Silaturahim IMM Komisariat Unila

Bandar Lampung, 29 Maret 2016 - Beberapa minggu yang lalu tepatnya Ahad (14/03/16), jajaran pengurus dan alumni pengurus IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) Komisariat Unila mengadakan kunjungan ke kediaman salah seorang dosen bahasa inggris sekaligus sekretaris jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni FKIP Unila, Bapak Ujang Suparman, Ph.D., yang juga menjabat sebagai pengurus Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bandar Lampung. 

Sebelumnya saya belum begitu mengenal beliau sebelum benar-benar datang ke kediamannya. segera setelah saya melihat name-tag di depan dinding rumahnya saya segera searching siapa beliau sebenarnya. Awalnya memang secara tidak sengaja, saya yang tida begitu aktif dengan kegiatan teman-teman IMM, bertemu dengan beberapa diantara mereka yang sedang singgah di masjid kampus tempat saya tinggal.

Begitu lama tidak bertemu tentu saja sempat cukup lama ngobrol dong menanyakan kabar, menanyakan skripsi sudah sampai mana (karena kami satu angkatan yang sama), akhirnya diajaklah saya ikutan silaturahim bersama mereka. saya sempat berfikir akan menolak karena badan masih basah keringat setelah olahraga kardio sebentar setelah maghrib. Lalu tanpa berfikir panjang, saya segera ganti pakaian dan menyemprotkan parfume, saya bilang saya siap ikut. 

Benar saja, silaturahim dapat diperas banyak sekali intisarinya. Beliau adalah lulusan S2 dan S3 di Australia, negara impian saya untuk lanjut studi sejak SMA dulu. S2 beliau tamatkan di Monash Univ. dan S3 di La Trobe Univ. keduanya di kota yang sama, Melbourne. Jadilah saya akhirnya sangat exited untuk banyak berdiskusi dengan beliau baik topik kemuhammadiyahan dan islam pada umumnya dan tentu saja terkait kapasitas sekaligus saran beliau untuk melanjutkan studi ke luar negeri. Ini link blog beliau http://ujangsuparman.blogspot.co.id.

  
Diantara pesan beliau pada kami setelah perkenalan adalah tentang posisi kami pemuda yang lahir dari rahim Muhammadiyah, adalah bagaimana menjadi umat penengah (ummatan wasaton), yang paham bagaimana seharusnya islam menjadi Rahmatan lil Alamiin, saya jadi ingat dengan konten bacaan blog teman saya yang membahas tentang bagaimana "logowonya" pendiri bangsa, salah satunya Ki Bagus Hadikusuma yang tahun lalu ditetapkan sebagai pahlawan nasional oleh presiden Joko Widodo. Beliau dan beberapa pendiri bangsa yang sangat mendukung dan komit menjadikan Indonesia negara islam dengan mengesahkan sila pertama pancasila yang diambil dari teks Piagam Jakarta yang berbunyi “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Poin ini dianggap hanya mengakomodasi keyakinan umat islam, bahkan cukup memunculkan percikan konflik jika dipaksakan untuk dipertahankan. Oleh sebab itu poinnya dirubah menjadi sila pertama yang kita ketahui sekarang "Ketuhanan yang maha esa". 

Ki Bagus Hadikusuma yang waktu itu menjabat sebagai Ketua Umum Muhammadiyah sekaligus salah satu anggota BPUPKI pada akhirnya mempertimbangkan kemaslahatan yang lebih luas, dengan lapang dada, beliau menerima usulan untuk merubah konten tersebut. 

Beliau (Ayahanda Ujang) juga me-wanti-wanti pada kami bagaimana menjadi pemuda yang kuat baik dari sisi ideologi dan penerapan akhlak. Bagaimana menjaga diri dari paham-paham yang tidak sesuai dengan manhaj dan ideologi islam yang ditafsirkan oleh Muhammadiyah, seperti issue-issue kekinian tentang Syiah, Women Movement, LGBT dll. 

Beliau juga menceritakan bagaimana ketika Ketua Umum, Bapak Din Syamsudin berkunjung ke PBB dan disanjung mereka dengan sebutan ketua dari the biggest organization in the world, mengingat betapa besarnya Amal Usaha Muhammadiyah yang dikelola dengan satu nama. Kemudian bapak melanjutkan cerita Din Syamsudin bahwa di Indonesia kami selalu nomor dua, PBB bersikukuh tidak demikian. Menurut saya, mungkin kami unggul dari segi pendataan dan kepemilikan kartu anggota, selebihnya, tidak penting siapa yang nomor satu, kami fastabiqul khairat saja.

Nah, pembahasan yang tidak kalah menarik yang ingin saya kejar tentu saja adalah bagaimana bisa seperti beliau. Saya paham betul berapa kira-kira penghasilan beliau setelah part-time job dan sisa beasiswa beliau S2-S3 di Aussie, sangat menggiurkan. ketika saya tanya exact-nya berapa, beliau hanya terkekeh sambil menggambarkan "Ya, cukup untuk beli dan bangun rumah ini, sama rumah di bawah dan kendaraan pribadi". Padahal jika saya amati rumah beliau sangat luas dan megah untuk ukuran bangunan di kota Bandar Lampung. Menurut informasi yang saya dapat, untuk 1 tahun, paling tidak mahasiswa S2 di Aussie akan membawa pulang tabungan sekitar 300-400 juta bersih, itu adalah jumlah minimal. Kebayang betapa menggiurkannya kan kuliah overseas? itu S2, S3 lebih besar tunjangan dan lebih lama lagi masa studinya. 

Saya dalami lagi dengan pertanyaan-pertanyaan yang lebih spesifik, bagaimana tips ini dan itu, sebagian beliau menyarankan untuk mencari "kost"-an yang unfurnish (belum berperabot), beli daging ya menunggu 2-3 hari sampai harganya jatuh, cari kerja part-time yang berbayar besar yang berhubungan dengan kampus (kasus beliau beliau jadi interprater dan pengajar bahasa indonesia di Melbourne Univ. dengan gaji 40 AusDollar per jam-tentu sangat besar sekali dengan kurs sekarang 10k). 

Pesan beliau, persiapan memang penting, TOEFL/IELTS, LoA Unconditional, pasport dll, tapi yang lebih penting adlaah kemauan kita, azzam dan doanya. Karena yang namanya rezeki harus diupayakan dan didoakan.   

Meskipun Lupa berfoto bersama, kami mengakhiri diskusi tersebut dengan pernyataan menyenangkan dari beliau terutama mengapresiasi kami dan meyakinkan bahwa siapapun yang berkenan membutuhkan bimbingan untuk misalnya mendapatkan LoA dari dosen Univ. yang kita ingin tuju dapat datang ke rumah dan berkonsultasi dengan beliau. Melegakan sekali. 

Nah, itulah manfaatnya silaturahim (bukan silaturahmi ya.. :D). Siapa dong yang bisa nolak?!.
Salam Ceracau.  

0 komentar:

Copyright © 2012 Menceracau.com.