Etos Belajarnya Penuntut Ilmu

Ust. Ridwan Hamidi, Lc. di antara santri kelas 6 Muallimin


Rabu, 11 Oktober 2017 : 02.30 AM

Halo! Sekarang pukul 2.30 AM dan saya udah nggak bisa jatuh tertidur lagi. Setelah tadi jam yaa.. Jam delapan-ish tidur lebih awal, bangun sekitar jam 01.00 an. Wudhu, Sikat gigi, cuci muka terus witir, kelarnya udah banyak mikir dan ngebayangin banyak hal. Otak udah penuh tuh ama pikiran-pikiran. Udah nggak bisa lagi diistirahatkan.

Nah, Satu yang bikin kepikiran itu nasihatnya Ust. Ridwan Hamidi, Lc. Ustad kondang, alumni Muallimin juga,yang tadi maghrib menyempatkan diri mampir sebentar dari jeda maghrib sampai isya untuk ngasih nasihat ke adik-adik kelas 6 aliyah di asrama 10. Padahal lepas Isya beliau harus sudah ke airport lagi untuk agenda besok ngisi di Jakarta dari pagi sampai sore bareng dengan ustad-ustad kenamaan lainnya kaya Ust. Bachtiar Nasir dkk untuk presentasi paper atau lainnya. Maghribnya lagi (besok) harus sudah ngisi di Jogja lagi. jadi begitu turun di airport Jogja, langsung cus ke Masjid yang di tuju (gua lupa nama masjidnya apa, tadi soalnya cuma ngobrol sebentar). Oke, intinya beliau sibuk banget. Nggak tau lagi deh gimana beliau bisa jaga kesehatannya dengan agenda se-padat itu.

Beliau intinya diminta oleh pamong asrama, atasan kami, musyrif di asrama, ustad Anton, untuk memberikan motivasi ke adik-adik untuk giat belajar karena sudah kelas 3 SMA (kami nyebutnya kelas 6 karena lanjut hitungannya dari kelas 1 SMP). Bentar lagi kuliah. Harus lulus UN dan ujian masuk ke Perguruan Tinggi. 

Ustad Ridwan menyampaikan bahwa ulama-ulama salaf (yang terdahulu) itu etos menuntut ilmunya luar biasa. Sebut saja Imam Nawawi yang dalam sehari menghadiri 12 majelis ilmu yang berbeda, di tempat yang berbeda-beda pula. Tidak mau terlambat dari satu tempat ke tempat lainnya hingga harus berjalan hingga berlari. 

Dikisahkan pula ada 3 orang imam yang tinggal dalam satu rumah sewaan saat menuntut ilmu. Kalau sekarang beliau ibaratkan sebagai rumah kos, salah satunya adalah figur imam terkenal (saya lupa namanya, lagi) karena sudah lama nggak makan ikan, maka paginya selesai menghadiri suatu majelis ilmu, Ia mampir ke pasar untuk membeli ikan. Benar saja begitu sampai di rumahnya, Ia harus segera mengejar majelis lainnya untuk dihadiri, entah kapasitasnya sebagaipemateri atau lainnya. Hari berganti dan rutinitasnya juga kembali demikian, menuntut ilmu keluar rumah. Hari berikutnya juga demikian, hingga akhirnya ikan itu dimakan seadanya. Artinya orang yang serius jihad fii sabilillah dalam menuntut ilmu itu, masak saja bahkan tidak sempat. padahal ada 3 orang lho dalam satu rumah itu. Coba kita bayangkan.

Di satu sisi yang lain beliau kaitkan dengan kondisi perantau dan pencari ilmu kita (mahasiswa, dll) di dalam negeri atau di luar negeri, yang sampai bisa masak makanan macam-macam, hangout nongkrong sana-sini. Beliau pikir, kapan belajarnya? Alangkah banyak waktu senggangnya?. Alangkah banyak waktu yang harusnya bisa dialokasikan untuk menuntut ilmu tambahan ya? buakankah pak BJ. Habibie juga bahkan tidur saja di meja belajarnya. sempat hanya tidur 2-3 jam di malam hari. Amin Rais, Buya Syafi'i Maarif yang rutinitas bacanya 18 jam lho sehari.



Dari khazanah yang beliau sampaikan tadi setidaknya saya bisa melihat 3 ciri atau karakter seorang thaalibul ilmi (Penuntut Ilmu) yang bersungguh-sungguh dalam upayanya: 
1. Waktu tidurnya kurang 
2. Tidak banyak mengeluh 
3. Jarang makan enak  

lebih lanjut ust Ridwan menjelaskan bahwa Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyah pernah berwasiat bahwa sebenarnya jika kita sudah memiliki karakter-karakter baik dari ciri penuntut ilmu yang kamil (sempurna); cerdas, rajin, tekun, teliti, pekerja keras, punya curiosity yang tinggi, walau bagaimanapun, ilmu yang akan didapat hanya sebagian. Nggak bulat sempurna. Nah, bayangkan kalau kita sudah tidak cukup cerdas, masih malas, kurang tiliti, bukan petarung-pekerja keras, maka mau hanya se-per berapa bagian ilmu yang akan kita dapat?
   
Jadi mari kita renungkan bersama. Berapa banyak jumlah menit yang kita habiskan dalam belajar? Berapa banyak waktu tidur kita? Berapa banyak sudah kita alokasikan waktu untuk berdoa supaya sebagian kecil ilmu yang kita dapat itu menjadi barokah dan bermanfaat bagi sesama? Sudahkah kita cukup bekerja keras? Cukup 'sengsara' sebagaimana kuatnya etos belajar ulama-ulama salaf (terdahulu) yang bahkan hanya sekali membaca 100 hadist (Bukhari), 40 hadist (Muslim), bisa langsung hafal?. 

Bahkan masih banyak ulama lain yang di zaman ini lho (kebanyakan ulama dari Syinkith, Mauritania-Afrika) yang hafalannya luar biasa. Seluruh dunia mengakuinya. Google saja kalau ndak percaya. Itupun ilmunya masih sebagian. Lha apakabar kita? Masih bisa sombong kah kita ini? 

Salam ceracau!      

0 komentar:

Copyright © 2012 Menceracau.com.