hanya ke pantai-pantai saja, itu pun sudah lama. 

Jadi saya sebagai bagian HRD/Kaderisasi mewacanakan tanggal sekian bulan sekian kita naik gunung, pilihannya waktu itu dua, kalau tidak Mt. Seminung ya Mt. Pesagi, keduanya terletak sama sama di lampung barat, kira-kira 100 km dari Bandarlampung, Ibukota provinsi Lampung. 


Sama sama jauh dan hampir sama waktu tempuhnya, hanya saya bilang ke mereka kalau view/pemandangan di puncak seminung jauh lebih cakep dibandingkan dengan dengan puncak gunung Pesagi (Puncak tertinggi Lampung-2230 Mdpl). 


Akhirnya saya paksakan meminjam mobil avanza orang tua, saya akali lah waktunya supaya teman2 BPH ini bisa merasakan juga pengalaman saya sebelumnya menikmati view di puncak Seminung ini, karena selain view danaunya, pemandangan bukit-bukit barisan selatan yang tinggi diatas awan cukup bisa menghilangkan stress dan bisa menjadi cerita sekaligus khasanah pengetahuan kita tentang alam Lampung Barat yang banyak belum tereksplorasi. 


Tentu saja dengan merasakannya langsung (pengalaman tadi), bisa sangat berkesan dan membekas di hati, terutama meningkatkan kekompakan dan fisik kami. Akhirnya perjalanan dari Bandar Lampung kami mulai pukul 16:30, sore sekali hampir petang bahkan estimasi saya mungkin sampai tepi danau ranau mungkin baru pukul 00:00. Benar saja, pukul 23:00 kami baru sampai di Liwa, ibukota Kabupaten Lampung Barat. Cukup lambat karena biasanya bisa ditempuh hanya dalam watu 5-6 jam saja, hanya saja kami memang banyak berhenti, selain untuk sholat dan makan, kami juga sering berhenti untuk ke kamar kecil, atau sekedar beli bahan makanan untuk keperluan mendaki.

Kenampakan perdu dan view pedesahaan dan perkebunan sekitar Gunung dari puncak II.

Tengah malam itu juga di tepi danau ranau daerah Lumbok Seminung (bagian Provinsi Lampung), kami mengarah ke desa Ujung (kearah utara)mengitari tepian kaki gunung seminung yang berbatasan langsung dengan danau. setelah melewati Hotel Lumbok yang terkenal akan batu mistiknya itu kami segera sampai di pemukiman terakhir sebelum rumah juru kunci Seminung yang berada di punggung gunung.

Kondisi jalan dari Hotel tadi sudah sangat buruk, penuh semak dan ranting-ranting yang dapat menggores badan mobil, harus sangat hati-hati, kami pun terpaksa menembusnya karena sudah terlalu larut dan saya pikir dulu tidak se buruk ini. Akhirnya saya relakan badan mobil itu tidak karuan lagi, tergores-gores. Karena beberapa tanjakannya  banyak yang curam dan licin karena batu lepas, saya minta semua penumpang turun untuk sapu ranjau (menyingkirkan ranting dan batu yang mengganggu), lalu memberi aba-aba jika ada tanjakan yang butuh tenaga dan ancang-ancang bagi mobil untuk naik. 

Jadilah malam itu, tengah malam, mereka berlarian berkejaran dengan mobil yang saya kemudikan, bermandikan keringat tepat setelah mereka sebelumnya terlelap dalam tidur mereka di perjalanan. Saya merasa kasihan sebenarnya, tapi mau bagaimana, jika mobil ditinggalan terlalu jauh saya khawartir jadi malam itu akhirnya setelah 30 menit menembus semak dan tanjakan yang hanya pernah dilewati sepeda motor, kami sampai di rumah terakhir sebelum desa Heniarong, kami titipkan mobilnya dan bilang sudah janjian dengan mas Edison (anak Juru kunci - 0857 0910 0830) kami putuskan pukul 00:30 kami naik ke punggung gunung ke rumah juru kunci.

Foto ini diambil dari pendakian sebelumnya (Jalan menuju Rumah juru kunci)

Dari sini perjalanan selalu konstan menanjak, berat sekali bagi mereka (anggota BPH lain 7 orang) yang belum sepenuhnya sadar bagun dari tidurnya, jalannya sebenarnya sudah semen dan cornblock karena memang biasa digunakan untuk naik-turun gunung oleh petani kopi setempat, tentu saja berguna untuk mengantisipasi hujan datang sehingga membuat kontur jalan sulit dilalui dan membahayakan (karena kiri-kanan jurang).

Perjalanan sangat menguras tenaga karena malam itu selain panas, carrier kami cukup banyak isinya. jadi kami bergantian memikulnya. Akhirnya setelah 45 menit berlalu, di punggung angin puncak mengeringkan keringat kami, tidak berapa lama setalah padang tanaman cabe gunung, suara anjing menyalak dan 2 rumah panggung di kiri jalan setapak, kami sampai di rumah juru kunci gunung Seminung yang di depan rumahnya memiliki semacan halaman untuk menjemur kopi/lada. Setelah mengetok pintu dan meminta izin mendirikan tenda kami semua sibuk dengan acara masing-masing, ada yang memasak mie, menghangatkan air untuk menyeduh kopi/susu, ke semak belukar untuk buang air dll.

Pemandangan 180 derajat lebih secara horizontal dari puncak I, Danau ranau dan Bukit Barisan Selatan.

Pemandangan Pulau Mariza (ditengah danau) dari jalan setapak arah Puncak II



Kekurangannya di Seminung, tidak ada sumber air yang bisa di akses dari puncak, jadi di rumah juru kunci ini pun, persedian air mereka sangat minim, harus mengambil air dari bawah (danau) atau menadahi embun melalui talang. Jadi siapkan air banyak-banyak.  
Lokasi : Gunung Seminung (1881 Mdpl), Lampung Barat

8 comments:

  1. Rencain ke sini lagi ya ve, aku ikut!!! mungkin genk juga mau, gantiin rencanain yang ke gigi hiu dulu. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. boleh... kumpulin orangnya dulu bin..

      Delete
  2. boleh2, dingin banget lho tapi.. :D

    ReplyDelete
  3. coba-coba kirim ke majalah ve, yg ada rubrik tavellernya kan banyak tuh. mayan kan kalo dimuat, itung-itung bonus dari hobi.

    ReplyDelete
  4. Replies
    1. nah mbak sibuk terus di ajakin gabisa.. :D
      kmaren kan tak ajak..

      Delete

Copyright © 2012 Menceracau.com.