International Relations for Muallimin: Upaya Memeluk Utopia

Dubes Inggris, Moazzam Malik Saat Berkunjung dan Menginap di Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta

Di Milad Muallimin yang hampir satu abad ini gaung yang akan diteruskan pada setiap orang yang datang adalah tentu tentang 'Muallimin Quantum Change to be Better'. Kita semua tentu telah akrab, siapapun yang milad (anniversary), pasti akan diberi selamat, kemudian diminta make a wish tentang apa yang akan dicapai di masa depan. Diberi hadiah. Baru kemudian kalau yang bersangkutan sempat ingat, merefleksi diri adalah pilihan yang bijak untuk memanfaatkan momen itu.

Namun direksi 'Muda' Muallimin tidak perlu diingatkan dulu untuk merefleksi apa yang telah dicapai sekolah ini selama 98 tahun, khususnya beberapa bulan ke belakang. Kalau ada kesempatan untuk Show off, menjadikan refleksi itu sekaligus mempertegas pencapaian, kenapa tidak. Baik, mari membahasnya perlahan-lahan.     

Belum lama ini Muallimin mulai menjajaki pelaksanaan Mubaligh Hijrah di negara-negara ASEAN lain setelah Ramadhan kemarin telah mengirimkan santri-santrinya ke negeri Jiran, Malaysia untuk berdakwah 20 hari di sana. Tidak lama berselang, kesempatan yang sama ke negara Australia juga mulai dirintis untuk kemungkinan adanya Student atau Teacher Exchange ke sekolah partner di sana.

Yang cukup hangat adalah kunjungan kenegaraan, coutessy call di bulan September lalu, 4 Anggota Parlemen dari partai oposisi terbesar di Malaysia yaitu Democratic Actioner Party (DAP) termasuk Mr. Liem Kit Siang, Dewan Eksekutif Partai DAP dan Kedatangan Dubes Inggris untuk Indonesia Moazzam Malik dan staff beserta British Council ke pesantren kita November kemarin, Sampai bahkan menginap dan membicarakan rencana kerjasama akademik antara Madrasah dengan brother/sister school di Inggris.  
Kunjungan-kunjungan tersebut punya latar belakang masing-masing, Lim Kit Siang dan staffnya datang untuk mendapatkan prespektif berbeda tentang islam di Indonesia, khususnya islam di ponpesnya Muhammadiyah. Sedangkan Dubes Inggris datang karena terkeesan dengan kegiatan Adam Aslan, Mahasiswa exchange dari Inggris yang tinggal sebulan di Muallimin, Jadi Pak Moazzam yang kebetulan juga muslim, ingin merasakan suasana pesantren juga. 

Tentunya dengan datangnya orang-orang penting ke Madrasah kita, ada buah baik yang kita harapkan, ada kesempatan 'membawa bola' perubahan (quantum change) tadi yang seharusnya direspon semua elemen di madrasah termasuk santri dan alumninya untuk sama sama meng-goal-kannya menjadi perbaikan positif untuk Muallimin (to be better).

Saya katakan, ibarat fatamorgana atau apalah, impian lompatan besar Muallimin beberapa tahun mendatang termasuk kampus Sedayu boleh dikatakan sebagai sesuatu yang hanya akan diketahui kenyataannya jika kita menyongsongnya. Ya, hanya ibarat fatamorgana yang baru akan kita tahu bukan hujan/oase penuh air jika kita benar-benar mendatanginya. Mendekat. Karena siapa tahu memang ada oasenya, toh kita tidak ada pilihan lain selain mencoba mendekati kemungkinan itu sebelum kita akhirnya kehausan, atau kehabisan tenaga menggali sumur dibawah kaki kita, lalu kalah dengan menjamurnya pesantren Muhammadiyah lainnya yang juga kompeten dalam berbagai bidang. 

Maksudnya, Muallimin sudah seharusnya semakin maju termasuk dalam hubungan internasional. Alhamdulillah belakangan saya dengar ada santri Muallimin dan beberapa Muallimat yang bisa AFS (Pertukaran Pelajar) ke Italia dan luar negeri lainnya. Zaman saya MA, siswa-siswi SMA 1 Kasihan Bantul itu sudah AFS kemana-mana termasuk Australia yang paling dekat. Artinya kita telat 7 tahun dalam menyambut hal-hal itu.

Kenapa hal ini menjadi penting? Bayangkan. Muallimin berinvestasi lalu bertekad untuk menjadikan lulusannya menjadi anak panah, dai-dai, pemimpin-pemimpin, pendidik, orang besar, yang kalibernya nasional, tapi kekeringan grassroot understanding dan wawasan internasional. Apa iya kita masih percaya impian Kyai Dahlan akan termanifestasikan kalau usaha-usahanya tidak dicapai?

Saya ambil contoh kedatangan Dubes Inggris kemarin, karena kebetulan saya ketua panitianya saya paham betul perasaan semua santri yang dilibatkan dalam penyambutan, HW, TS, fotografi bahkan santri biasa asrama 1. Setelah saya wawancarai, beberapa bahkan ada yang 'merinding-merinding' campur semburat bungah-bangga diwajahnya karena sekolahnya di kunjungi, dan mereka tampil memberi hormat, persembahan seni, yel-yel dengan tulus hati. Jarang sekali saya temui situasi semacam ini. 

Pagi hari berikutnya, karena ada ambassadorial lecture wawasan mereka terbuka tentang masyarakat internasional, persaingan global, mereka sempat bertanya tentang menangani islamophobia, kasus Ahok, bagaimana menjadi ambassador (duta) islam yang berkemajuan, bahkan tentang hal sepele meminta cerita beliau tentang bagaimana caranya menjadi dubes. 

Artinya santri-santri mendapat value, dan itu cukup penting, termasuk kesadaran akan posisi strategis sekolahnya yang diperhitungkan oleh tokoh-tokoh internasional. 

Dalam dunia pendidikan, value selalu menjadi hal yang penting ditanamkan pada peserta didik. Sikap ilmiah misalnya, keterbukaan, integritas, semangat berkerja sama, sangat di butuhkan untuk masa depan mereka, juga bagi negara, karena merekalah tulang punggung negara di masa yang akan datang. 

Mari mengambil contoh global issues; bencana alam, perubahan iklim, penyakit menular, terorisme. Semuanya tidak mengenal batas negara. Kenyataannya hingga sekarang, tidak ada satu negara pun yang bisa menyelesaikan masalahnya sendiri, masalah diatas, apalagi masalah negara lain. Bahkan Amerika sekalipun tidak mampu. Oleh sebab itulah diperlukan kerjasama antar negara. 

Untuk itu, untuk mempersiapkan diri dan menjadi warga internasional (MEA udah kecium baunya) yang baik, adik-adik kita perlu punya international mindset. Bagaimana caranya? ya pertama harus bisa komunikasi dengan bahasa internasional, Arab dan Inggris. Nah ini kita sudah usahakan. 

Kedua, mencari kesempatan untuk belajar (dalam arti luas) ke luar negeri supaya mengerti dan mencoba memahami perbedaan dan masalah yang masing-masing negara hadapi. Harapannya supaya terbangun personal atau ya, mutual understanding. Selanjutnya, mereka perlu dibekali kemampuan mencari pengetahuan, passion menuntut ilmu, hasrat membaca-nya harus kuat. Karena untuk menyelesaikan masalah, mencari solusi, tidak bisa dibeli dengan uang, apalagi dengan senjata. Untuk itu mengajari mereka menjadi bagian dari solusi adalah keharusan. 

Lebih lagi, Penting untuk mencari pendekatan yang peaceful yang mendamaikan, yang inklusif. Jadi mereka (santri) perlu punya teman yang banyak, yang beda gender, yang beda suku, yang beda agama, yang dari luar negeri, supaya koalisinya banyak, ilmunya banyak, dan kesempatan/rejekinya banyak. Termasuk kemampuan mencari persamaan yang bisa dikolaborasikan dan bisa mensupport mempertahankan 'pertemanan' itu jika terjadi masalah di masa kemudian.

Terakhir, santri perlu belajar menyadari kewajibannya menjadi muslim yang baik lewat ucapannya, tulisannya, dan punya keberpihakan positif pada agamanya. Mereka perlu belajar menjadi duta muslim yang baik. Yang penuh cinta, penuh rahmat.
Yang bisa menjelaskan isu ekstrimisme sebagai bagian dari pikiran/pemahaman yang sempit dari Islam. Yang bisa mengatakan itu (terorisme) kriminal, bukan islam. 

Belajar menjadi duta muslim yang damai dan tidak mudah gelap mata lah, tidak mudah tersulut api. Jangan sampai kemarahan mereka menjadikan mereka menutup mata dari keadilan, bahkan bagi non muslim sekalipun. 

Bukankan Sayyidina Ali pernah berperang lalu ketika duel dengan orang kafir (Amr bin Abd Wad) lantas diludahi, beliau justru tak jadi membunuhnya karena ia tak mau membunuh orang lain karena kemarahannya, bukan karena Allah SWT. 

Nilai itulah yang sangat sangat perlu terinternalisasi di kepala dan dada adik-adik santri kita di Muallimin. Oleh sebab itulah melalui tulisan ini saya pribadi mengajak teman-teman, kakak-kakak alumni yang memiliki relasi internasional mohon dihubungkan juga kepada ibu kedua kita Muallimin. 

Sebagai penutup, segala bentuk kesempatan yang memperbesar kemungkinan itu, semua akses yang dapat memperluas lengan untuk memeluk impian besar itu, akan sangat membantu adik-adik kita menjadi the next Alfian Darmawan nya Muhammadiyah, the next Buya Syafi'i-nya bangsa ini. Lalu sampai hal-hal utopis tak lagi sulit kita peluk.    


Liem Kit Siang memberi Quotes untuk santri Muallimin 
Mr. Moazzam Malik sarapan bersama santri santri di Dapur Muallimin
Penandatanganan 'sesuatu' di ruang direksi-guru baru Muallimin
Foto Bersama di depan gedung utama Muallimin
Statemen Kepuasan dubes inggris setelah menginap dan merasakan atmosfer pesantren di Muallimin




      

0 komentar:

Copyright © 2012 Menceracau.com.