Yuk Nulis Lagi: Rebuttal Tulisan Adik Tingkat

Komitmen saya untuk menghadirkan gambar untuk icon posting yang asli dari jepretan kamera saya

Dulu sekali waktu saya suka nulis puisi lalu mengirimkannya ke media cetak, menulis opini untuk menafkahi diri, atau menulis artikel apapun supaya terlihat keren, saya pernah bermimpi akan punya novel, punya istri penulis, lalu punya anak sastrawan.

Hingga sekarang, keinginan itu menyeruak lagi, membawa saya kembali pada lamunan: Bagaimana mau punya novel, blog sendiri saja lama tidak di update tulisannya, bagaimana mau punya istri penulis, membaca untuk menulis saja saya jarang lakukan, menulis untuk mading saja saya dinilai tidak niat, yang akhirnya tulisan itu tidak dimuat di mading sekolah.

Malu rasanya dengan adik-adik tingkat saya yang rajin menulis di blog, viewersnya banyak, analisisnya cukup tajam, diksinya keren. sama sekali bukan gambaran saya yang dulu. yang polos, yang sok puitis. silahkan boleh cek tulisan mereka di JurnalGee atau AprilPagi.

Mulai sekarang saya berniat menyederhanakan hal diatas menjadi sebuah komitmen. Membaca untuk menulis, menulis untuk menginspirasi. Karena hanya ada dua cara menjadi penulis yang hebat; memperbanyak membaca buku/bacaan berkualitas dan latihan menulis setiap hari.

Dan waktu yang kondusif biasanya kalau bagi Darwisy tere liye itu setelah subuh dan setelah maghrib. dan ternyata berlaku juga buat saya, fokusnya lebih kuat. Dan satu lagi, jangan menulis setelah makan, biasanya kalau sudah kenyang jadi goblok. Maksudnya, konsumsi oksigennya akan dialihkan ke lambung dan teman-temannya untuk proses pencernaan yang butuh cukup banyak energi ATP, jadinya otak kekurangan oksigen, gagal fokus deh. ngantuk.

Nah sekarang masuk bagian rebuttal-nya, ada tulisan-tulisan sederhana yang ditulis dengan antusiasme yang baik dari adik tingkat juga, di blog masaqin.com tentang bahasan lama. Merokok dan gengnya. Saya apresiasi untuk antusiasmenya.

Tulisan sebelumnya, masih tentang Merokok yang dia bangga sekali punya kebiasaan itu--dia sebutkan di tulisan-tulisan lainnya, --mungkin juga dia anggap keren, --walaupun dia tau bibirnya menghitam karena itu--, sudah pernah saya bahas dan jadikan diskusi searah sesaat setelah pemberian quotes ba'da maghrib tentang analogi yang salah tentang "merokok gak merokok sama-sama mati. merokok sama bahayanya dengan nasi, gula dll".

Ya saya tanggapi datar saja dengan teori toksikologi "dosis sola facit venemum" analogi sederhana kalau nasi itu tidak bisa disamakan dengan rokok, nasi ibarat pelet yang diberikan ekosistem akuarium lengkap. Sedang rokok karena undegradable, ibarat batu yang dimasukkan akuarium, lama lama merusak, penuh batu, kalau pelet kan masih bisa termakan ikan atau kotorannya tersaring aerator. tidak lupa saya selipkan jokes-jokes juga ke adek-adek yang jadi anak didik saya di pesantren.

Eh, seperti surat-suratan jaman SMA, diskusi searah tadi di balas di postingan blognya, saya tidak banyak pusing berpikir kalau sobat ceracau ada yang bertanya kenapa sibuk perlu di respon urusan kecil begitu?, yang terlintas di kepala saya hanya: satu, sebenarnya saya peduli. Dua, kalau saya bisa membantu, ya, hanya membantu, menyadarkannya untuk tidak lagi merokok karena sadar akan banyak hal negatifnya dibanding positifnya, (yang ini jelas dan undebatable). Ya kenapa tidak?.

Paling tidak besok di masa yang akan datang kalau dia sempat menyesali kenapa dulu bela-belain merokok demi motivasi yang gak jelas, dia ingat dulu pernah ada kakak tingkatnya yang ngeluangin waktu nulis buat nanggepin tulisan dia. Simple ya kan? Apa sih yang gak dilakuin buat adek sendiri. kkkkk

Di tulisan itu, kalau sobat sudah baca, dia memaparkan dampak positif rokok yang dia comot dari tulisan entah siapa, jurnal siapa, beneran dia baca apendix jurnalnya juga saya gak tahu, ya kalau main comot mah ponakan saya yang baru masuk playgroup juga bisa. Di paragraf akhir tulisannya, yang saya hanya anggap itu argumentasi dia, dia justru mempertanyakan kenapa riset atau artikel apalah tadi itu kenapa tidak dipublikasikan secara luas supaya mendukung promosi rokok? dih, dia sendiri gak yakin.

Karena memang, bisa jadi, penelitian itu kurang valid (udah cek ISSN atau nomor jurnal (kalau jurnal) belum?), atau ya, namanya penelitian di suatu tempat belum tentu berhasil sama di tempat lain, faktornya banyak, atau bisa jadi memang perusahaan rokok tidak percaya diri untuk mem-publish-nya karena takut mendapat respon dari peneliti yang penelitiannya bilang sebaliknya (rokok bahaya).

Jadi daripada kena cemoohan, mendingan stick pada bahan promosi cowok tajir banyak ceweknya atau pemuda yang hobby petualangan, atau anak motor, yang sama sekali gak ada hubungannya sama produknya. Tapi juga yang objek promosinya gak ada otak, ya gak papa lah gak ada hubungannya. Mungkin gitu.

Eee.. selanjutnya dia malah ngomongin kalau propaganda anti rokok oleh (Depkes RI, Badan POM, dan temen-temen arisannya) itu perlu dicurigai sebagai upaya mendongkrak penjualan obat-obatan dan farmasi? liyer euy? obat-obatan mah gak perlu nge-black campaign rokok juga tetep bakal laku selama manusia hidup masih bisa sakit.

Duh duh.. mencurigai juga perlu sadar pinteran siapa kan? dokter-dokter dari depkes RI atau antek perusahaan rokok?

Pertanyaan saya kenapa malah justru memaparkan hal positif tentang rokok, kenapa tidak sanggah saja analogi atau bahasan saya di diskusi searah waktu itu?  jadi kalau dalam teori debat misalnya saya ngomong A, harusnya di rebuttal jadi A- (bukan A) ini dia malah jawab B (hal lain).

Atau jangan-jangan memang sebanarnya analogi saya benar? dan dia sebenarnya juga sadar itu benar?.

Merokok beneran bisa membunuhmu lho, kalau gak sekarang ya bisa jadi besok. ngapain meningkatkan kemungkinannya dengan terus merokok sama bergaul deket2 asap rokok?. Lagian juga uang juga masih dikasih orang tua kok di bakar cuman buat rokok yang kering akan manfaat, kalau analoginya ada orang ngebakar duit bakal dibilang 'gila' kenapa bakar rokok engga dibilang gila? Kan sama aja. Lebih gila malah, asepnya di isep.
Itu idung apa kenalpot bajai? Hati-hati pilih sisi untuk di dukung/dibela, sama juga kaya hati-hati pilih teman. Ngapain capek-capek ngebela kalau tau apa yang dibela cenderung salah ketimbang abu-abu.

Yuk belajar lagi, kenali fisiologi tubuh sendiri, jangan racuni demi terlihat macho, sayangi diri, sayangi istri. Lho?.

Baca juga:
QS. Albaqarah: 195, Nonton ini, juga ini.

Salam ceracau

4 comments:

  1. coba suruh di revisi dulu tu tulisan si adek tingkat sama pak tj 😂😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener bgt cuuyyy.. ya, namanya juga adek tingkat..

      Tapi usahanya nulis n manufacturing webnya keren dit.. ada web dia punya satu lagi, soal musik tapi.. jelas rame

      Delete
  2. "Ngerokok mati ga ngerokok mati", Semacam... "Gausah makan ntar juga laper lg" 😂👌

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semacam "ngapain serius2 kuliah kalau serius gak serius juga tetep lulus" gitu ga si cuy?

      Delete

Copyright © 2012 Menceracau.com.