Gunung Itu Hidup juga?

Iya, Bagi saya gunung ya makhluk hidup. Di tulisan saya sebelumnya tentang Mencari wahyu di gunung juga sudah sedikit saya singgung. Jadi, saya percaya bahwa gunung itu hidup dengan tidak kurang 3 alasan. 


Pertama, Gunung, pada dasarnya secara teori adalah benda mati berdasarkan ciri-ciri biologisnya. Tapi kalau kita ambil satu ciri, misalnya bergerak. It turns out kalau gunung juga ternyata bergerak. Para ahli geologi dan spatial (Wegner: 1980) telah meneliti bahwa gunung, layaknya lempengan bumi lainnya, juga bergerak dari tahun ke tahun.

Seperti kepulauan Hawaii yang karena ada lapisan yang lebih padat berada dibawah lempeng yang bergerak searah, memungkinkan terjadinnya rantai pulau hasil erupsi gunung-gunung tipe perisai disana. (Sok tahu) 

Allah dalam hal ini berfirman dalam Al-Quran 14 abad yang lalu bahwa gunung itu tidak diam, tapi berjalan!. 

"Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal dia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al Qur'an, 27:88)

Selanjutnya, kalau kita lihat sejarah dari sirah Nabawiyah kita, Rasulullah SAW pernah bersama Sayyidina Abu Bakar RA, Sayyidina Umar Al-Faruq RA, dan Sayyidina Usman bin Affan RA mendaki gunung Uhud. Setelah keempatnya berada di puncak, terasa gunung Uhud bergetar.

Rasulullah kemudiannya menghentakkan kakinya dan bersabda, "Tenanglah kamu Uhud. Di atasmu sekarang adalah Rasulullah, orang yang selalu membenarkannya (Abu Bakr), dan dua orang Syahid (Umar & Utsman)." Saat itu juga gunung Uhud berhenti bergetar. 

Dari sini, kita akan paham kalau gunung juga menanggapi rangsang. Lho kok cara berpikirnya gitu? mungkin sobat akan nge-batin demikian, tapi analoginya saja begini, manusia saja jika misalnya dicubit, harusnya respon menanggapi rangsangnya adalah teriak karena kesakitan, tapi ketika yang mencubit misalnya adalah orang yang sangat ditakutinya lalu akan ditanya sakit atau tidak maka bisa saja feedback nya tidak ada kecuali hanya diam.

Bisa saja gunung juga demikian, kenapa kita tidak bisa 'berkomunikasi' dengan gunung seperti Nabi SAW tadi? bisa jadi karena ya kita tidak seperti nabi, atau gunung nya yang tanggapan akan rangsangnya hanya diam, ngapain juga ngrespon manusia gak penting (misalnya).

Lebih lagi, gunung ternyata bisa 'beribadah' atau bertasbih mengagungkan nama Allah. Hanya kita yang kadang tidak tahu atau kurang peka akan tasbih mereka.

Dalam surah al-Anbiyaa, ayat 79, Allah menyatakan, “Dan sudah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama (Nabi) Dawud.” 


Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). dan dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS Al Hadid: 1).

Bukankah semua makhluk ditanya siapa yang bisa mengemban amanah sebagai Khalifah? gunung menjawab tidak mampu, Bumi, Langit, malaikat juga demikian. Ini kan artinya di hadapan Allah mereka ini hidup? ya kan?.

“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah (yaitu menjalankan perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan meninggalkan seluruh larangan-Nya) kepada seluruh langit dan bumi serta gunung-gunung. Maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu banyak berbuat dzalim dan amat bodoh. ” (Al-Ahzab: 72)

Kok saya jadi teringat tujuan penciptaan, 

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (QS. Adz Dzariyat: 56).

Asal kata Beribadah/menyembah akar kata bahasa arabnya bisa diartikan hamba, atau budak, benar benar patuh dengan majikannya, kalau tidak nurut ya bisa jadi kena hukuman. Poinnya, saya pikir indikator Khalaq/Makhluq adalah jika ciptaan/makhluk itu menyembah penciptanya, bukan ciri-ciri biologi seperti yang kita yakini. See?

Sebagai konklusi, misalnya kita mau paksakan dengan ciri biologis tadi, sebut saja reproduksi, gunung juga bisa beranak kan? anak krakatau contohnya, atau puncak kawah muncul di sisi gunung lain menjadi gunung baru seperti kasus banyak gunung-gunung di Indonesia. 

Bernafas, mengeluarkan zat sisa, tumbuh berkembang, masih masuk kategori ini. Mungkin tidak bisa semuanya tapi dari dalil-dalil naqli diatas kita bisa percaya kalau gunung juga hidup. jadi please jangan bilang lagi saya gila kalau sering bercakap-cakap dengan gunung.

Salam ceracau








0 komentar:

Copyright © 2012 Menceracau.com.