Everybody Deserve for Chances, so Grab Yours !!

Belakangan ini saya sering mengajukan pertanyaan pada teman-teman terdekat saya tentang beberapa asumsi orang terhadap kesuksesan. Pertanyaan itu berangkat dari beberapa teman yang meminta saya menuliskan sesuatu untuk memberi inspirasi/motivasi pada pemuda-pemuda seumuran saya untuk turut berprestasi di bidangnya masing-masing. Antara lain pertanyaanya: Apa yang sebenarnya orang cari dan ingin mereka baca dari kisah kesuksesan/prestasi yang dicapai orang lain?

Untuk pertanyaan tersebut, saya belum mendapatkan jawaban yang pasti. Namun, paling tidak, jika pertanyaan itu saya ajukan pada diri sendiri, barangkali jawabannya adalah bahwa setiap orang membutuhkan cermin. Cermin yang tidak berbohong dengan menyajikan kisah kesuksesan yang terlalu luar biasa dari sosok yang terlalu jauh untuk digapai. Barangkali, kita butuh 'kisah kesuksesan orang biasa' atau bahkan 'dibawah biasa', yang sederhana dan dekat dengan keseharian kita. 
  
Selama ini, buku-buku atau film Indonesia melulu menyajikan berbagai kisah kesuksesan dari orang-orang hebat, misalnya CEO korporasi tertentu, pemilik Stasiun Televisi, Menteri atau mantan Mentri, bahkan Presiden. Atau, kisah itu terlalu terasa 'metropolitan' untuk diikuti manusia biasa yang hidup di pinggiran. Di saat yang lain, kisah kesuksesan yang disajikan juga sering kali jauh, terlalu muluk untuk digapai dan dirasakan. 

Argumen ini, sedikit banyak memberi saya kenyakinan sekaligus keberanian untuk menjawab permintaan teman saya untuk menuliskan kisah saya. Barangkali kisah saya bukan kisah yang terbaik, bukan kisah kesuksesan yang heroik atau luar biasa. Meski hanya kisah sederhana milik orang biasa, mudah-mudahan bisa menjadi semacam cermin untuk para pembaca dalam berefleksi, mematut diri, meraba pikiran, dan perasaan masing-masing bahwa barangkali suatu hari Anda pernah berada di situasi yang sama, merasakan kegelisahan yang sama, membacakan doa-doa yang sama, serta merajut mimpi-mimpi yang sama. Saya hanya berharap bahwa siapapun, bahkan orang yang sangat biasa, bisa memiliki dan menggapai prestasi/kesuksesan yang telah dirajutnya. 

Oke, kita rileks saja. sekali lagi, tulisan ini memang saya buat untuk Anda, teman-teman yang masih punya anggapan kalau yang bisa mendapat pencapaian tertentu, prestasi, ke luar negeri dalam program tertentu, mendapat award ini dan itu adalah orang-orang yang biasa kita sebut "cool-kids", mereka yang super ciamik kemampuan linguistiknya, yang good-looking dan smart penampilan dan pembawaannya, dan lain sebagainya. 

Saya menulis demikian bukan karena kok sudah sangat berprestasi, keliling sekian negara, awarded ini dan itu, bukan. Saya hanya sedikit kesal saja dengan teman-teman saya yang ketika saya ajak ikut seleksi ini dan itu kok tidak berkenan, sekedar ikut mengambil kesempatan saja tidak mau, lantas banyak beralasan. "Saya tidak seperti mereka", "mereka bisa begitu karena sudah bawaannya", "genetis deh kayaknya!". Demikianlah jawaban yang saya terima. Sangat mengecewakan. 

Oleh sebab itu saya ingin sedikit berbagi pengalaman dan semoga bisa menggugah dan menginspirasi teman-teman untuk tidak lagi berpikiran sedemikian pesimistiknya melihat orang lain bisa begitu sukses. 

Saya lebih suka menulisakan cerita saya dengan terlebih dahulu memperkenalkan siapa saya kepada teman-teman pembaca sekalian. Saya, biasa dipanggil Ave, adalah lulusan pondok pesantren yang sekarang sedang kuliah di Lampung dan tinggal di masjid kampus sebagai marbot. Apa yang bisa diharapkan dari pemuda yang lulusan pesantren dan tinggal di masjid selain mungkin urusan/pengetahuan agama dan aplikasinya? tidak ada. Biasa sekali bukan?

Kebermanfaatan saya untuk masyarakat dan orang lain masih teramat sampit bagi saya kala itu, ketika baru satu tahun duduk di bangku kuliah. Selain membersihakan masjid dan mengajar TPA, mengurus HIMA, BEM, tidak ada hal lain yang saya bisa berikan.

Berangkat dari situlah kemudian saya merasa ingin membuktikan bahwa saya bisa lebih dari ini, saya juga bisa dan ingin pergi ke luar negeri, naik pesawat, mencoret mimpi-mimpi saya sebagai tanda mimpi tersebut telah tercapai. 

Saat itu saya ingin sekali ke luar negeri dalam program tertentu, nyari 'gratisan' tentunya. Saya sudah punya 100 jenis mimpi dan pencapaian yang akan saya coret satu-persatu di masa depan, saya tuliskan di atas kertas karton lalu saya tempelkan di depan lemari kamar saya di masjid. 

Maka langkah pertama saya setelah punya niat tadi adalah mencari peluang, ada ketemu, MEP (Muslim Exchange Program), Pertukaran Pemuda/i Muslim ke Australia, negara favorit saya sejak duduk di bangku Aliyah, dulu peta Australia saya tempel di langit-langit kamar saya di asrama Pesantren saya, Sering juga berlangganan majalah KangGuru langsung dari negara itu, Sering mendengarkan radio ABC streaming pagi hari di perpustakaan sekolah. Sebegitu ngarep-nya saya semoga suatu hari bisa kesana.  

Program MEP ini sudah saya coba sekitar 3x dan keseluruhannya saya 'ditolak', tidak masuk tahap selanjutnya. Sebelumnya karena memang ada syarat TOEFL diatas 450, maka saya siapkan tes dan sertifikatnya dengan nekatnya naik sepeda motor dari Lampung-Jakarta non-stop, menginap di masjid-masjid sekitar tempat tes, dan itu menjadi perjalanan terjauh saya mengendarai sepeda motor sendirian. Yang saya ingat waktu itu adalah penutupan pengumpulan berkas tinggal 17 hari lagi dari batas deadline cap pos, di Lampung tidak saya temukan tempat les/lembaga yang bisa secepat itu mengeluarkan hasil tes, jadi saya pikir worth to try nih ke Jakarta, dan itu saya lakukan 2x pulang pergi, sendirian.

Berikutnya karena sudah pernah mencoba mengumpulkan aplikasi dan sudah ada bekal nilai tes TOEFL pas-pasan 500, yang saya dapatkan dengan membeli dua buah buku loakan di bawah pusat perbelanjaan di Bandarlampung dan saya pelajari selama perjalanan ke Jakarta ketika berhenti di masjid-masjid, pada akhirnya saya lebih percaya diri untuk mencari dan menjalani peluang. Ketika peluang lain datang, saya segera mempersiapkan kekurangan syaratnya, dalam hal ini, waktu itu pendaftaran PPAN (Pertukaran Pemuda Antar Negara) yang dibuka setiap tahunnya dari Dispora Provinsi menjalankan amanat dari Kemepora RI. Itu pun saya kumpulkan di hari terakhir batas deadline pengumpulan berkas.  


Poin ceritanya bukanlah apakah saya diterima atau tidak, walaupun alhamdulillahnya baru di percobaan pertama kali, akhirnya dengan dramatisnya diterima di program IKYEP (Indonesia-Korea Youth Exchange Program), tapi terlepas dari itu, saya kagum dengan orang lain yang justru sudah mencoba lebih dari 3 kali bahkan lebih dan baru diterima, ada poin kegagalannya yang bisa diambil hikmahnya menurut saya, lebih cerita-able


Maksud saya, tidak begitu penting perkara 'diterima'-nya, karena itu akibat, yang terpenting sesungguhnya adalah seberapa banyak sebab-sebab yang kita buat dan munculkan untuk memperbesar peluang dari akibat yang kita harapkan muncul. 

Jadi kalau misalkan kita ingin memenangkan sebuah undian, maka semakin banyak kupon yang kita masukkan kedalam kotak undian akan memperbesar peluang terpilihnya kupon kita kan?, Jadi perkara kupon itu nanti bersaing dengan perbandingan-perbandingan, dan kesempatannya terambil itu berapa, itu tidak usah kita pikirkan, demikian itu tugas Tuhan untuk mewujudkannya. Bukannya kita sangat akrab dengan pribahasa "man propose, God dispose?"

Lihat apa yang saya lakukan? Saya punya keinginan ke pergi 'gratis' ke luar negeri, lalu saya mendefinisikannya, menuliskannya, mencari langkah-langkah strategis untuk mewujudkannya, lalu berusaha gila-gilaan mengambil action nyata. Bukankah apa yang kita impikan tidak pernah terjadi di dunia nyata karena hanya kita biarkan mengendap lalu kita lupakan di alam pikiran saja? kita tidak pernah benar-benar mendefinisikannya, menuliskannya, membayangkan bagaimana jika mimpi itu telah kita capai, tidak mulai melangkah dari hal-hal termudah dan terkecilnya, atau kita mudah sekali menyerah karena gagal di tengah jalan, takut dengan risiko yang baru akan menghalangi kita di depan?. Bukan begitu?

Dan perlu kita ingat, Tuhan selalu menilai dan melihat seberapa besar usaha kita, pengorbanan kita, risiko yang telah kita ambil, bukankah seorang Bos pasti memiliki kriteria-kriteria tertentu untuk memberi penghargaan pada karyawannya? tidak mungkin diberikan begitu saja begitu mudahnya tanpa kriteria tertentu. Entah mungkin karena kerja kerasnya, ketepatannya masuk kerja, kedekatannya dan ketangkasannya membangun ikatan personalnya dengan Bosnya misalnya?.

Itulah yang selama ini yang saya yakini. Coba, apa yang ada di benak Anda mendengar saya bekas anak pesantren? Tinggal sebagai marbot masjid? Kuper? Kampungan? Memang bahasa inggris saya biasa saja, tapi saya berani mencoba, gila-gilaan suka mencoba bahkan. Keterlaluan nekat. Itu aja modal saya, selain memang kedekatan saya dengan Tuhan saya coba jaga, karena saya paham betul siapa Bosnya. Sebagaimanpun keterlaluannya usaha saya, kalau saya tidak membangun kedekatan dan menjaganya dengan "kerja" 5 kali sehari itu, saya pikir tidak bijak jika saya terlalu berharap outcome usaha saya akan bernilai selalu positif.


Jadi selama ini saya menilai apa yang saya dapatkan sampai saat ini adalah bonus yang bahkan saya tidak sangka bisa datang kepada saya kalau saja saya tidak dekat dengan Bos tadi. Bagaimana saya bisa menyangka jika hasil akhirnya bisa sangat berbeda dengan sebab yang saya buat? Maksud saya, dalam penentuan saya bisa berangkat ke Korea itu sangat drama-tis sekali (menurut saya). Tapi itulah kuasa Bos, beliau berkehendak, maka terjadilah.    
   
Kembali lagi saya mengingatkan diri saya pribadi bahwa sebanyak apapun award, prestasi dan pencapaian kita, itu tidak akan banyak berguna bagi masyarakat jika kita tidak take action. Menurut saya tidak perlu dapat award dulu baru action justru takutnya ketika orang lain mau mencontoh kita, mereka ragu mereka bisa melakukan action kita kalau belum memiliki embel-embel tertentu. Action ya action aja dulu, biarkan Bos yang menilainya, jangan indikatornya kacamata orang lain. 

Di mulai dari yang terkecil, yang paling mudah, yang paling dekat, dari sekarang. Misalnya saya nih, biasanya ngisi pengajian Ibu-ibu, Khutbah, Ceramah, Ngimami sholat, ya diteruskan saja, ajek dan kalau bisa meluas kebermanfaatannya. Alhamdulillah setelah menjadi alumni program kepercayaan diri saya dan saya yakin teman-teman akan semakin bertambah, jadi saya sarankan teman-teman pembaca mengambil peluang untuk menjadi pemuda Alumni program. 

Selamat Mencoba! 

Ave S. Fauzisar
Alumnae IKYEP 2014 (Indonesia Korea Youth Exchange Program)
http://www.menceracau.com









0 komentar:

Copyright © 2012 Menceracau.com.