Mencari 'Wahyu' di Gunung Merbabu (3142 Mdpl)

Pardon me for my uncontrolled face

Tulisan ini saya beri judul demikian karena memang kombinasi waktu dan kondisinya mendukung untuk saya nyatakan demikian. Saya telah mendaki. Sendirian. Pertama kali. Puasa-puasa Ramadhan di gunung Merbabu. 

Sebenarnya sudah cukup lama tidak menulis lagi, kalau di blogger ketahuan sekali tanggal terakhir posting kapan. Seperti yang saya sampaikan pada tulisan sebelumnya saya berpikir untuk nge-Vlog tapi karena keterbatasan (belum punya kamera) jadi saya pikir ngrekam momen yang telah lalu pakai tulisan di blog dulu.

Saya meyakini kalau gunung itu hidup, sama dengan makhluk (ciptaan) Allah lainnya. Sobat ceracau mungkin menyangkanya saya meyakini animisme-dinamisme, tapi memang demikianlah adanya. Jika saya menyebut sebuah pohon hidup atau tidak, maka jelas jawabannya iya, karena ia tumbuh, melakukan proses-proses biologis dan kehidupan, tapi bagaimana dengan kumpulan batu, gunung?. Apakah bisa disebut juga dengan makhluk hidup? jelas kalau dari ilmu biologi bukan.

Tapi yang pasti saya ingin berdialog dengan diri sendiri dan alam waktu itu, termasuk gunung. Tentang seberapa kecilnya saya di hadapan pencipta kami. Tentang seberapa sedikit tenaga kaki dan pundak ini. Tentang apa definisi kebahagiaan yang saya cari, apa harapan yang ingin saya dapat dengan mencumbui alam. Saya benar-benar ingin memperbanyak dialog itu dengan diri saya sendiri.  

Ya, saya beneran berdialog, seperti "Yuk lah gunung, sama-sama hamba Allah, maka mudahkanlah jalanmu, stabilkan pasirmu, atur cuacamu, mudahkan Aku bisa sampai di puncakmu, lalu bertasbih mengagumi ciptaan Pencipta kita."




Masih soal kepercayaan saya yang "aneh", Dalam buku The Geography of Bliss, buku yang bincang-bincang soal kebahagiaan dan prespektifnya di negara-negara di dunia, Tibet/Buthan misalnya, orang-orang disana demikian juga, menganggap semua benda mati memiliki nyawa, mungkin karena ajaran Budha, animisme-dinamisme yang masih kental, tapi di dataran tinggi di sana, terkenal sekali penduduknya damai, santai dan dikatakan oleh penulis (Eric Weiner) berada pada level bahagia yang lebih tinggi.

Bagi rakyat Buthan yang tidak percaya konsep "kebahagiaan pribadi", semua kebahagiaan bagi mereka harus berhubungan. berjamaah, dengan orang lain, dengan alam, dan kehidupan lain disekitarnya. Dan sebagian besar orang disana bahagia, anehnya, tidak ada yang membicarakannya, beda dengan misalnya di Amerika, hanya beberapa orang bahagia, tapi semua orang terus-terusan berbicara tentang kebahagiaan.

Kebahagiaan tentu saja bagi mereka bukanlah soal hitung-hitungan ekonomi, PDB/GDP (produk domestik bruto) bagi mereka sekedar merupakan jumlah barang dan jasa yg dihasilkan suatu negara dalam waktu tertentu, sama sekali tidak juga mendefinisikan kebahagian, memang betul mungkin uang bisa membeli kebahagiaan, tapi tidak se-mutlak yang seperti kita kira. Ya, hanya sampai tahap tertentu.

Uang, terkadang menyeret kita pada jurang yang bernama "tidak pernah cukup", dan jika itu terjadi, maka tidak ada kebahagiaan lagi dari kepemilikannya. Ekonomi pasar bebas bungkap dengan konsep "cukup". Michael Elliott, wartawan Finacial Times mewawancarai Raja Buthan yang ditulisnya "Raja Buthan: Kebahagiaan Nasional Bruto lebih penting daripada Produk Nasional Bruto (GDP)". Dan para ekonom konvensional menghujatnya, 'sang Raja mungkin menderita kekurangan oksigen di ketinggian Himalaya', Dan sebagainya. 


Kita tentu tidak bisa mengukur kebahagiaan, dengan apa? angket?, dan bahkan jika kita bisa, bagaimana suatu pemerintahan dapat memiliki kebijakan tentang kebahagiaan? hal ini tentu absurd bagi mereka. 

Sebaliknya, kenyataannya riset baru-baru ini tentang kebahagiaan, atau ya, kesejahteraan subjektif, uang yang bisa membeli kebahagiaan tadi, ternyata secara mengejutkan hanya dapat dikatakan dapat membeli kebahagiaan jika tidak lebih dari $15.000 per tahun atau sekitar 195 Juta per tahun, lebih dari itu, kaitan keduanya menguap. Rata-rata orang Amerika, Jepang dan termasuk Indonesia dan negara-negara industrial dan berkembang lainnya memiliki kekayaan tiga kali lipat dari setengah abad lalu. 

Sampai-sampai Richard Layard, profesor di London School of Economics menyatakan "Mereka telah menjadi lebih kaya, bekerja jauh lebih sedikit, memiliki liburan yang panjang, lebih sering traveling, mereka hidup lebih lama, lebih sehat. Namun, mereka tidak lebih bahagia!". Gila. Ketika saya membacanya, batin saya menyatakan "Iya juga ya", mungkin saja kita rakyat Indonesia juga demikian. 


Di buku itu juga disebutkan bahwa, kekayaan memang benar membebaskan, tidak diragukan lagi. Kekayaan membebaskan dari pekerjaan manual, kasar, bekerja di ladang di bawah terik matahari, berkeringat, atau bekerja keras dengan bayaran randah. Namun kekayaan juga menghalangi manusia untuk melakukan berbagai hal tanpa imbalan segera. Semakin kaya suatu masyarakat akan semakin besar tuntutannya untuk bekerja produktif dan melupakan diri dari menikmati waktu senggang, sebaliknya warga Buthan akan dengan senang hati membantu orang lain, menghabiskan hari dengan bermain melemparkan anak panah (dart) atau tidak melakukan apapun.Ya, lihat lalu bandingkan saja kondisi di Jakarta sekarang dengan di daerah pegunungan Boyolali, atau di Baduy, dan di desa Suku Tengger.    

Wow, maaf saya terbawa emosi, jauh sekali melenceng dari jalur cerita saya tadi. Maksud saya, waktu itu saya juga tidak banyak uang, hanya cukup untuk menghidupi saya sendiri tanpa bisa menabung. Tapi jujur saya merasa haru bahagia bisa turun kembali ke jogja setelah 2 hari tanpa putus puasa, hanya membasahi bibir dengan embun pagi ketika turun, membawa sebotol air yang hanya cukup untuk berbuka lalu sahur. Cukup untuk minum obat dan summit attack. Haru sekali bisa turun untuk pendakian pertama yang semuanya serba meraba.



Dari basecamp FKPA (dulu belum ilegal), ke Gancik Hilltop hingga pos 3, sama sekali tidak bertemu pendaki, sepi sekali memang hari ke 17-18 Ramadhan tahun 2016, sekitar bulan Juli. dari pos 3 hingga puncak, tidak lebih dari hitungan jari saya bertemu manusia, dan itu melegakan. Selalu saya ajak ngobrol. ketika migrain saya kambuh, dari dalam tenda di Sabana 1 saya mendengar logat Lampung sayup-sayup dua pendaki wanita berlalu, saya segera stop dan ajak ngobrol. Benar saja tebakan saya, sama-sama pendaki Lampung. 

Anda tanya saya takut atau tidak?. Jelas iya. Saya cukup takut saat harus nge-camp sendiri di Sabana 1 tanpa ada teman/tenda lain seorang pun hingga hampir subuh untuk summit attack. Oya saya lewat Selo-Boyolali, treknya lebih manusiawi. Kadang batas antara kebahagiaan dan ketakutan hanya dekat sekali kan? hanya berbatas beberapa bukit untuk di daki. 

Dari pendakian yang berat lah saya belajar arti perjalanan hidup, sama seperti mendaki, perlu bekal, perlu "kekayaan" tapi dalam taraf cukup yang membahagaikan. Perlu ada tantangan dan keberanian dalam mengambil keputusan. Menikmati prosesnya, hal hal tak terduga yang menyertainya dan tentu saja enjoying the pain. Kalau semuanya harus sesuai rencana kita, dimana asiknya? 

salam ceracau! 

1 comment:

Copyright © 2012 Menceracau.com.